Terkini, Jakarta – Dalam satu dekade terakhir, ekonomi digital di Indonesia berkembang cepat –kadang terlalu cepat untuk dipahami secara utuh. Ia hadir di tengah kota yang padat, desa yang terhubung perlahan, dan rumah tangga yang menghadapi tekanan biaya hidup.
Di antara dinamika itu, 2025 menjadi tahun penting: ketika platform digital tidak lagi semata dinilai dari pertumbuhan, tetapi dari perannya dalam menopang kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di titik inilah perjalanan Grab Indonesia sepanjang 2025 layak dibaca bukan sebagai rangkaian inovasi teknologi, melainkan sebagai cermin perubahan struktur ekonomi rakyat.
Ketika Mobilitas Menjadi Kebutuhan Dasar
Transportasi yang terjangkau kini bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Data menunjukkan bahwa 60 persen pengguna ojek dan taksi online berasal dari kelompok ekonomi bawah dengan pengeluaran di bawah Rp1,5 juta per bulan. Bagi mereka, transportasi online bukan sekadar pilihan praktis, tetapi penopang mobilitas kerja, pendidikan, dan akses layanan publik.
Tak mengherankan jika 75 persen pengguna memanfaatkan ojek dan taksi online untuk first mile dan last mile—menghubungkan rumah dengan halte, stasiun, atau terminal. Transportasi daring mengisi celah yang selama ini sulit dijangkau oleh transportasi umum konvensional.
- PMSM SulSel Dorong Transformasi Kepemimpinan lewat Coaching Culture di HR Meet and Talk 2026
- SERABI 2026 Jadi Ajang Grab Edukasi UMKM Perempuan Kelola Bisnis Anti Boncos
- Melayani Tanpa Batas Waktu, Disdukcapil Jeneponto Buka Layanan di Hari Libur, Terbitkan 119 Dokumen
- Korban Penganiayaan di Tamalatea Terbaring Lemas, Diduga Pelaku Lebih dari 1 Orang, Kapolsek Bilang ini
- Kuliah Umum Prodi MHU UIN Alauddin Makassar Hadirkan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI
Dalam konteks ini, industri transportasi dan pengantaran online berkontribusi sekitar 2 persen terhadap PDB nasional. Grab sendiri menyumbang sekitar 50 persen dari industri ride-hailing.
Namun angka yang lebih bermakna adalah fakta bahwa satu dari empat masyarakat Indonesia kini terhubung dengan Grab, baik sebagai pengguna maupun sebagai mitra. Artinya, platform ini telah menjadi bagian dari ritme hidup nasional
Platform sebagai Bantalan Sosial Baru
Di tengah ketidakpastian ekonomi pascapandemi dan gelombang PHK di berbagai sektor, platform digital menjelma menjadi ruang bertahan hidup. Sekitar satu dari dua mitra pengemudi Grab sebelumnya merupakan korban PHK atau tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali. Mayoritas berusia di atas 36 tahun, bahkan lebih dari setengahnya berusia di atas 45 tahun—kelompok yang sering kali tersisih dari pasar kerja formal.
Tingkat pendidikan juga mencerminkan realitas sosial: 69 persen mitra pengemudi hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMA/SMK. Namun justru di titik inilah fleksibilitas menjadi nilai utama. Platform ini memungkinkan siapa pun—tanpa syarat ijazah tinggi, usia muda, atau pengalaman khusus—untuk kembali produktif.
Lebih dari 182.500 mitra pengemudi Grab adalah perempuan, sebagian besar ibu tunggal dan tulang punggung keluarga. Di luar itu, lebih dari 700 mitra pengemudi penyandang disabilitas juga tergabung dalam ekosistem.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
