Terkini.id, Makassar- Enam belas tahun yang lalu, kerusuhan Perancis terjadi selama tiga minggu setelah dua remaja Muslim tewas saat melarikan diri dari kejaran polisi. Dua pemuda keturunan Afrika tewas dengan cara tersengat listrik.
Kejadian ini berawal ketika polisi sedang menginvestigasi laporan bahwa seseorang telah masuk tanpa izin di sebuah lokasi konstruksi. Sekelompok anak remaja yang sedang bermain bola lari saat melihat polisi berdatangan untuk menghindari interogasi.
Tiga dari mereka memutuskan untuk memanjat tembok dan bersembunyi di bawah gardu listrik. Polisi menangkap enam anak remaja lainnya untuk diinterogasi.
Pada saat proses interogasi, terjadi pemadaman listrik yang disebabkan oleh tersengatnya tiga anak remaja tersebut. Dua dari mereka, Zyed Benna dan Bouna Traoré, tewas di tempat.
Kejadian yang terjadi di Clichy-sous-Bois, pinggiran kota Paris memperburuk ketegangan yang telah ada mengenai brutalitas polisi terhadap kaum imigran dan umat beragama minoritas.
- Tiga Remaja Tewas Akibat Miras Oplosan, Ternyata Sebelumnya Diduga Dianiaya dan Dipaksa Minum
- Seorang Remaja Tewas Akibat Tabrakan dengan Mobil Diduga Angkut Miras
- Mengenaskan! Remaja Tewas Dibacok Celurit di Kepala, Diduga Korban Tawuran
- Viral Remaja di Bekasi Tewas Terlindas Truk, Rupanya Sudah 8 Kali Bikin Konten Hadang Mobil
- Remaja Tewas Hadang Truk Demi Konten, Supir Bisa Dijerat Hukum?
BBC melaporkan kaum imigran tersebut merasa terasingkan dari masyarakat Perancis akibat persepsi negatif terhadap agama Islam dan diskriminisasi ras. Hal ini menambah bara yang berujung dengan kerusuhan.
BBC juga merangkum bahwa salah satu faktornya adalah kurangnya lapangan kerja di pinggiran kota yang menjadi kediaman para kaum minoritas.
Kerusuhan ini berkembang dari pinggiran kota ke seluruh penjuru negara Perancis. Demonstran sebagian besar terdiri dari remaja-remaja keturunan Afrika dan beragama Islam yang sudah tidak dapat menerima diskriminisasi sosial, ekonomi dan ras.
Delapan ribu kendaraan dibakar dan sebuah sekolah di Belfort dibakar oleh perusuh. Kerugian yang disebabkan oleh kerusuhan ini mencapai €200 juta (± Rp. 2.332 Triliun, kurs euro 2005)
Kerusuhan ini memakan tiga korban dan melukai 126 polisi dan pemadam kebakaran.
Pada tanggal 8 November 2005, President Chirac mengumumkan keadaan darurat nasional dan memberlakukan jam malam. Kondisi darurat tersebut diperpanjang hingga tiga bulan lamanya sampai keadaan Perancis mulai normal kembali.
Kejadian ini mengingatkan kita betapa pentingnya memegang teguh Bhinneka Tunggal Ika agar negara kita tidak terpecah belah. Menghilangkan stigma negatif pada kaum minoritas dan merangkul keberagaman menjadi kunci untuk menjaga perdamaian dalam sebuah negara.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
