Unik, Suku To Balo di Barru tersisa lima orang ada batas maksimalnya

Suku To Balo, memiliki warna kulit belang, dan uniknya mereka memiliki adat hidup tidak melebihi batas maksimal

Terkini.id, Barru – Ada yang unik dari suku To Balo yang ada di Desa Bulo-bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru. Tidak seperti suku lainnya suku ini ternyata memiliki batasan tersendiri bagi mereka yang hidup di desa tersebut.

Batasan itupun bukan datangnya dari masyarakat setempat atau aparat desa setempat, tapi itu seakan menjadi sebuah hukum alam bagi mereka, karena kehidupan mereka di desa tersebut bagi suku To Balo ini tidak boleh lebih dari standar yang ada dan jika memang sudah mencapai jumlah maksimal, tentunya akan ada satu yang meninggal baru kemudian lahir lagi satu yang menyerupai dari suku ini.

Angka yang menjadi angka tertinggi dalam bilangan satuan ini, yakni sembilan menjadi ukuran maksimal suku To Balo yang ada di Desa Bulo-bulo, namun kondisi ini kini semakin kecil, karena sejumlah suku To Balo yang ada di desa tersebut ada yang meninggalkan kampung halaman untuk merantau, sehingga totalnya saat ini hanya tersisa lima orang saja.

Ada yang unik dari suku To Balo yang ada di Desa Bulo-bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru. Tidak seperti suku lainnya suku ini ternyata memiliki batasan tersendiri bagi mereka yang hidup di desa tersebut.
Foto : Istimewa

Menurut Kepala Desa Bulo-bulo, Rahman, mengatakan kalau suku To Balo ini sendiri maksimalnya hanya ada sembilan orang, dan jika sudah mencapai jumlah maksimal dan biasanya jika lebih ada salah satu warga suku tobalo yang meninggal baru kemudian orang tua dari suku ini melahirkan lagi anak yang berbentuk mereka.

“Selama ini ada terus ji nahasilkan anak To Balo dari pernikahan berbeda suku, tapi tidak banyak tassatuji. Karena kembali lagi jumlah maksimal mereka di Desa itu hanya ada sembilan orang, sehingga jika mereka menghasilkan anak yang semuanya sama pastinya akan menghilangkan mitos yang ada pada mereka kalau maksimal mereka itu hanya sembilan, karena mereka kadang menghasilkan anak empat sampai lima orang,” katanya.

“Bahkan kadang juga anaknya nanti lahir memiliki kulit dengan warna berbeda setelah ada salah satu dari suku ini dengan kulit dua jenis warna yang meninggal. Jadi tidak selamanya kelahiran anaknya itu keluar sesuai dengan warna kulit suku dan orang tuanya,” pungkas Rahman.

Bahkan menurut Rahman, populasi dari suku To Balo dari maksimalnya sembilan orang, kini hanya tersisa lima orang saja dari yang ada di Desa tersebut, hal itu karena adanya imigrasi dari desanya dan ada sejumlah warga To Balo yang juga melakukan perantauan sehingga populasi mereka semakin sedikit.

“Ada yang sedang melakukan aktivitas di luar desa, dan bahkan ada yang hingga merantau sehingga kondisi mereka semakin sedikit akibatnya sekarang ini mereka hanya tersisa ada sebanyak lima orang,” pungkasnya.

Kehidupan pernikahan mereka dari suku To Balo ini tidak mesti juga harus menikah dengan sesama sukunya, tapi ada juga beberapa yang melakukan pernikahan dengan suku lainnya, seperti suku masyarakat biasa.

“Kalau persoalan pernikahan mereka juga kadang melakukan pernikahan di luar satu sukunya, dan dari pernikahan itu ada yang menghasilkan anak To Balo, tapi untuk jumlah anaknya yang bersuku To Balo itu hanya tassatu,” jelasnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini