WHO Tetapkan Penyebaran Ebola di Kongo Sebagai Darurat Kesehatan Global

Terkini.id – WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan penularan penyakit Ebola yang terjadi di Kongo sebagai darurat kesehatan yang menjadi perhatian dunia internasional, hal ini dimaksudkan untuk mengajak negara-negara selaku pendonor untuk menyediakan lebih banyak uang untuk mengatasi masalah yang terjadi di Kongo.

Sebanyak 1.600 orang telah tewas akibat penyakit Ebola tersebut. Kasus pertama terdeteksi di Goma yang lebih dari satu juta orang penduduk.

Dilansir dari BBC, Kamis 18 Juli 2019, Status darurat tertinggi yang dikeluarkan WHO ini yang keempat kalinya digunakan, termasuk di Afrika Barat pada tahun 2014-2016 yang telah menewaskan sekitar 11.000 orang

Baca Juga: Netizen Kristen Anggap UAS Ulama Minoritas, Mustofa Nahra: Urusi Saja...

Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyuses mengatakan “Sudah waktunya bagi dunia untuk memperhatikan,” ucapnya pada konferensi pers. Rabu 17 Juli 2019.

Dalam pernyataanya Federaral Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menerima langkah ini.

Baca Juga: Bikin Geger, Dokter Eva: Kalau Tidak Mau Disebut Kafir, Ya...

“Meskipun itu tidak mengubah kenyataan di lapangan bagi para korban atau mitra yang terlibat, kami berharap status itu akan membawa perhatian internasional yang layak didapatkan krisis ini,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Terbesar ke dua dalam sejarah, penyebaran penyakit ini dimulai sejak Agustus 2018 dan mempengaruhi dua provinsi di Kongo, yakni Kivu Utara dan Itiru dan lebih dari 2.500 orang sudah terinfeksi oleh penyakit tersebut dan dua pertiga dari mereka sudah meninggal dunia.

Dengan pesatnya penyebaran penyakit ini berkembang sehingga dibutuhkan 224 hari bagi jumlah kasus untuk sampai 1.000, tetapi selang 2 bulan 11 hari jumlah kasus mampu mencapai 2.000.

Baca Juga: Bikin Geger, Dokter Eva: Kalau Tidak Mau Disebut Kafir, Ya...

Konflik yang terjadi di Kongo menjadikan penanganannya tidak mudah, mulai Januari sebanyak 198 serangan terhadap petugas kesehatan yang menyebabkan tujuh orang meninggal dan 58 cedera.

Masalah besar lain adalah penyebaran virus sulit untuk dilacak.

Trish Newport dari organisasi kemanusiaan medis internasional independen Médecins Sans Frontières (MSF) menjelaskan buruknya situasi yang terjadi di Kongo.

“Ini adalah lingkungan yang kompleks dengan sejarah panjang kekerasan, konflik, jadi banyak ketidakpercayaan terhadap orang asing di luar daerah dan kami harus membangun ikatan dan koneksi dengan masyarakat sehingga mempercayai kami,” ucapnya.

selama berbulan-bulan WHO mengatakan tidak puya cukup dana untuk masalah tersebut yang diperlukan sekitar 1,3 trilliun rupiah untuk mengatasi penyebaran sejak Februari sampai Juli, akan tetapi WHO kekurangan hingga 753 milliar rupiah.

Bagikan