Video Uang Kertas Difotokopi Viral, Hasilnya Mengejutkan! Begini Tanggapan Bank Indonesia

Terkini.id, Jakarta – Baru-baru ini sebuah video yang memperlihatkan uang kertas difotokopi viral di media sosial.

Video tersebut berdurasi 38 detik di mana menampilkan seorang pria yang mengenakan kemeja putih tengah memotokopi uang kertas pecahan Rp50.000.

Coba tebak? Hasilnya pun mengejutkan! Ternyata uang kertas berwarna biru itu tidak bisa difotokopi sama sekali, lho.

Alih-alih bisa difotokopi dengan mudah, justru malah muncul sebuah tulisan http://www.rulesforuse.org.

Video tersebut pun viral setelah diunggah ke media sosial TikTok dan disukai oleh sedikitnya 65 ribu pengguna dan ribuan komentar.

Menanggapi video yang viral itu, Bank Indonesia (BI) pun buka suara memberikan penjelasan terkait uang kertas rupiah yang tak dapat difotokopi.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Junanto Herdiawan, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa uang kertas memang tidak bisa difotokopi.

Menurutnya, hal itu karena sebagai bentuk pengaman dalam hal pemalsuan uang sebagai alat pembayaran.

“Iya, memang itu bagian dari unsur pengaman uang Rupiah kita agar tidak mudah dipalsukan,” jelas Junanto, dikutip terkini.id dari Kompas pada Rabu, 15 September 2021.

Junanto menambahkan bahwa hal tersebut ternyata sudah umum. Mata uang negara lain, seperti Dollar, Yen, Euro, serta lainnya di dunia juga tak bisa difotokopi.

“Mata uang itu juga tidak bisa di-copy dan di-scan.”

Lebih lanjut, Junanto mengatakan bahwa jika uang kertas difotokopi, maka akan muncul alamat link ke Central Bank Counterfeit Detterence Group (CBCDG).

Melansir Rulesforuse.org, setiap negara memang mempunyai batasan hukum masing-masing atas reproduksi gambar uang kertas.

Itu karena pemalsuan mata uang merupakan kejahatan. Bahkan, reproduksi gambar uang kertas untuk penggunaan artistik atau iklan dilarang keras di beberapa negara.

Di negara-negara yang mengizinkan penggunaan gambar uang kertas secara terbatas pun terdapat aturan dan persyaratan khusus.

Sementara itu, kerugian ekonomi masyarakat secara keseluruhan dari pemalsuan mata uang umumnya terbatas.

Korban yang paling dirugikan, yaitu individu dan bisnis. Sebab, tidak ada yang akan mengganti uang yang diterima jika uang kertas tersebut palsu.

Uang palsu juga dapat merusak kepercayaan terhadap sistem pembayaran, membuat masyarakat tidak yakin menerima uang tunai untuk transaksi.

Adapun sistem pencegahan pemalsuan (CDS) telah dikembangkan oleh CBCDG untuk mencegah penggunaan komputer pribadi, peralatan pencitraan digital, dan perangkat lunak dalam pemalsuan uang kertas.

CDS telah diadopsi secara sukarela oleh produsen perangkat keras dan perangkat lunak, serta mencegah komputer pribadi dan alat pencitraan digital menangkap atau mereproduksi gambar uang kertas yang dilindungi.

Teknologi ini tidak memiliki kapasitas untuk melacak penggunaan komputer pribadi atau alat pencitraan digital.

Bagikan