Video Ngaji Felix Siauw Dikritik Ulama NU: Belajar Dulu Baca Alquran Sebelum Jadi Ustaz

Kesalahan fatal lainnya, kata KH Ishomuddin, Felix telah mengurangi dua kata dalam satu redaksi di ayat 1 QS al-Jumu’ah tersebut.

“Kesalahan fatal lainnya, Felix telah mengurangi dua kata dalam satu redaksi ayat di atas, yaitu satu kata benda “ma ” dan satu huruf jarr/ preposition” dalam kalimat yang lengkapnya adalah “wa ma fil-ardli, sehingga menjadi wal-ardli,” ujarnya.

“Padahal, membaca al-Qur’an dengan benar itu wajib, sehingga bacaan yang sebaliknya seperti mengurangi satu huruf saja (nuqshan al-harfi) dari ayat al-Qur’an atau menambahinya satu huruf (ziyadat al-harfi), menukar satu huruf dengan huruf lainnya (tabdil al-harfi bil-harfi), atau merubah beberapa harakat dan sukun (taghyir al-harakat wa al-sakanat) itu terkategori sebagai kesalahan fatal atau al-khatha’ al-jaliy, yang jelas hukumnya haram,” jelasnya.

Selain itu, lanjut KH Ishomuddin, kekeliruan Felix yang lainnya terkait bacaannya atas Qs. al-Jumu’ah ayat 1 sepertinya karena ia sama sekali tidak memahami tata Bahasa Arab, terutama ilmu dasar yaitu Ilmu Nahwu/sintaksis dan Ilmu Sharf/morfologi.

“Felix agaknya tidak paham Ilmu al-Sharf, sehingga ia tidak mampu membedakan mana ayat al-Qur’an yang diawali dengan kata kerja bentuk lampau (fi’il al-madli) “sabbaha” dan mana ayat yang diawali dengan kata kerja bentuk sekarang atau yang akan datang (fi’il al-mudlari’) “yusabbihu”,” ujar KH Ishomuddin.

Menarik untuk Anda:

“Bagi siapa saja yang tidak benar-benar kuat hapalan bacaan al-Qur’annya, kedua kata kerja berbeda bentuk di atas berpotensi diletakkan bukan pada redaksi ayat yang tepat. Padahal kata “tasbih” di dalam al-Qur’an kadangkala ditulis atau dibaca dalam salah satu dari empat bentuk, yaitu al-mashdar seperti firman Allah, al-madli seperti, al-mudhari’ seperti firman Allah, atau al-amr seperti firman Allah ta’ala,” tambahnya.

Menurutnya, penyebab kekeliruan fatal dari Felix Siauw dalam membaca Qs. al-Jumu’ah ayat 1 adalah bahwa ia tidak mampu meng-i’rab, yakni tidak mampu menganalisis posisi suatu kata dalam rangkaian kalimat dengan tinjauan aneka ilmu kebahasaan demi memperjelas maknanya.

“Perubahan akhir sebuah kata dalam satu rangkaian kalimat sempurna itu disebabkan adanya perbedaan faktor yang menyertainya,” terangnya.

Hingga berita ini dibuat, unggahan kritikan KH Ahmad Ishomuddin terhadap ustadz Felix Siauw tersebut telah dikomentari puluhan netizen dan dibagikan sebanyak 794 kali.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Gaspool, KPK Kini Tangkap Wali Kota di Jawa Barat

Din Syamsuddin, Bachtiar Nasir hingga Tengku Zul Terdepak dari Kepengurusan MUI yang Baru

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar