Terkini, Makassar — Hasil melaut tidak selalu datang dengan jumlah yang sama. Hari ini nelayan bisa membawa pulang tangkapan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Esok, hasilnya bisa berbeda karena cuaca, kondisi laut, atau biaya operasional yang harus kembali dikeluarkan.
Di balik setiap rupiah yang diperoleh, ada keputusan yang harus dibuat, yakni berapa untuk kebutuhan rumah tangga, berapa untuk biaya melaut berikutnya, berapa yang disisihkan, dan kapan harus mencari pembiayaan.
Persoalannya bukan semata-mata apakah nelayan memiliki akses ke layanan keuangan. Yang tidak kalah penting adalah apakah akses tersebut dapat digunakan dengan tepat.
Pertanyaan yang sama muncul pada pelaku usaha mikro, perempuan, hingga pelajar di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Ketika rekening, pembiayaan, transaksi digital, dan berbagai produk jasa keuangan semakin mudah dijangkau, masyarakat juga berhadapan dengan pilihan sekaligus risiko yang semakin beragam.
Di titik inilah literasi keuangan menjadi penting.
- Bupati Jeneponto H. Paris Yasir Luncurkan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal Tahun 2026
- Dari Resky hingga Bintang, Pembalap Muda ART Bersinar di Mandalika
- Setelah 'Heboh' Pertemuan HT dengan Beberapa Pimpinan DPRD, Kini Rujab dan Kantor Bupati Gowa Digeledah Tim Gabungan Polri
- Pertamina Perkuat Penyaluran LPG 3 Kg di Sejumlah Wilayah Sulawesi
- Pemkot Makassar Siapkan "Pasukan Data", Gandeng BPS untuk Cetak ASN Ahli Statistik
Akses membuka pintu. Kecakapan menentukan bagaimana pintu itu digunakan.
Pesan tersebut menjadi benang merah dari upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat di Jeneponto dan Pasangkayu.
Ketika Hasil Melaut Harus Dikelola
Di Desa Balangloe, Kabupaten Jeneponto, persoalan tersebut terlihat nyata dari kehidupan masyarakat nelayan.
Melalui sinergi program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) pada 9 September 2026, OJK mendorong masyarakat pesisir mendapatkan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang aman, mudah, terjangkau, dan sesuai kebutuhan. Namun, memberikan akses saja tidak cukup.
Nelayan yang memiliki rekening belum otomatis memahami bagaimana mengelola pendapatan. Masyarakat yang dapat memperoleh pembiayaan juga tetap perlu menghitung kemampuan membayar.
Begitu pula ketika menerima tawaran investasi, mereka perlu mampu membedakan peluang yang masuk akal dengan tawaran yang berisiko.
Asisten Direktur OJK Sulsel Sulbar, Mushadi Nurali, yang mewakili Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, menekankan bahwa literasi keuangan berkaitan dengan kemampuan masyarakat mengambil keputusan.
“Peningkatan literasi keuangan tidak hanya mengenai bagaimana masyarakat dapat mengakses produk dan layanan jasa keuangan, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak, memahami manfaat dan risikonya, serta terlindungi dari berbagai bentuk penipuan dan investasi ilegal,” ujar Mushadi.
Pesan itu menjadi relevan bagi masyarakat dengan pendapatan yang tidak selalu tetap.
Hasil melaut perlu dikelola bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk kebutuhan berikutnya. Ada biaya bahan bakar, perawatan perahu dan alat tangkap, kebutuhan keluarga, pendidikan anak, serta kemungkinan menghadapi masa ketika hasil tangkapan menurun.
Karena itu, kecakapan finansial bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan nelayan. Ia hadir dalam keputusan-keputusan sederhana setiap hari.
Berapa yang boleh dibelanjakan. Berapa yang harus disimpan. Kapan harus meminjam. Kepada siapa harus meminjam. Dan apakah sebuah tawaran keuangan benar-benar layak dipercaya.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jeneponto, Abd. Rajab Gaus, mengatakan pembangunan kawasan nelayan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi.
“Masyarakat nelayan tidak hanya perlu didorong untuk meningkatkan produksi dan pendapatan, tetapi juga perlu memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan dan mengembangkan hasil usahanya,” kata Abd. Rajab.
