Terkini.id, Sumatera Utara – Kisah para siswa di sebuah desa terpencil di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara menjadi viral di media sosial karena kegigihan mereka untuk bisa tetap belajar di tengah pandemi.
Di dusun terpencil tersebut, para murid SD belajar di rumah secara berkelompok dengan tetap mengikuti protokol covid-19.
Sementara para remaja yang menjadi siswa SMP, SMA dan Mahasiswa, harus berjalan kaki hingga 2 kilometer untuk mencari sinyal demi bisa belajar secara online. Bahkan mereka harus manjat di pohon durian.

Perjuangan mereka demi bisa belajar diceritakan oleh pemilik akun Facebook, Renni Rosari Sinaga, pada Sabtu 1 Agustus 2020 kemarin.
- Dirgahayu Yonif 726 Tamalatea, Kapolres Jeneponto Tegaskan Sinergitas TNI Polri Tak Pernah Layu
- Bukan Tentang Trofi, Tapi Harapan, Kisah Megah Cape Verde di Piala Dunia 2026
- YBM PLN UID Sulselrabar Resmikan Griya Singgah Pasien Makassar, Ada Hunian Gratis bagi Pasien Dhuafa dan Keluarganya
- Tarif Listrik Triwulan III 2026 Tetap, PLN Dukung Kebijakan Pemerintah dan Jaga Kualitas Layanan ke Masyarakat
- YBM PLN UID Sulselrabar Gelar Khitanan Massal dan Berbagi Kado Anak Yatim Dhuafa
Renni menceritakan, andaikan sinyal bisa dibeli, dirinya yakin para siswa tersebut akan membelinya.

“Andaikan SIGNAL dapat dibeli…. mereka pun pasti beli” tulis Renni di unggahannya.
Renni menceritakan kondisi para siswa di Dusun Bah Pasungsang yang kesulitan mencari sinyal saat mengikuti kegiatan belajar secara daring di tengah pandemi corona.
Dalam postingannya itu, dia melamporkan potret para siswa SMP maupun SMA yang memanjat pohon durian demi bisa mendapat sinyal untuk bisa belajar secara daring.

Untuk siswa tingkat sekolah dasar mengikuti pelajaran secara luring dengan berkelompok.

Menurut Renni, salah satu alasan para siswa mengikuti pelajaran secara luring karena di daerah itu belum terjangkau internet secara maksimal.
Letak dusun yang berada di antara Gunung Simarsuppit dan Simarsolpah, dianggap menjadi kendala akses internet di daerah itu.
“Aku bercerita tentang anak bangsa yang ada di desa itu. Di Desa Bahpasunsang hanya ada satu gedung Sekolah Dasar.
Di masa Pendemi ini, siswa siswi SD tidak belajar di gedung Sekolah. Mereka taat aturan walau mereka bermukim di kelilingi hutan. Dan tetap belajar dengan luring, secara berkelompok dan mengikuti protokol kesehatan yang diatur oleh Kepala Sekolahnya Asni Selpiani Saragih dan Asni Marchello,” tulis Renni.
Kondisi yang diceritakan Renni diamini oleh Pengulu Nagori atau setingkat Kepala Desa Siporkas, Hendra Putra Saragih.
Mengutip dari tribunnews, dia menceritakan, dari 7 dusun di wilayahnya, 3 dusun terparah untuk sinyal internet adalah Dusun Bah Pasungsang, Dusun Butu Ganjang dan Dusun Borno.
Dirinya bahkan menjelaskan, bahwa jangankan untuk internet, untuk menelpon dari ketiga dusun ini pun tidak mungkin terakses.
“Saat ini aja kita duduk di ketinggian 947 meter. Ada beberapa puncak gunung di sini yang menghalangi (sinyal internet),” ujar salah satu kepala desa termuda di Kabupaten Simalungun ini.
Selain itu, pihaknya sebetulnya telah mencoba menghubungi perusahaan penyedia jaringan internet demi membangun tower di Dusun Bah Pasungsang.
Namun, menurut Hendra, usaha itu belum mendapat respon positif. “Kita sempat surati perusahaan telekomunikasi pemerintah untuk dibangunkan tower jaringan di sini. Tapi gak ada tindak lanjut mereka untuk mau meng’iya’ kan,” ujar Hendra.
Hendra menambahkan, sebetulnya ada tower kecil internet di Balai Desa. Namun, kapasitas kecepatan internet tidak akan memadai jika dipakai beramai-ramai.
“Kita punya tower kecil. Cuma kalau dibuat ramai ramai malah gak bisa dimanfaatkan di kita sendiri untuk kirim file atau dokumen. Dan, kalau kita bukan untuk masyarakat lainnya, justru nanti ada yang iri iri,” terang Hendra.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.