Makassar Terkini
Masuk

Wahai Pejabat, Jaga Mulut!

SAMBIL menikmati pergerakan kereta api bawah tanah (Subway) di kota New York saya mencoba membaca beberapa highlights (breaking news) baik domestik maupun di dunia global. 

Pada tataran global, Rusia saat ini secara membabi buta menyerang Ukraina secara masif.

India terus melakukan ragam kezholiman kepada Umat Islam. Uighur dan Rohingya masih dalam penderitaan panjang. 

Kashmir apalagi Palestina menuju masa depan yang nampak semakin kelam.

Dalam negeri tercinta Indonesia juga mengalami berbagai kekisruhan, tidak secara fisik. Tapi secara lisan, tulisan yang melibatkan emosi massa.

Terjadi peperangan dahsyat di dunia maya tentang banyak hal. Dari tuduhan membenarkan KDRT oleh seorang penceramah, pengharaman wayang juga oleh seorang da’i dan kounter wayang yang menghina da’i, hingga ke masalah pembesar suara dari masjid-masjid yang ingin diatur oleh Kementrian Agama RI. 

Dan semua itu terjadi di saat masyarakat mengalami tingkatan emosio dan sensitifitas yang kritis. Semuanya dipicu juga oleh banyak hal. 

Dari Pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir, tergantung “tendensi” (kecenderungan) menempatkannya (kadang naik, tiba-tiba biasa saja, lalu mendadak naik lagi). Hingga ke berbagai kebijakan publik yang dianggap semena-mena dari para pengambil kebijakan. 

Dari Mas’udi Omnibus Law, UU IKN, hingga ke meningginya harga minyak yang menghilang dari pasar secara mendadak. 

Dan runyamnya lagi karena di tengah situasi yang tidak menentu dengan suasana emosional itu, seorang pejabat tinggi negara memberikan komentar yang bagaikan menyiram bensin ke tengah kobaran api.