Ia mengatakan hingga saat ini, dia dan anak-anaknya sama sekali belum di Swab.
Kemudia Ia menceritakan saat prosesi penguburan istrinya di Macanda. Dia mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari aparat keamanan. Setelah menguburkan jenasah Istrinya, tim gugus langsung pulang.
“Tidak ada rasa prihatin, mereka tim gugus langsung pulang saja. Harusnya mereka berpikir keluarganya harus diisolasi” kata dia.
Lantaran pada saat itu, istrinya ditetapkan PDP dan hasilnya belum keluar.
Ia mengaku sempat mempertahankan jenasah istrinya di RS Bhayangkara dan menantang mereka dengan pembuktian terbalik.
- Meski Kasus Covid-19 Terbilang Melandai, Parepare Tetap Waspada
- Pemprov Sulsel Minta Maaf Karena Jenasah PDP Negatif Covid-19 Dimakamkan Sesuai Protokol
- Nurdin Abdullah: Tidak Boleh! Jenasah PDP Negatif Dimakamkan Dengan Protokol Covid-19
- Lompat dari Lantai 4 RS, Pasien PDP Covid-19 Meninggal
- Cegah Covid-19, 1021 Pendatang di Sidrap Masih Dalam Pantauan
“Saya bilang kalau kalian anggap PDP Covid-19 almarhumah istri saya. Silakan tes saya. Tes anak-anak saya. Saya sudah berinteraksi, sudah mencium jenasah almarhumah,” ungkapnya.
Namun, kata dia, baik dari pihak dokter dan tim gugus tak ada satu pun yang berani untuk melakukan tes terhadap keluarganya. Ia mengaku ikhlas bila seandainya almarhumah positif Covid-19.
Andi Baso menilai peristiwa kematian istrinya, membuktikan kalau Tim medis dokter menjadikan pandemi Covid-19 sebagai lahan mata pencaharian.
“Biar bukan penyakit Covid-19 dipaksakan untuk memvonis PDP, atau positif Covid-19.
Ada apa sebenarnya di balik semua ini, kecurigaan saya mulai terbuktikan kalau semua ini hanya skenario untuk anggaran semata,” kata dia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
