Cerita Relawan 02 Prabowo Keracunan: Pengantar Sebut Koper Merah Dikirim dari…

Salah satu relawan yang keracunan (kedua kanan).(facebook/dianislamiatifatwa)

Terkini.id, Jakarta – Sejumlah relawan pasangan Capres-Cawapres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno keracunan usai mengikuti aksi damai di depan gedung Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu pusat, Jakarta pada Jumat 10 Mei 2019.

Informasi itu diunggah anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional atau BPN Prabowo Sandi, Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto di akun Twitternya.

Ada sebanyak 16 orang relawan 02 yang berdemo diketahui keracunan dan dilarikan ke RSCM.

“Tengah malam tadi pukul 00.30 saya menjenguk relawan 02 di RSCM, sangat menyedihkan. Mereka keracunan makanan sehabis mengikuti aksi damai Jumat siang di Bawaslu,” cuit Titiek di akun Twitternya, @TitiekSoeharto, Sabtu 11 Mei 2019.

Titiek mengungkapkan para relawan keracuanan makanan berbentuk kue. Kue-kue tersebut berada dalam koper merah yang diantar oleh orang tak dikenal.

Kronologi Kejadian

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dian Islamiati Fatwa, menceritakan detil lengkap kronologi kejadian tersebut.

Dian menceritakan misteri koper merah yang digunakan mengangkut kue untuk para relawan yang keracunan tersebut.

Itu setelah dia mendatangi korban yang merupakan kader PAN.

“Lepas berbuka saya menuju Kebayoran Lama membesuk Nazulla, anggota PAN yang menjadi korban keracunan di Bawaslu Jumat kemarin,” tulisnya.

Nazulla adalah relawan tim medis yang bersiaga di depan Bawaslu ketika muncul demo besar.

“Usai bertugas, ia (Nazulla) mengambil takjil untuk berbuka dari koper merah. Menurutnya, seseorang datang membawa koper dan mengaku suruhan dr XX, mengantarkan makanan lalu kemudian cepat menghilang,” kata Dian menyampaikan pernyataan Nazulla.

Masih dengan mata sayu dan lemas setelah dua malam dirawat di RSCM, Nazulla kemudian menuturkan bahwa tim di posko medis heran mengapa ada makanan dikirim menggunakan koper.

“Bukan dengan tas kresek atau box,” ceritanya.

Salah seorang membuka koper dan terasa udara menyengat hidung membuat yang bersangkutan pusing dan mual.
Namun, mereka berpikir mungkin itu karena efek puasa dan dehidrasi lama berada di tempat panas saat demo berlangsung. “Jadi tidak curiga,” tambahnya lagi.

Salah seorang tim pun menghubungi dr XX, mengkonfirmasi apakah memang mengirim makanan.

“Dr XX kaget dan merasa tidak mengirim dan memerintahkan agar tidak memakan takjil tersebut,” katanya.

“Sayang sudah terlambat, waktu menjelang berbuka hampir tiba, sebagian tim bubar dan membawa bekal takjil dari koper merah termasuk Nazulla,” cerita Dian.

Saat berbuka tiba, Nazulla melahap habis 3 kue takjil dalam plastik. Telepon berdering di ponselnya memperingatkan agar tidak memakan takjil dari koper merah.

“Apa lacur, semua sudah masuk dan Nazulla mulai merasa mual-mual, muntah dan lidah kelu. Segera ia dilarikan ke RSCM,” katanya.

Nazulla bersyukur meski melahap habis semua kue takjil namun dirinya relatif tidak separah korban lainnya. Ada korban lainnya yang muntah darah meskipun hanya melahap satu kue.
“Keseluruhan korban yang keracunan berjumlah 16 orang termasuk suami dokter yang ikut membantu tim medis,” katanya.

“Ini menjadi ironis, tim medis malah jadi korban keracunan. Masya allah mudah-mudahan Allah mengganjar ibadah mereka di bulan Ramadan dengan imbalan surga,” harap Dian.

“Bersedia bertugas di tengah terik panas bulan Ramadan, eh malah mendapat musibah menjadi korban keracunan,” tambahnya.

Menurut Dian, tampaknya ini adalah strategy untuk mematahkan semangat orang-orang yang ingin turun ke jalan sehingga orang akan enggan, dan mungkin akan berpikir dua kali kalau ingin melakukan aksi menyampaikan aspirasinya.

“Barangkali mereka lupa, siapapun dalang di balik musibah ini, racun boleh jadi menumbangkan tubuh, namun racun tidak akan menumbangkan semangat perjuangan rakyat,” ketusnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini