Ketika UMKM Wastra Sulsel Membuktikan Daya Beli Tetap Tinggi

Ketika UMKM Wastra Sulsel Membuktikan Daya Beli Tetap Tinggi

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Kain-kain tenun hasil karya pengrajin dari Sulsel laris manis di event berskala nasional, Karya Kreatif Indonesia 2026. Menunjukkan daya beli nasional yang tetap tinggi, membuktikan indeks ekonomi RI tetap positif di mata dunia.

ADA sebuah momen besar yang membuat Taufiq Hidayat makin yakin kain bahwa sutra buatan para penenun Sengkang, Sulsel, bisa terus bersinar. Di tengah ramainya pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), 20-23 Agustus 2026 lalu, produk yang tumbuh dari tradisi lokal itu justru tetap relevan dengan pasar.

Di antara deretan tenant yang meramaikan event KKI di JICC Jakarta, hingga hari terakhir, Taufiq yang merupakan owner Usaha Wastra Tenun Sutra Arni Kurnia Silk itu bisa meraup ratusan juta rupiah omzet dan membawa pulang harapan.

“Pembeli sangat besar, omzet tahun ini tumbuh sampai 50 persen kalau dibandingkan tahun lalu. Pembeli juga lebih beragam. Mereka dari kalangan desainer, kolektor kain dan pembeli yang beli untuk penggunaan pribadi,” ungkap Taufiq Hidayat kepada terkini.id, Kamis 3 September 2026 lalu.

Ketika UMKM Wastra Sulsel Membuktikan Daya Beli Tetap Tinggi
Owner Arni Kurnia Silk, Taufiq, menunjukkan produk sutra di boothnya dalam event KKI 2026.

Lewat event nasional itu, Arni Kurnia Silk, brand yang sudah hadir sejak 1987, bisa menepis stigma pasar bahwa kain sutra buatan tangan pengrajin makin tenggelam oleh produk tekstil hasil impor atau buatan mesin yang lebih cepat dan murah.

Baca Juga

KKI sukses meyakinkan para pengrajin sutra dan penggiat wastra lainnya, bahwa mereka cuma perlu menemukan target pasarnya. Produk mereka pun dihargai lebih besar oleh para penikmat karya kerajinan lokal yang mendatangi event empat hari itu.

Hingga akhir event, yang berlangsung secara online dan offline, Arni Kurnia Silk bersama puluhan pelaku UMKM Sulawesi Selatan yang diutus oleh Bank Indonesia KPw Sulawesi Selatan, berhasil mencatat penjualan hingga Rp1,28 Miliar. Arni Kurnia sendiri menyumbang sekitar 20 persen dari total omzet tersebut.

Selain Arni Kurnia, ada dua UMKM Wastra lain yakni Losari Silk dan Pio Etnik Toraja, yang mengikuti event ini secara luring atau offline. Ada juga 21 UMKM Sulsel kategori wastra, ready to wear, makanan dan minuman, home decor, hingga karya kreatif generasi muda yang mengikuti event tersebut secara online atau daring.

Taufiq sendiri berharap, agar BI terus menghelat event seperti ini, dan mempertemukan mereka dengan para pembeli dari luar negeri.

Optimisme Ekonomi Sulsel dari Pulau Dewata

Bank Indonesia bukan sekali dua kali mengajak para pelaku UMKM memperkenalkan produk-produknya ke event berskala nasional. Selain pameran, ada kegiatan business matching, yang menjadi momentum penting pertemuan para UMKM ekspor dengan para pembeli dari luar negeri.

Sementara Kantor Perwakilan BI Sulawesi Selatan, pada 26-28 Agustus lalu, memboyong sebanyak 30 pelaku UMKM, termasuk tim Arni Kurnia Silk, untuk mengikuti pelatihan Capacity Building untuk para pelaku UMKM, di Bali pada 26-28 Agustus.

Di Pulau Dewata itu, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sulsel Rizky Ernadi Wimanda menyampaikan apresiasi kepada para pelaku UMKM karena membukukan transaksi sampai lebih dari Rp1 miliar pada KKI di Jakarta.

Angka ini, tentu menunjukkan daya beli masih cukup tinggi. “Kita mengapresiasi, dan semoga tambah barokah dan tambah maju usahanya,” harap Rizky Ernadi.

Di Pulau Dewata itu pula, Rizky menyampaikan optimisme ekonomi Sulsel kepada para wartawan. Menurut Rizky, pelaku UMKM, punya peran yang besar terhadap pemulihan ekonomi nasional.

“Sampai akhir 2025, UMKM ini menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan memberi kontribusi sekitar 60-61% terhadap PDB Indonesia. Di Sulsel, data Dinas Koperasi mencatat jumlah UMKM mencapai sekitar 1,5 juta,” ungkap dia.

Sementara, BI optimis PDRB Sulsel pada 2026 tumbuh di kisaran 5,4-6,2 persen. Lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 4,9% hingga 6,0%. Pada 2027, pertumbuhan diperkirakan berada di rentang 5,5 hingga 6,3 persen.

Indeks Ekonomi Indonesia Tetap Positif Menurut S&P

Rizky Ernadi Wimanda tidak menampik adanya tantangan perekonomian Sulsel. Misalnya pertumbuhan ekonomi triwulan 2 (5,59%) yang melambat dibandingkan triwulan 1 (6,88%).

Namun, Rizky mengingatkan, ada momentum pada triwulan pertama 2026 yang mendorong pertumbuhan ekonomi sangat tinggi, yakni Ramadan dan Idul Fitri. Secara tahunan, ekonomi tetap dalam tren positif.

“Selain itu pada Juli 2026 kita deflasi 0,18 persen (mtm). Tapi secara agregat, Inflasi Sulsel 2026 -2027 diperkirakan terkendali, 2,5±1 persen,” ungkap Rizky lagi.

Dalam pelatihan Capacity Building Wartawan Ekonomi Sulsel itu, BI juga menghadirkan Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip.

Di dalam forum yang sejuk dengan materi yang ‘berdaging’ itu, Sunarsip memaparkan data-data ekonomi yang optimis namun tetap kritis. Sunarsip misalnya menyoroti berita-berita tentang penurunan indeks kredit Indonesia menurut S&P Global Ratings.

Padahal, jika ditelaah lebih utuh, S&P justru mempertahankan peringkat kredit/surat utang RI tetap pada level “BBB” untuk jangka panjang dan “A-2” untuk jangka pendek, dengan outlook “stable” (layak investasi) per 13 Juli 2026.

“Jadi, informasi bahwa S&P yang menurunkan peringkat atau indeks kredit Indonesia itu tidak benar,” ungkapnya. Begitulah cara media dan masyarakat seharusnya memahami informasi. Dengan membaca informasi ekonomi lebih utuh, lebih positif, tantangan ekonomi bisa dihadapi, dan semuanya bisa tetap menjaga resiliensi.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.