Urgensi Satgas Penyelamat Pendidik dan Guru Besar

Terkini.id – Di Hari Kemerdekaan ini, bagaimana kalau pemerintah kita usul untuk membentuk Satgas Khusus Pelindung Guru dan Dosen, Doktor dan Profesor? 

Kita tentu paham tidak mudah jadi guru dan dosen di Indonesia. Apatahlagi jadi pendidik hingga jenjang Doktor dan Profesor. Butuh kemampuan dan kapasitas di atas rata rata. Guru/pendidik (termasuk dosen hingga para Doktor) dan Guru Besar (sering digelari Professor) bukanlah manusia “kaleng–kaleng”, mereka adalah manusia langka bin istimewa. 

Mau jadi pendidik dan guru besar pun, belum tentu orang kebanyakan mampu. Ada seleksinya, ada prosesnya, banyak tantangannya mulai dari kemampuan akademik, kesabaran sistemik, hingga ketahanan energik untuk bersedia hidup sederhana jika ingin istiqomah. Itu nasib pendidik dan guru besar di Indonesia hari ini. 

Baca Juga: Media Sosial dan Warna-warni Kemerdekaan

Bahkan, perannya sangking pentingnya digelari pahlawan tanpa tanda jasa. Dulu dikesan begitu heroik. Sekarang kesannya kasian sekali. Artinya, siap–siap diabaikan di tengah gelimangan harta para pejabat kaya dan mewahnya konglomerat yang surplus konsesi.

                                           ****

Baca Juga: 43 Dewan Guru Besar UI Desak Jokowi Cabut Revisi Statuta...

Lantas bagaimana nasib para pendidik dan guru besar ini di masa pandemi virus korona di Indonesia? Sudahkah mendapat perlindungan serius nan khusus? 

Bukan untuk mereka sendiri dan keluarganya. Tapi untuk keselamatan pendidikan dan masa depan bangsa dan negeri ini. 

Nyatanya, jejeran poster ucapan duka cita dan belasungkawa nyaris tiap hari hadir di media sosial dan grup grup WhatsApp  dosen dan alumni. Artinya, makin banyak dosen dari berpendidikan Magister hingga Professor yang gugur selama pandemi ini. 

Baca Juga: Usai Bertemu Guru Besar, Wali Kota Makassar Ajak Mahasiswa dan...

Para guru entah bagaimana nasibnya. Baik yang meninggal karena covid-19 ataupun karena dampak bawaannya (tidak dapat dirawat karena RS penuh dsb). Atau faktor turunan lainnya. 

Ketimbang hanya anggota Dewan (yang “konon” terhormat) itu dan pejabat meminta atau diberi “privelege” selama pandemi ini agar selamat, bukankah lebih penting juga menyelamatkan para Guru, Dosen, dan Guru Besar ketimbang anggota Dewan dan pejabat itu? 

Kalau Anggota Dewan mati, dengan cepat akan ada PAW, antrian penggantinya panjang.Tidak perlu pendidikan khusus. Kalau pejabat tewas karena Covid, para kompetitornya justru bisa jadi diam-diam senang, karena sebentar lagi bisa mengganti. 

Dalam hitungan jam, pengganti Anggota Dewan dan pejabat bisa didapatkan dengan mudah kalau tewas diserang covid selama pandemi ini. Tapi, kalau Guru, Dosen, dan apalagi Doktor dan Guru Besar/Professor, tidak semudah itu. 

Biaya dan proses menghasilkan tenaga pendidik (sebagaimana tenaga kesehatan); Guru Dosen Doktor dan Professor tidak sedikit dan tidak sebentar. Makanya perlu dilindungi, jika perlu lebih dilindungi dari Anggota Dewan dan Pejabat demi menyelamatkan pendidikan Indonesia ke depan. Itu kalau pemerintah sekarang berikut masyarakatnya mampu melewati ujian pandemi covid-19 ini dengan selamat walafiat. 

Seorang Dokter bergelar Professor ataupun dokter Spesialis yang Ahli di bidang tertentu, misalnya, adalah manusia langka. Termasuk para Guru, Doktor dan Professor di bidangnya masing -masing. 

Menemukan orang  berkemampuan akadmeik demikian dan kerelaan mengabdi tak mudah. Ada ditemukan orangnya lagi, belum tentu mau. Mau lagi belum tentu biayanya tersedia. Jadi seleksinya tiga kali; kapasitas, loyalitas dan isi tas. Sangat sangat tidak mudah. 

Negara mesti melihat ini jauh lebih penting dari sekedar yang lain-lain. 

Sekali lagi, jika negeri ini ingin pendidikannya, yang sudah makin tergopoh-gopoh ini, selamat hari ini dan ke depannya, sudah saatnya pemerintah memberikan prioritas perlindungan kepada guru dosen doktor dan professornya. Guru dan guru besar mesti mendapat perhatian dan perlindungan serius selama pandemi ini. 

Jangan sampai guru dan guru besar Indonesia bernasib sama dengan tenaga kesehatan dan ahli kesehatan; berguguran dan akan semakin sulit mencari gantinya. 

Semoga refleksi 76 tahun Merdeka di tengah pandemi ini bermanfaat dan mendapatkan perhatian lagi tindak nyata di lapangan. 

Kita tidak ingin kehilangan para guru dan professor bangsa ini, bukan? 

Menyelamatkan guru dan doktor-professor adalah menyelamatkan pendidikan Indonesia. Hari ini dan hari depan pascaperang.

Bukankah juga selepas perang dunia, kaisar Jepang, yang dicari pertama kali adalah para guru dan guru besarnya, bukan? 

Itu ciri bangsa dan negeri yang besar. Mengetahui arti penting peran pendidiknya. Kenapa tidak meniru praktik baik itu. Mulai sekarang. Di hari merdeka ini. 

Hari di mana semoga kita berikhtiar merdeka 100% dari penjajahan dan kebodohan yang sesungguhnya. Merdeka karena merdeka hari ini telah kembali menjadi doa.

Bagikan