Terkini.id, Jakarta – Michael Sigarlaki, suami dari Juita Lidya Tiwa, warga Minsel yang meninggal usai 10 hari divaksin, kesal sekaligus menyesalkan sikap dari Puskesmas Motoling.
Mengapa? Itu karena pihak puskesmas yang mendatangi rumah duka justru bersikeras mengatakan bahwa istrinya meninggal bukan karena divaksin, tetapi karena tubuhnya kekurangan hemogoblin (Hb) atau yang lebih dikenal orang dengan sebutan Hb rendah.
Bahkan lantaran hal tersebut, suasana rumah duka sempat bergejolak karena menurut Michael, keluarga tidak bisa menerima alasan dari pihak puskesmas itu.
“Jadi, pas pemakaman ada yang datang dari Puskesmas memberikan klarifikasi jika hasil akhir dari pemeriksaan kematian istri saya itu karena Hb rendah,” ungkap Michael, dikutip terkini.id dari kumparan pada Rabu, 21 Juli 2021.
“Ini memicu kemarahan karena keluarga tidak bisa menerima alasan itu, tapi kemarahan itu cepat diredam karena keluarga ikhlas kalau istri saya nyawanya sudah tidak bisa dikembalikan lagi.”
Menurut Michael, hal yang membuat dirinya dan keluarga kesal, yaitu karena pihak puskesmas hanya bersikeras jika mereka tidak mau melihat penyebab awal hingga istrinya mengalami sakit dan Hb turun, tetapi hanya bersikukuh bahwa penyebab akhir hingga kematian yang dilaporkan.
Bahkan, ketika Michael menjelaskan kronologi jika istrinya yang dalam kondisi sehat saat mendapatkan suntikan vaksin AstraZeneca tiba-tiba mengalami demam, sakit kepala, mual hingga kondisinya drop, sebelum kemudian meninggal di hari ke-10, pihak puskesmas tetap menganggap kronologi kejadian itu bukan penyebab kematian dan ngotot disebabkan Hb rendah.
“Jadi, pihak puskesmas katanya tidak melihat kejadian awal, tapi penyebab akhir. Kalau penyebab awal, itu tidak masuk laporan,” beber Michael.
“Itu yang bikin keluarga marah. Saya contohkan tentang teori bola es, kan itu dari kecil kemudian jadi besar. Bagaimana bisa langsung besar saja tanpa ada penyebabnya?”
Pria yang berprofesi sebagai seorang pengajar itu juga mengaku sangat menyesali kinerja dari puskesmas.
Pasalnya, sejak awal istrinya sakit dan dibawa ke ke sana, sama sekali tidak pernah ada satu pun dokter yang bisa ditemui di tempat itu.
“Kami beberapa kali ke Puskesmas, itu dokter tidak pernah ada.”
Michael pun berharap agar kondisi yang menimpa keluarganya, di mana istri yang dinikahinya selama tujuh tahun dan telah memberikan dua orang anak itu, menjadi yang terakhir dikarenakan buruknya pelayanan kesehatan untuk masyarakat di pedesaan, termasuk puskesmas yang tidak memiliki pelayanan dokter.
“Saya dan keluarga sudah ikhlas, tapi ini jadi pesan ke Pemerintah agar pelayanan kesehatan itu sangat penting hingga ke desa-desa. Kalau dokter kurang, ditambah,” saran Michael.
“Meninggalnya istri saya bukan hanya satu nyawa saja, tapi ada dua nyawa anak-anak yang ikut jadi korban. Saya mohon Pemerintah memperhatikan ini,” tandasnya.
Sekadar diinformasikan, Juita Lidya Tiwa (30), warga Desa Motoling Dua, Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), meninggal dunia di hari ke-10 setelah dirinya divaksin.
Sebelumnya, Juita dilaporkan mengalami gejala demam, sakit kepala, dan mual-mual.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
