Kasus Persekusi Terhadap Guru, Saatnya Kaji Ulang UU Perlindungan Anak

Dedi Mulyadi.(femina)

Terkini.id, Makassar – Peristiwa persekusi terharap guru yang dilakukan oleh muridnya menggegerkan media sosial beberapa waktu terkahir.

Ini menjadi potret buram yang bukan hal baru. Namun, sudah sering terjadi, sejak era keterbukaan dan kuatnya perlindungan negara terhadap anak-anak dengan penerapan Undang-Undang Perlindungan Anak hingga pembentukan Komisi Perlindungan Anak dari pusat sampai daerah.

Terkait masalah tersebut, Mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi punya pendapat tentang masalah tersebut.

“Semangat melindungi anak-anak kita dari kekerasan memang sangat diperlukan. Tetapi, rupanya kita masuk dalam filosofi berpikir orang Barat, dalam kondisi aspek pendidikan kultural Indonesia sangat berbeda dengan cara pandang barat,” tulisnya melalui akun media sosial.

Menurut dia, ada metodologi pendidikan kultural yang didasarkan pada cinta dan kasih sayang dari orang tua terhadap anaknya dari guru terhadap muridnya berdasarkan tingkatan pelanggaran yang dilakukan baik di sekolah maupun di rumah.

Sehingga, kewibawaan orang tua dan guru tetap terjaga pada lingkungannya.

“Tanpa bermaksud membenarkan tindakan kekerasan, saya pernah mengalami ditampar oleh Guru PMP saat SD bernama Pak Udi yang agamanya Katolik dan ditampar oleh Guru Agama bernama Pak Anang waktu SMA,” tulisnya lagi.

Seluruh tindakan tersebut malah menjadi kenangan indah yang dia ingat sebagai peristiwa yang penuh dengan kasih sayang hingga saat ini.

“Saya sangat mengagumi kedua guru itu karena kedisiplinan dan tanggung jawabnya kepada anak didik,” katanya.

Di rumah, Dedi mengaku sering dipukul ibunya ketika malas mandi, ketika saya malas bangun dan ketika saya disuruh pulang ke rumah karena terlalu lama bermain. Seluruh peristiwa itu menjadi kenangan indah. Saya begitu mencintai Almarhumah ibu saya.

Bedakan Guru yang Keras dan Guru yang Kasar

Saat ini kita memasuki sebuah fase dimana rasa kita tidak mampu membedakan mana kekerasan dan mana kasih sayang. Orang tua naik pitam dan datang ke sekolah, memaki dan mengancam guru apabila anaknya di sekolah mendapatkan tindakan keras dari gurunya.

Sehingga, karena alasan undang-undang dan psikologi yang menghantui pikiran guru, kini guru tumbuh menjadi pemilik pikiran rasa takut oleh murid. Guru menjadi pasrah dengan keadaan ketika muridnya bertindak melampaui batas.

Di sudut-sudut rumah, keadaan mulai berbalik.

Orang tua mengikuti kehendak anaknya dengan membelikan gadget untuk anak-anak di bawah umur dan membelikan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat bagi anaknya yang belum cukup umur. Sehingga, kecelakaan merenggut nyawa anak-anak di jalanan pada usia belia.

Para orang tua juga membiarkan anak-anak merokok, membiarkan mereka minum juga membiarkan mereka pulang larut malam tanpa tindakan apapun.

Kini atas nama kasih sayang, kita membiarkan anak-anak kita berjalan tanpa arah. sehingga, di rumah orang tuanya tak mampu mendidik, di sekolah gurunya tak sanggup lagi menegur dan memperbaiki diri muridnya karena rasa takut yang membelenggu pikiran sang guru.

Sudah saatnya, kita mengevaluasi seluruh sistem pendidikan kita dan melakukan kajian komprehensif terhadap Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Guru dan Dosen.

Keduanya harus berjalan seiring sejalan, saling melengkapi dan menguatkan, bukan bertentangan satu sama lain.

Tak kalah penting, kita harus mampu membedakan mana kekerasan dan mana kasih sayang.

Dalam pertandingan sepakbola sangat berbeda antara bermain keras dan bermain kasar. Guru dan orang tua yang keras berbeda dengan guru dan orang tua yang kasar.

Komentar
Terkini