Terkini.id – Cadangan nikel di Indonesia, yang 90 persen berada di Sulawesi Tenggara, Selatan, Utara, Tengah dan Maluku Utara, disebutkan semakin menipis.
Negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia ini disebutkan memiliki hingga puluhan juta metrik ton berdasarkan data tahun 2022.
Booklet Tambang Nikel 2020 Kementerian ESDM mencatat, cadangan nikel dunia mencapai hingga 139,4 juta metrik ton, dan sebesar 52 persen di antaranya atau 72 juta ton (termasuk limonite), ada di Indonesia.
Namun, meskipun besar, cadangan nikel tersebut cuma mampu bertahan dalam jangka waktu hingga 7 tahun, dengan kondisi pertambangan dan pembangunan industri smelter besar-besaran di dalam negeri yang sedang berlangsung saat ini.
Sebelumnya, Indonesia Mining Association mendorong pemerintah untuk membangun industri lanjutan untuk nikel, agar produk tambang tersebut tidak diekspor dalam bentuk setengah jadi. Dengan begitu, tidak perlu banyak menggali banyak tambang nikel lagi.
Sementara, Anggota Komisi 7 DPR RI, Mulyanto sebelumnya menyampaikan bahwa negara ini harus menghemat ketersediaan nikel.
Hal itu karena, menurut dia, cadangan nikel Indonesia cuma mampu bertahan sekitar 7 tahun. Pemerintah dinilai lambat menanggulangi masalah nikel yang makin menipis.
Lalu, bagaimana perlunya membangun industri lanjutan setelah smelter, agar yang diekspor bukan cuma setengah jadi?
Menurut dia, ekspor nikel setengah jadi, atau nikel tipe 2 seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi), memiliki kandungan nikel 4-10 persen.
“Ekspor NPI dari 1,7 persen hanya hanya 4-10 persen, kita ekspor barang bongkahan itu,” ungkap Mulyanto program Mining Zone, Kamis 24 Agustus 2023.
Sementara, Staf Khusus Menteri ESDM, Agus Tjahajana Wirakusumah mengungkapkan, atas menipisnya cadangan nikel tersebut, pemerintah memang perlu segera melakukan moratorium atau penghentian sementara pembangunan smelter nikel baru.
Pemberlakuan moratorium lebih khusus untuk smelter berteknologi Rotary Kin Electric Furnace atau RKEF yang menghasilkan produk NPI dan FeNi.
“Imbauan pak Menteri (moratorium) lebih baik, daripada kesulitan nanti,” ungkap dia.
Berbeda dengan Mulyanto, menurut data Kementerian ESDM, cadangan nikel Indonesia berada di kisaran 10-15 tahun lagi.
Menurut data ESDM, saat ini terdapat 97 proyek smelter yang menggunakan teknologi RKEF tersebut. Adapun moratorium pembangunan smelter baru nantinya hanya terbatas pada smelter berjenis RKEF. Sementara pemerintah akan tetap terbuka dengan pembangunan smelter baru berjenis hidrometalurgi.(sumber: CNBC.com)
Sebelumnya, salah satu pengusaha tambang nikel, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan besarnya potensi nikel di Sulawesi, namun banyak digarap oleh perusahaan asing.
“Ada daerah di Sulawesi, yang potensi nikelnya itu, nilainya mencapai hingga ribuan triliun rupiah,” ungkap Andi Amran Sulaiman saat silaturahmi dengan wartawan beberapa bulan lalu.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
