Dosa Ibu-ibu Kepada Pedagang Sayur

Terkini.id – Dalam melakukan sebuah transaksi perdagangan, agama mengajarkan pentingnya prinsip ijab kabul, ikhlas tanpa paksaan.

Karena itu, transaksi jual beli seharusnya tidak membuat rugi masing-masing pihak. Semuanya harus diuntungkan.

Nah, transaksi dalam jual beli ini juga sangat penting diperhatikan bagi ibu-ibu rumah tangga yang membeli sayuran maupun sembako ke penjual keliling.

Dialog antara ibu-ibu dengan tukang keliling misalnya seperti ini:

Emak² : “Bang Ayam sekilo brp..?”
Abang : “28ribu bu..!”
Emak² : “27 ribu deh..!”
Abang : “😫iya deh”
Emak² : “hati ampela” sepasangnya brp..?”
Abang : “2 ribu..”
Emak² : minta 3 pasang, “Sama ceker sekilo ya..”
Abang : “ceker sekilo nya 16.000 bu..”
Emak² : “Udah lempengin jadi 15 aja..!”
Abang : “😔iya udah..”
Emak² : “Jadi total brp bang semua..?”
Abang : “Ayam + hati ampela + ceker jadi 48 ribu”
Emak² : “Alah udah 45 ribu aja.. Nih 50 ribu, kembaliin goceng sini..!”
Abang : 😫😔..
Emak: kasih bonus sayap satu ini yaa (sambil masukin sayap ke kantong kresek)
Abang: 😭😭😩😩

Perhatikan Rukun Jual Beli

Masih banyak yang belum paham, bahwa dalam jual beli ada tiga rukun yang harus terpenuhi.

Dilansir dari nu.or.id, paling tidak ada tiga syarat sah jual beli, antara lain:

1. Muta‘âqidain, yakni dua orang yang saling bertransaksi, yang terdiri atas penjual dan pembeli.

2. Shighat/lafadh yang menunjukkan pernyataan jual beli, antara lain lafadh ijab dan lafadh qabul.

3. Barang yang ditransaksikan (ma’qud ‘alaih). Unsur dari al-ma’qud ‘alaih ini terdiri ‘harga’ (thaman) dan “barang yang dihargai” (muthman).

Nah, arti Shigat Akad merupakan bentuk isyarat dari penjual dan pembeli yang melakukan transaksi tanpa paksaan.

Tidak sah transaksi jual beli jika pelakunya dipaksa atau terpaksa (mukrah), kecuali bila dipaksa oleh hakim dengan alasan yang benar.

Nah kira-kira sudahkah para ibu-ibu memperhatikan sikapnya biasa berbelanja dalam bertransaksi..?

Sudah ikhlaskah penjual melepas barang dagangannya jika etika menawar para ibu seperti di atas?

Jangan sampai tidak ikhlas nya penjual melepas barang dagangan nya menjadikan barang yang kita beli menjadi tidak diridhai karena dilakukan dengan bathil atau memaksa penjual.

“Hai orang² yg beriman, janganlah kamu memakan harta sesama mu dgn cara yg Bathil, kecuali dgn jalan perniagaan yg berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”
(QS.An-Nisaa:29)

Ingat, uang yang kita dapat halal.
Untuk beli barang yang halal juga.
Jangan sampai rusak karena transaksinya yang tak diridhai Allah Swt.