Artinya, ukuran kesejahteraan tidak berhenti ketika pendapatan meningkat. Ada pekerjaan berikutnya yang tak kalah penting: memastikan pendapatan tersebut tidak habis tanpa perencanaan.
Dari Memiliki Akses Menjadi Mampu Memilih
Gambaran berbeda terlihat di Pasangkayu.
Pada 9 September 2026, OJK bersama Pemerintah Kabupaten Pasangkayu dan sektor jasa keuangan menggelar edukasi keuangan yang menyasar pelajar, pelaku UMKM, dan perempuan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) sekaligus rangkaian road to Bulan Inklusi Keuangan.
Kelompok sasaran yang berbeda itu memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Namun, semuanya berhadapan dengan persoalan yang sama: bagaimana menggunakan akses keuangan secara tepat.
Bagi UMKM, misalnya, pembiayaan dapat menjadi modal untuk mengembangkan usaha. Tetapi pembiayaan juga berarti kewajiban yang harus dihitung berdasarkan kemampuan usaha.
Keputusan mengambil kredit tidak cukup didasarkan pada seberapa besar dana yang tersedia.
Pelaku usaha perlu memahami arus kas, kebutuhan modal, kemampuan membayar, biaya pembiayaan, dan risiko apabila pendapatan tidak berjalan sesuai rencana.
Dengan kata lain, akses pembiayaan baru memberikan manfaat ketika dibarengi kemampuan mengelolanya.
Hal serupa berlaku bagi perempuan yang memiliki peran penting dalam berbagai keputusan ekonomi keluarga maupun usaha.
Pengetahuan mengenai pengelolaan pemasukan, pengeluaran, tabungan, pembiayaan, dan risiko keuangan dapat membantu seseorang tidak sekadar menjadi pengguna produk keuangan, tetapi menjadi pengguna yang memahami konsekuensi dari setiap pilihannya.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Pasangkayu, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Pasangkayu, Suhardi, mengapresiasi edukasi yang diberikan OJK kepada masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut membantu memperluas wawasan masyarakat mengenai isu-isu keuangan, termasuk kemampuan mengenali dan mengantisipasi praktik keuangan ilegal yang berpotensi merugikan.
Ia berharap edukasi serupa dilakukan secara rutin agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan dan merata.
Harapan itu menunjukkan satu hal penting: kecakapan finansial tidak terbentuk dalam satu pertemuan.
Ia membutuhkan pengetahuan yang terus diperbarui, pengalaman, pendampingan, dan kebiasaan mengambil keputusan secara hati-hati.
Ketika Kemudahan Digital Datang Bersama Risiko
Bagi generasi muda, tantangannya bahkan datang lebih cepat.
Pelajar kini tumbuh ketika transaksi digital dan layanan keuangan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mereka dapat mengenal rekening, pembayaran digital, dan berbagai layanan keuangan sejak usia sekolah. Tetapi kemudahan itu juga membawa risiko.
Kepala SMP Negeri 1 Pasangkayu, Asrianur, berharap edukasi keuangan dapat memberikan dampak positif bagi generasi muda, termasuk dalam menggunakan layanan keuangan secara bijak. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah judi online.
Di sini, literasi keuangan tidak lagi sebatas mengenalkan istilah tabungan atau transaksi. Pelajar perlu memahami bahwa uang memiliki nilai, keputusan finansial memiliki konsekuensi, dan kemudahan melakukan transaksi tidak berarti setiap transaksi layak dilakukan.
Mengenalkan kecakapan finansial sejak sekolah berarti menanamkan kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan.
Apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan?
Apakah uang tersebut digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat?
Apakah tawaran yang datang benar-benar aman?
Dan apa risikonya jika keputusan itu ternyata salah?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut kelak menjadi semakin penting ketika mereka memasuki usia produktif dan mulai memiliki penghasilan sendiri.
Ketika Keuntungan Tinggi Menguji Kecakapan
Risiko juga muncul ketika masyarakat berhadapan dengan tawaran investasi.
Iming-iming keuntungan tinggi dapat membuat keputusan finansial terasa sederhana: menyerahkan uang sekarang dan berharap memperoleh keuntungan besar kemudian.
