DALAM beberapa kesempatan yang ada saya berkali-kali sampaikan kegalauan saya sebagai seorang putra (Muslim) Indonesia di luar negeri.
Bukan saja karena kenyataan bahwa warga (Muslim) Indonesia manca negara itu tidak terlalu besar dibanding Komunitas Muslim lainnya. Tapi lebih kepada kurang signifikannya peranan Diaspora (Muslim) Indonesia di kancah internasional.
Padahal kenyataannya Indonesia dikenal oleh dunia luar sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia.
Selain itu diakui atau tidak Muslim Indonesia memiliki kelebihan-kelebihan yang dapat menjadi modal dalam upaya mengambil peranan di kancah global.
Satu di antaranya adalah kenyataan bahwa Indonesia mampu mengintegrasi antara dua komitmen yang kadang paradoksikal, yaitu komitmen kebangsaan dan komitmen keagamaan.
Realita minimnya peranan Disapora (Muslim) Indonesia itu berakibat kepada penglihatan warga lain kepada Komunitas (Muslim) Indonesia dengan pandangan sebelah mata.
Seolah menjadi sebuah kesimpulan umum bahwa Diaspora (Muslim) Indonesia memiliki kapasitan atau kemampuan yang diragukan. Sehingga dengan sendirinya orang lain kurang “confidence” untuk melibatkan (Muslim) Indonesia dalam berbagai perhelatan yang berskala internasional.
Kenyataan di atas harusnya menjadi pendorong bagi Komunitas (Muslim) Indonesia untuk bangkit melakukan berbagai pembenahan diri.
Melakukan koreksi terhadap kekurangan (self correction) dan melakukan perbaikan dan pengembangan diri (self development).
Dari pengalaman yang mungkin cukup panjang di luar negeri, (meninggalkan Indonesia sejak tamat pesantren), saya melihat ada beberapa faktor kenapa Komunitas (Muslim) Indonesia di luar negeri kurang maksimal dalam memainkan peranan globalnya secara signifikan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
