Wanita cantik ini pilih pulang kampung dibanding kerja di Silicon Valley Amerika

Crystal Wijaya (facebook)

Terkini.id – Namanya Crystal Widjaja. Perempuan berusia 27 tahun lulusan ilmu big data University of California ini Berkeley ini pantas disebut “Kartini Zaman Now”

Crystal Widjaja yang masih single itu memegang posisi penting di Go-Jek Indonesia: Senior Vice President Business Intelligence.

Sebelum di Go-Jek, Crystal sebenarnya punya karier yang bagus di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Tahu kan Silicon Valley, sebuah kota yang dikenal sebagai “ibukota” teknologi dunia, tempat bernaungnya perusahaan startup hingga perusahaan raksasa seperti Youtube, Google, Facebook, hingga Apple.

Namun, Crystal ternyata lebih memilih ke Indonesia, dan menjadi pengolah “Big Data” Go-Jek. Dia bersedia pindah dari San Jose, California, ke Jakarta.

Upayanya untuk pindah ke Indonesia dimulai saat Mei 2015, dia langsung menawarkan diri ke Go-Jek. Lalu kemudian diterima untuk mengisi unit business inteligence.

Jadi, satu minggu setelah itu, saya pindah ke Indonesia untuk Go-Jek,” kenang Crystal, seperti dikutip kumparan.com.

Padahal, meskipun keturunan Indonesia, Crystal sebenarnya lahir di Texas, 21 Mei 1991 silam, dan tumbuh besar di Amerika Serikat. Orang tuanya kelahiran Jakarta yang pindah ke negeri paman sam itu.

Baca :Di momen hari Kartini, Anak SD jadi dokter kecil ajak hidup sehat

Reverse brain drain

Salah seorang netizen, Bob Priyo Husodo, menilai, Crystal Wijaya ini merupakan contoh fenomena reverse brain drain. “Artinya, orang-orang brilian yang tadinya merantau ke luar negeri, kemudian memilih balik kampung buat bangun bangsanya,” jelas dia.

Dia mengungkapkan, rReverse brain drain banyak terjadi di China dan India.

“Reverse Brain Drain: orang-orang pintar ramai-ramai pulang kampung membangun tanah kelahirannya. Semoga makin banyak orang-orang hebat di luar negeri yang milih pulang kampung ke negeri kelahirannya seperti mbak Crystal Wijaya ini,” tulis Bob Prio Husodo.

Tugas Crystal ini adalah “memasak” jutaan data digital transaction para pelanggan gojek gofood dan gopay, dan lalu mencoba menemukan useful pattern.

“Misalnya siapa saja yang menyukai produknya. Atau siapa yg kira-kira akan nunggak kalau diberi pinjaman uang,” terangnya.