Di Balik Jeritan Siswa Kejadian 23 April 2026, Kasus MBG Terhenti di Tengah Jalan?

Di Balik Jeritan Siswa Kejadian 23 April 2026, Kasus MBG Terhenti di Tengah Jalan?

S
Syarief

Penulis

Terkini, Jeneponto – Masih terngiang jelas di ingatan banyak orang terhadap kejadian tanggal 23 April 2026. Hari itu, suasana ceria belajar di SDN 7 Rumbia dan SMP sekitarnya berubah menjadi mimpi buruk. Sebanyak 28 siswa tiba-tiba merasakan sakit perut hebat, gatal, bengkak, sesak nafas, BAB hingga dilarikan ke Puskesmas terdekat, bahkan 6 orang dirujuk ke rumah sakit terdekat, usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh SPPG mitra sekolah. Mereka pun harus terbaring di Puskesmas dan rumah sakit setempat, membuat orang tua panik dan masyarakat bergolak.

Hari-hari setelahnya, kasus ini menjadi sorotan nasional. Ribuan akun Facebook serentak memposting peristiwa ini, media lokal maupun nasional meliput setiap perkembangannya, dan orang tua siswa seolah menjadi “tokoh publik” yang suaranya didengar banyak orang. Namun, seminggu berlalu, gemuruh itu perlahan meredup. Hari ini, hampir dua minggu kemudian, pertanyaan besar menggantung di udara: apakah kasus ini hanya akan menjadi kisah viral sesaat yang akhirnya dilupakan begitu saja?

Respons awal pemerintah dan pihak terkait memang datang. SPPG yang memasok makanan diberi sanksi penutupan sementara sebagai bentuk tanggung jawab. Namun, sejak pengumuman itu, tidak ada kabar lanjutan. Tidak ada klarifikasi apakah penutupan sudah dicabut atau diperpanjang, tidak ada penjelasan apa saja evaluasi yang dilakukan, dan tidak ada informasi apakah pihak terkait akan dikenai sanksi lebih berat.

“Kami hanya mendengar soal penutupan sementara itu saja. Setelah itu, tidak ada yang menghubungi kami lagi, tidak ada pemberitahuan apa pun, Seolah-olah setelah berita hilang, masalahnya juga selesai” kata salah satu orang tua siswa yang anaknya menjadi korban.

Fenomena ini terlihat jelas di ruang publik. Postingan-postingan yang dulu memenuhi linimasa media sosial kini lenyap entah ke mana, kini tidak lagi berita yang menginformasikan apapun. Suara yang dulu lantang menuntut keadilan, kini meredup seiring berlalunya waktu.

Baca Juga

Salah seorang keluarga korban, Basir Suamming mengungkapkan, Salah satu hal yang paling membuat masyarakat bertanya-tanya adalah soal hasil uji laboratorium. Saat kejadian, pihak berwenang mengambil sampel makanan untuk diuji. Namun, hingga hari ini, tidak ada satu pun hasil uji yang dipublikasikan. Bahkan, apakah benar sampel sudah dikirim ke lembaga yang berwenang? Ataukah sampel makanan yang diduga menjadi penyebab dugaan keracunan itu sudah dibuang dan tercampur di tumpukan sampah sebelum pengujian selesai?

Yang lebih mengherankan, tak ada informasi hasil uji laboratorium, apakah hasilnya sudah keluar tapi ditutup rapat?, karena mungkin menunjukkan indikasi masalah serius?, apakah pihak penyedian menu MBG, Pengelola sengaja dilindungi Padahal, fakta di lapangan menunjukkan 28 anak mengalami Diduga mengalami gejala keracunan yang nyata.

“Coba bandingkan kalau ini terjadi di acara hajatan atau pesta warga. Pasti sudah cepat diumumkan hasilnya, bahkan tuan rumah atau penyedia makanan sudah mungkin diproses hukum,” ungkap Basir Suamming yang juga narasi tersebut diunggah diakun Pacebook pribadinya.

Pertanyaan pun ditujukan kepada Bupati Jeneponto, Paris Yasir, Melalui tulisan terbuka yang diunggah di akun Facebook pribadinya, ia bertanya: “Apakah anak-anak kami harus menanggung trauma ini tanpa ada kejelasan? Apakah mereka hanya menjadi objek percobaan, lalu dibiarkan begitu saja setelah kejadian?”

Basir Suamming menegaskan bahwa apa yang dialami anak-anak mereka bukanlah sandiwara. “Anak saya menjerit kesakitan, perutnya kram hebat hingga sesak nafas. Itu bukan akting, Bapak Ibu,” tegas Basir Suamming. “Setelah pulang dari rumah sakit, dia masih takut makan makanan apa saja, bahkan makanan buatan orang tuanya sendiri. Trauma itu nyata, dan sampai sekarang belum hilang.” Ungkapnya.

Program MBG merupakan program mulia Bapak Presiden Prabowo sebenarnya diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan gizi anak-anak. Namun, kasus ini justru menimbulkan ketakutan dan keraguan. Apakah pihak pengelola dapur MBG hanya sekedar untuk mencari keuntungan, tapi tidak bertanggungjawab jika ada kejadian seperti kejadian 23 April 2026 lalu?. Jika tidak ditangani dengan transparan dan akuntabel, maka tujuan mulia program ini justru akan sirna akibat oknum pihak pengelola dapur MBG, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pun akan tergerus.

Beberapa hari yang lalu, Terkini.id mengkonfirmasi Kepala Dinas Kesehatan Jeneponto, Hj Syusanty A Mansyur, terkait hasil laboratorium,” Belum keluar hasilnya, menunggu pemeriksaan BTKL dan BPOM makassarr. Nanti insya Allah kalau sudah ada hasil pemeriksaan akan ditindaklanjuti oleh BGN,” kata Hj Syusanty A Mansyur saat dikonfirmasi lewat pesan whatsappnya.

Hingga berita ini diturunkan, Masyarakat masih menunggu, apakah kasus ini benar-benar akan berakhir di sini, atau akan ada kejelasan yang menegakkan keadilan bagi anak-anak yang menjadi korban?

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.