Padahal, semakin besar potensi keuntungan, semakin penting pula memahami risiko yang menyertainya. Karena itu, OJK mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip Legal dan Logis atau 2L.
Legal berarti memastikan pihak yang menawarkan produk atau kegiatan investasi memiliki izin dari otoritas yang berwenang.
Logis berarti mencermati kewajaran keuntungan yang ditawarkan dengan mempertimbangkan risikonya.
Prinsip tersebut sederhana, tetapi mencerminkan inti dari kecakapan finansial: tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena melihat iming-iming keuntungan.
Masyarakat perlu memeriksa sebelum percaya, memahami sebelum menggunakan, dan menghitung sebelum mengambil keputusan.
Di era digital, kemampuan tersebut semakin penting karena sebuah tawaran dapat menjangkau masyarakat hanya melalui telepon genggam.
Dari Rekening hingga Keputusan
Jeneponto dan Pasangkayu memiliki karakter masyarakat yang berbeda.
Di Jeneponto, cerita bermula dari masyarakat pesisir yang berusaha menjaga hasil melaut agar mampu menopang keluarga dan keberlanjutan usaha.
Di Pasangkayu, cerita berkembang ke ruang kelas, kelompok perempuan, dan pelaku UMKM yang berhadapan dengan beragam pilihan keuangan. Tetapi keduanya bertemu pada satu persoalan.
Akses keuangan tidak otomatis melahirkan kecakapan keuangan.
Seseorang dapat memiliki rekening, tetapi belum tentu memahami cara mengelola uang di dalamnya.
Pelaku usaha dapat memperoleh pembiayaan, tetapi tetap harus mampu menghitung kemampuan membayar.
Masyarakat dapat menerima tawaran investasi, tetapi perlu memiliki kecakapan untuk memeriksa legalitas dan kewajarannya.
Pelajar dapat menggunakan transaksi digital, tetapi perlu memahami bahwa kemudahan transaksi juga membawa tanggung jawab.
Karena itu, inklusi keuangan dan literasi keuangan seharusnya berjalan beriringan.
Di Pasangkayu, upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku UMKM serta pembukaan rekening bagi pelajar.
Di Jeneponto, pendekatannya dilakukan melalui penguatan ekosistem keuangan inklusif di kawasan nelayan.
Keduanya menunjukkan bahwa membuka akses merupakan langkah awal. Setelah itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan agar akses tersebut benar-benar menghasilkan manfaat.
Menjaga Uang, Menjaga Masa Depan
Pada akhirnya, literasi keuangan berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: keputusan tentang uang.
Bagi nelayan, bagaimana hasil melaut hari ini dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjaga usaha tetap berjalan.
Bagi pelaku UMKM, bagaimana keuntungan tidak hanya berputar untuk kebutuhan sesaat, tetapi dapat menjadi modal bagi keberlanjutan usaha.
Bagi perempuan, bagaimana pengetahuan finansial dapat membantu mengambil keputusan ekonomi keluarga dan usaha.
Bagi pelajar, bagaimana kebiasaan mengelola uang sejak dini dapat menjadi bekal sebelum memasuki dunia ekonomi yang lebih kompleks.
Maka, ukuran keberhasilan inklusi keuangan bukan hanya seberapa banyak masyarakat yang berhasil dijangkau oleh layanan keuangan.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa cakap masyarakat menggunakan akses tersebut?
Dari laut Jeneponto hingga bangku sekolah di Pasangkayu, kebutuhan itu menemukan bentuk yang berbeda, tetapi pesannya sama.
Menghasilkan uang adalah satu hal. Mendapatkan akses keuangan adalah langkah berikutnya. Namun, memahami cara menggunakan, mengelola, dan melindunginya adalah kecakapan yang menentukan manfaatnya bagi masa depan.
Di sanalah literasi keuangan menemukan maknanya: bukan sekadar membuat masyarakat semakin dekat dengan layanan keuangan, melainkan membuat mereka semakin mampu menentukan pilihan finansial secara sadar, aman, dan sesuai kebutuhan.
Sebab pada akhirnya, akses membuka peluang, tetapi kecakapanlah yang membuat peluang itu menjadi manfaat.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
