Menurutnya, industri pembuatan kapal tradisional tersebut kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dampak globalisasi, perubahan iklim, hingga semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku kayu.
Penelitian menemukan bahwa kapasitas adaptif pelaku industri mengalami penurunan, terutama pada aspek kelembagaan, keberlanjutan sumber daya, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan perencanaan jangka panjang.
Meski demikian, kemampuan pelaku industri dalam berinovasi dan merespons perubahan pasar masih relatif baik. Namun, proses adaptasi dinilai masih bersifat reaktif dan belum didukung pembelajaran kolektif maupun penguatan kelembagaan yang memadai.
Sementara itu, peneliti Dr. Ishak Salim, S.IP., M.A. mengungkapkan hasil kajian mengenai tantangan pelestarian Pinisi dari perspektif jaringan aktor dalam kebijakan.
Menurutnya, terdapat empat persoalan utama yang dihadapi, yakni komodifikasi budaya, ketimpangan relasi kekuasaan antarpemangku kepentingan, fragmentasi kelembagaan, serta krisis ketersediaan bahan baku kayu.
- BI Sulsel Rayakan Tujuh Tahun Perjalanan QRIS, 7 Fitur Dinikmati Jutaan Pengguna
- BPBD Jeneponto Teruskan Peringatan Dini BMKG, Waspada Gelombang 1,25 - 2,5 Meter hingga 25 Agustus
- Unhas Buka Kelas Migrant Batch 1, Siapkan CPMI ke Jepang dengan Pelatihan Bahasa dan Budaya
- Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Business Plan pada UMKM Wanita Mandiri 'Ogie' - BUMDesa Ana Ogie
- Deretan Da'i Nasional Siap Meriahkan Tabligh Akbar Nasional dan Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal Besok
“Pelestarian Pinisi membutuhkan tata kelola yang kolaboratif dengan memperkuat kelembagaan, perlindungan terhadap pekerja, dokumentasi pengetahuan lokal, serta pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan,” jelas Ishak Salim.
Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan pembentukan asosiasi pekerja Pinisi, penyusunan kontrak kerja yang melindungi pekerja sekaligus menjaga nilai budaya, penguatan tata kelola pemanfaatan kayu secara transparan dan berkelanjutan, dokumentasi pengetahuan lokal, hingga pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
Diskusi yang berlangsung usai pemaparan berlangsung dinamis. Berbagai masukan dari pemerintah daerah, akademisi, komunitas pelestari Pinisi, panrita lopi, tokoh masyarakat, dan perwakilan desa memperkaya hasil penelitian sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem budaya Pinisi.
Para peserta juga mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, melainkan ditindaklanjuti melalui riset lanjutan dan diterjemahkan menjadi kebijakan daerah yang mampu menjawab tantangan pelestarian Pinisi.
Melalui kegiatan ini, Bapperida Kabupaten Bulukumba bersama Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin berharap hasil penelitian dapat menjadi pijakan dalam penyusunan kebijakan publik berbasis bukti, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Pinisi sebagai warisan budaya maritim yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
