Cahaya Ilahi

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

CAHAYA Ilahi senantiasa terpatri dari ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan sepanjang Ramadan ini. Salah satu kemuliaan dan cahaya Ramadan, karena di dalam bulan Ramadan, Alquran diturunkan tepatnya pada malam 17 ramadan.

Dalam tradisi Islam di Indonesia, diperingati melalui kegiatan peringatan Nuzulul Quran. Semarak Nuzulul Quran mencerminkan kecintaan umat Islam Indonesia dalam menghayati Alquran sebagai cahaya hidup, hudan lil an-annas, petunjuk bagi umat manusia.

Setiap insan yang membaca al-qur’an sejatinya “berdialog” dengan Allah melalui wahyu ilahi sehingga melahirkan kekuatan batin, menerpa cahaya hidup hamba untuk meraup hidayah sang khalik.

Selain itu, Alquran sebagai inspirasi dan sumber ilmu yang utama. Karenanya setiap manusia semestinya meraup hikmah yang termaktub dalam kitab maha suci tersebut. Betapa manusia menggapai derajat mulia karena keilmuan disertai pengamalannya.

Terpaan cahaya ilahi dalam Alquran senantiasa menerpa hati yang suci, hati penuh keimanan dan ketaqwaan. Setiap hati yang diterpa cahaya Alquran akan menjalani penghidupannya yang berimbang dan jauh dari kebimbangan, sebab kitab suci maha agung tersebut menjadi petunjuk bagi manusia.

Dalam noktah ini, “membumikan” Alquran dengan menginternalisasikan pesan-pesan Allah Swt, tepatnya menjadi keharusan agar substansi ajarannya menjangkau seluruh hidup manusia dengan beragam hajat. Nilai-nilai Alquran menjadi “pemandu” menjalani hidup secara istiqamah dan terbebas dari ketertindasan kebodohan dan egoisme.

Pola hidup masyarakat modern yang hedonis, konsumeris, pragmatis adalah cerminan penyimpangan hidup yang abai dari pesan-pesan Alquran untuk hidup sederhana yang bersahaja.

Mencari jalan rezeki yang halal yang menjauhi segala bentuk keharaman demi menggapai ridha-Nya menjadi bagian komitmen mengamalkan demi menggapai cahaya hidup yang diterpa cahaya Alquran.

Sementara itu, fenomena lain dari penghidupan manusia, semakin massifnya terjadi konflik di tengah kegaduhan segala dimensi kehidupan. Pertikaian yang mencabik tali silaturahim. Perseteruan memupus persaudaraan, sikap ramah kini mewujud marah.

Fenomena itu menguatkan indikasi semakin jauhnya sebagian manusia dari terpaan cahaya Alquran yang mesti menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Kegersangan batin mengungkung pribadi-pribadi yang mengejar penghidupan berlimpah materi kekayaan sebagai orientasi hidup, bukti penyimpangan yang nyaris tak terkendali, demikian potret manusia modern yang minus religiusitas.

Hal ini terjadi akibat mengabaikan pesan Ilahi dalam Alquran yang sejatinya menjadi jalan untuk mendapatkan ketenangan batin dengan memperbanyak Zikrullah.

Membaca ayat demi ayat adalah bagian tadarus hidup yang menyeimbangkan kesehatan jasmani dan rohani. Berzikir, bertadarus ayat demi ayat niscaya mendatangkan ketenangan batin dengan menghadirkan sang khalik yang menjadikannya pribadi yang paripurna, tawadhu dan istiqamah. Demikian ikhtiar meraup cahaya ilahi dalam Alquran!

Berita Terkait
Komentar
Terkini