Wahdah Islamiyah Dukung Imunisasi MR

Wahdah Islamiyah mendukung pelaksanaan Imunisasi Measles Rubellla (MR) atau Campak Rubella, yang akan digelar Agustus-September 2018
Wahdah Islamiyah mendukung pelaksanaan Imunisasi Measles Rubellla (MR) atau Campak Rubella, yang akan digelar Agustus-September 2018

Terkini.id, Makassar – Organisasi Islam yang berbasis di Makassar, Wahdah Islamiyah, mendukung pelaksanaan Imunisasi Measles Rubellla (MR) atau Campak Rubella, yang akan digelar Agustus-September 2018.

Ketua Unit Kesehatan Departemen Kesehatan, Olahraga dan Lingkungan  Hidup DPP Wahdah Islamiyah dr Rudianto Jono menyebutkan, kampanye MR sangat bermanfaat bagi masyarakat. Khususnya bagi lembaga dan kader Wahdah Islamiyah yang tersebar di daerah.

Rudianto menegaskan, Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah Rahmat Abdurrahman mempersilahkan Dinas Kesehatan dan instansi terkait, yang hendak melakukan imunisasi di sekolah-sekolah atau pesantren naungan Wahdah Islamiyah.

Dalam kegiatan sosialisasi Kampanye MR yang digelar Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan dan Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat-Ilmu Kesehatan Keluarga (IKM-IKK) Fak. Kedokteran Universitas Hasanuddin, di hotel Same, Makassar, Sabtu lalu (21/7), diikuti sebanyak 120 kader Wahdah dari pengurus daerah Wahdah di bagian timur Indonesia.

“Semoga dengan kegiatan kampanye MR juga, bagi kader khususnya perwakilan dari daerah  dan wilayah timur Indonesia yang ikut dalam acara ini dapat menjadi penyambung pesan di wilayahnya masing,” ujar Rudianto, Rabu 25 Juli 2018.

Baca juga:

Sebelumnya dalam kegiatan sosialisasi program dan kampanye MR di hotel Same, Ustadz Ronny Mahmuddin, S.S., M.Pd.I., M.A. selaku Ketua Komisi Ibadah Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah sebagai pemateri memaparkan tentang Imunisasi dalam Tinjauan Islam.

Ustadz Ronny juga membacakan keputusan Dewan Syariah Wahdah Islamiyah terkait hukum imunisasi dengan vaksin yang mengandung najis pada proses pembuatannya.

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah berpendapat hukum asal penggunaan vaksin yang mengandung najis dalam imunisasi adalah tidak boleh. Namun jika najis dalam pembuatan vaksin tersebut telah terurai dengan sempurna sehingga tidak meninggalkan bekas atau tidak ada vaksin lain sedangkan penyakit yang dicegah adalah berbahaya hingga menimbulkan kematian atau cacat tetap dan kemungkinan terjangkitnya virus penyakit tersebut adalah besar, maka hukum penggunaan vaksin seperti itu adalah boleh.

Selain itu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi. Dalam beberapa pertimbangan pada fatwa tersebut, antara lain dinyatakan bahwa  Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Namun, vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci.

Adapun penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis hukumnya haram. Imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat; belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; dan adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

Komentar

Rekomendasi

Dukung Pengembangan Objek Wisata Mangrove Lantebung, Yusran: Kita Ajak Dunia Perbankan

Fachrul Razi: New Normal, Rumah Ibadah Wajib Kantongi Surat Bebas Covid-19

Hanya Andalkan Satu Tangan, Kakek Penjual Balon Ini Tetap Semangat Mengais Rejeki

Wah Kabar Baik, Pasien Sembuh Covid-19 Tembus Angka Tujuh Ribuan

Berikut Surat Edaran Kemenag Soal Aturan Kegiatan di Rumah Ibadah Jelang New Normal

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar