Di Reuni 212, Habib Rizieq Minta Maaf Soal Kerumunan dan Imbau Masyarakat Taat Protokol Kesehatan

Habib Rizieq
Habib Rizieq Shihab (pakai masker)/ist

Terkini.id, Jakarta – Setelah sebelumnya dikabarkan meninggalkan Rumah Sakit, kini Imam Besar Front Pembela Islam atau FPI Habib Rizieq Syihab muncul ke publik lewat tayangan youtube.

Habib Rizieq tampil dalam Reuni 212 dengan format dialog nasional yang digelar secara virtual pada Rabu 2 Desember 2020.

Dalam acara itu, Habib Rizieq tampak memakai masker.  
Ia tampil di Reuni 212 sehari setelah tak menghadiri panggilan Polda Metro Jaya atas kasus kerumunan di Petamburan. Pengacaranya menyebut Habib Rizieq sedang istirahat dalam masa pemulihan. 

Berikut beberapa poin yang disampaikan Habib Rizieq saat acara tersebut: 

Revolusi Akhlak Bukan Pemberontakan Berdarah-darah dan Makar 

Menarik untuk Anda:

Mengutip dari kumparancom, dalam acara tersebut Habib Rizieq mengupas panjang lebar soal revolusi akhlak yang digaungkannya sejak pulang ke Indonesia. 

Rizieq menegaskan, revolusi akhlak tak perlu diartikan sebagai gerakan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Dia menilai, revolusi akhlak merupakan perubahan cepat berbagai sikap yang tidak baik menuju baik. 

“Revolusi akhlak jangan digambarkan revolusi berdarah-darah, makar, pemberontakan, menjatuhkan pemerintahan, khowarij, enggak begitu,” ujar Habib Rizieq. 

“Jangan ada yang berpikir dengan revolusi akhlak itu revolusi bersenjata, pemberontakan tidak betul,” sambungnya. 

Selama Tak Ada Pembantaian Umat, Tak Ada Angkat Senjata 

Habib Rizieq tidak cuma membahas revolusi akhlak saat acara itu. Ia ikut angkat bicara mengenai jihad.  
Imam Besar FPI itu mengatakan, jihad tidak bisa diartikan dengan angkat senjata. 

Banyak hal yang menjadi syarat dan kondisi hingga sampai pada jihad yang disebut sebagai angkat senjata.  

Nyatanya, Indonesia saat ini tidak terjadi peristiwa pembantaian atau kondisi yang membuat seseorang harus angkat senjata.  

“Kita ini bukan Darul Jihad, tapi Darul Dakwah. Selama tidak ada pembantaian umat Islam, tidak ada pembunuhan ulama dan kyai, maka kita tidak angkat senjata,” ucapnya. 
Habib Rizieq menuturkan, jihad dalam arti kekerasan boleh dilakukan bila dalam kondisi peperangan atau masa penjajahan. 

“Jihad itu adalah makna terminologi perang, tapi ada syaratnya, ada adatnya. Seperti saat Belanda datang, para ulama kita menyerukan jihad, ada Teuku Umar, Cut Nya Dien, Imam Bonjol dan Diponegoro,” ujar Rizieq.  

“Konteksnya mereka melawan penjajah, maka harus berdarah-darah. Nah itu konteks jihad,” pungkasnya. 

Minta Maaf Soal Acara Kerumunan 

Saat acara reuni 212, Habib Rizieq turut menyinggung soal kasus kerumunan mulai dari penjemputan di Bandara Soetta hingga pernikahan putrinya di Petamburan. 

Habib Rizieq menyampaikan permohonan maaf atas sejumlah peristiwa kerumunan itu.  

“Saya minta maaf ke masyarakat, di Bandara, di Petamburan, Tebet dan Megamendung terjadi penumpukan yang tidak terkendali,” kata Rizieq. 

Dia juga meminta jemaahnya agar tak lagi membuat kerumunan. “Maka saya dengan DPP FPI, kita setop, tidak ada kerumunan lagi. Bahkan jadwal ke daerah kita setop sampai pandemi berakhir,” tegasnya. 

Bayar Denda dari DKI Rp 50 Juta

Kasus kerumunan di Petamburan pada 14 November lalu membuat Habib Rizieq didenda Pemprov DKI Rp 50 juta. Ia mengaku menerima sanksi denda tersebut lantaran memang salah melanggar protokol kesehatan. 

“Saat Pak Anies Baswedan melalui dinasnya menyampaikan adanya pelanggaran dan harus bayar denda, ya kita terima. Ya kita kalau salah, ya salah, harus bayar denda. Enggak usah berdebat, kita terima,” ucapnya.  

Ia pun ikut mendoakan kesembuhan Gubernur Anies Baswedan dan Wagub DKI Ahmad Riza Patria, yang baru-baru ini mengumumkan positif corona.  

Rizieq berharap Anies dan Riza bisa segera pulih dan dapat bekerja kembali memimpin Jakarta seperti sedia kala.  
“Untuk Pak Anies Baswedan juga kita doakan agar beliau cepat sehat wal afiat. Juga Pak wakil gubernurnya. Agar beliau segera bisa bertugas kembali seperti biasa, biar Jakarta ini jadi Jakarta yang thayyibah,” kata Rizieq.   

Selain itu, ia juga mendoakan seluruh gubernur di Indonesia dapat terus bekerja dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan.  

Menjalani Isolasi Mandiri 

Habib Rizieq yang menghadiri beberapa acara yang menimbulkan kerumunan membuatnya disarankan menjalani isolasi mandiri. 

Sehingga ia meminta maaf tak bisa menemui sejumlah tokoh lantaran masih dalam masa observasi untuk menjaga kesehatannya. 

“Saya berkali-kali sampaikan jaga protokol kesehatan sampai ribuan laskar tidak bisa mencegah. Akhirnya tim medis menyarankan baik COVID-19 atau tidak COVID-19, dalam situasi crowded ya seharusnya mengkarantina diri,” kata Rizieq, Rabu 2 Desember 2020.

Sebagaimana diketahui, Rizieq telah menjalani swab test yang difasilitasi MER-C. Meski demikian, ia tidak mau mengungkapkan hasil tesnya karena takut dipolitisasi.  
MER-C juga tidak mau menyerahkan hasil swab Rizieq ke Satgas COVID-19. Padahal, hasil swab harus diserahkan ke Satgas COVID-19 untuk mempermudah tracing. 

Walau mengaku tengah menjalani isolasi mandiri, namun Habib Rizieq duduk berdekatan dengan Ketua FPI DKI Habib Husein Alatas dan menantunya Habib Hanif Alatas. 

Usai polemik yang ditimbulkan atas beberapa kerumunan, Habib Rizieq akhirnya meminta maaf. 

Ia kini mengajak seluruh masyarakat serta pendukungnya untuk tidak membuat kerumunan di berbagai kesempatan, termasuk Pilkada pada 9 Desember nanti.   

“Jaga protokol kesehatan, hindarkan kerumunan apa saja, kerumunan pilkada, kerumunan maulid, kerumunan apa saja kita hindarkan, kita dukung upaya ulama dan umara (pemimpin pemerintahan) secepatnya kita keluar dari pandemi,” kata Rizieq. 

Selain itu, Rizieq juga telah memutuskan bersama DPP FPI untuk menunda kunjungan ke daerah-daerah sampai pandemi corona berakhir. 

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Eko Kuntadhi: Pandji Pragiwaksono Pendukung Anies, Makanya Dia Bela FPI

Momen Bencana, Akun Twitter SBY Bagikan Foto-foto Saat Tidur di Tenda

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar