3 Tahun Ngos-ngosan Lawan Semen Cina, Pabrik Semen di Sulawesi Akhirnya Tumbang

Ilustrasi Semen. (cnbc.com)

Terkini.id, Jakarta – Persaingan keras harga semen di pasar membuat satu industri semen di Sulawesi harus tumbang.

Hal itu diungkapkan Anggota DPR RI terpilih 2019-2024 Andre Rosiade.

Andre menyebut ada pabrik semen milik swasta nasional di Sulawesi yang akan gulung tikar dalam waktu dekat.

Tidak tanggung-tanggung, pabrik semen tersebut diprediksi bakal dibeli oleh perusahaan milik Cina yaitu CONCH.

Pabrik milik BUMN Cina tersebut memang dalam tiga tahun terakhir memasang harga yang relatif lebih murah dari semen-semen lain.

CONCH bahkan terus memperkuat produksi dan pasar semen di Kawasan Indonesia Timur.
“Sebentar lagi ada juga saya sudah mendengar ada indikasi pabrik swasta semen lain akan diambil alih oleh salah satu pabrik semen Tiongkok, saya tidak bisa menyebutkan namanya tapi ini swasta nasional bukan BUMN kemungkinan akan angkat bendera putih sebentar lagi dan mungkin akan diambil oleh semen Tiongkok. Kemungkinan indikasinya besar,” tambah Ade saat menemani Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (FSPISI) menyerahkan berkas tuduhan predatory pricing di Gedung Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Jakarta Pusat, Senin 26 Agustus 2019 seperti dilansir dari tirto.id.

Semen milik negara, yakni PT Semen Indonesia juga kemungkinan tidak bisa membeli semen swasta nasional tersebut lantaran Semen Indonesia sudah membeli PT Holcim.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (FSPISI) Ronida menyebut, perusahaan semen Cina yakni CONCH bahkan melakukan predator pricing alias banting harga.

Rianida menyebutkan, inisial pabrik di Sulawesi yang akan gulung tikar tersebut adalah BW.

“Yang di Sulawesi itu berpotensi (bangkrut). Karena sudah ada PHK, kemudian gajinya juga sudah mulai terhambat. Kita enggak tahu sudah berapa banyak, karena mereka bukan anggota kita. Kebetulan perusahaan ini belum menjadi anggota di federasi kita,” terang dia lagi.

“Ya, kan, bisa dicari ya. Wilayah situ inisial BW. Sudah ada PHK kemudian proses gaji juga sudah mulai tersendat. Saya dengar kondisinya sudah dari tahun lalu,” terang dia lagi.

Mengarah ke PT Semen Bosowa

Dilansir dari laman resmi Kementerian Perindustrian RI, direktori perusahaan untuk kategori industri semen mencatat cuma ada dua pabrik semen di Sulawesi.

Dua pabrik semen tersebut terletak di Sulawesi Selatan, yakni PT Semen Bosowa Maros dan PT Semen Tonasa (Persero) di Pangkep.

Dengan inisial BW yang disebutkan, pabrik yang terancam yang dimaksud tersebut mengarah ke PT Semen Bosowa.

Sudah Tiga Tahun Bersaing

Kepala Biro Humas PT Semen Tonasa (Persero), Andi Muh Said Chalik mengakui persaingan keras industri semen dalam negeri sudah terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Hal itu lantaran produksi pabrik semen di seluruh Indonesia mencapai hingga 107 juta ton per tahun, sementara konsumsi semen dalam negeri cuma 80 jutaan ton.

“Artinya ada kelebihan produksi sekitar 30 juta ton. Makanya, perusahaan harus bersaing memasang strategi untuk bisa merebut pasar itu,” katanya.

Khusus Semen Tonasa, dia mengungkapkan semen yang berlokasi di Pangkep tersebut masih memegang pangsa pasar yang mendominasi di Kawasan Indonesia Timur.

“Meskipun terjadi disparitas harga oleh perusahaan semen China, kita tetap bertahan,” katanya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini