Lestarikan Sastra dari Generasi ke Generasi, Forum Arisan Sastra Dibentuk

Terkini.id, Makassar – Diskusi Sastra & Membagi Pengalaman sukses diselenggarakan oleh Forum Arisan Sastra (FAS) pada Sabtu 13 Juli 2019 lalu.

Kegiatan sastra itu digelar di Ram Studio Jalan Daeng Tata Hartaco Indah Blok IV AD/10 Makassar, mulai pukul 15.00 hingga 21.00WITA.

Asia Ramli Prapanca (Direktur Ram Studio), menyebut, peserta diskusi diundang dengan membawa karya dalam bentuk buku, copian, baik puisi, cerpen, esai, novel, drama, kritik sasta/seni, sejarah, budaya untuk saling memperkenalkan.

Dalam diskusi, peserta diberi ruang dan waktu untuk menyampaikan proses kreatifnya dalam berkarya dan saling membagi pengalaman. Peserta juga diberi ruang dan waktu membacakan karya puisinya.

Selain itu, peserta juga diberi ruang dan waktu untuk menampilkan buku dan tulisan di media cetak dan online pada pameran data yang telah disiapkan di studio.

Chaeruddin Hakim menjelaskan, FAS sebagai penyelenggara diskusi merupakan forum yang sejak setahun lalu direncanakan melalui diskusi bersama Chaeruddin, Hakim, Yudhistira Sukatanya, dan Muhammad Amir Jaya, akan tetapi barulah dibentuk pada tahun ini.

FAS lahir dengan didasari oleh kurangnya ruang dialog bidang pengembangan kesastraan antara satu generasi dengan generasi berikutnya; kurang intensifnya ruang apresiasi termasuk kritik pada pelaku sastra pada berbagai media.

FAS diharapkan juga memberi masukan terhadap karya sastra bagi generasi pemula.

Hingga saat ini, FAS belum memiliki struktur organisasi formal seperti layaknya organisasi pada umumnya. Dalam beberapa diskusi FAS diharapkan berjalan secara alamiah tanpa harus terburu-buru membentuk pengurus tetapi mengikuti perkembangan minat anggota yang terhimpun dalam grup WA.

Orientasi masa depan FAS adalah munculnya beberapa gagasan, program, dan kerja sama dengan pelaku sastra di tanah air, bai regional maupun nasional. Hingga saat ini jumlah anggota FAS pergaulan WA sebanyak 29 orang.

Ram menyampaikan bahwa, diskusi ke-4 FAS ini difasilitasi oleh Ramstudio dengan menghadirkan pelaku sastra dari Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Maros, Pangkep, Barru dan Pare-pare. Di antara yang hadir dan membacakan karya serta menyampaikan proses kreatifnya, antara lain Andi Wanua Tengke, Mahrus Andis, Badaruddin Amir, Chaeruddin Hakim, Ishakim, Tri Astoto Kodarie, Goenawan Monoharto, Ruban (La Ruhe) dan beberapa cerpenis dan penyair muda.

Diskusi ini juga dihadiri oleh beberapa dosen dan mahasiswa UNM dan dosen dan mahasiswa ISBI Sulsel.

Proses Kreatif di Ram Studio

Menurut Andi Wanua Tangke, sejumlah seniman dan sastrawan Sulawesi Selatan mengungkapkan proses kreatifnya di Ram Studio.

Terungkaplah tentang keunikan masing-masing dalam proses mencipta. Dan keunikan itu ternyata tidak kalah dengan keunikan proses kreatif yang dimiliki para sastrawan yang kadang disebut “sastrawan nasional” itu.

“Misalnya, saya termasuk penganut paham sastra kontekstual, sastra realis yang bertumpu pada ide dan peristiwa yang berpijak. Mungkin hal itu mengental pada diri saya lantaran saya lahir dari dunia kewartawanan. Sejak masih kuliah di Fakultas Sastra Unhas, saya sudah menjadi wartawan di harian Fajar,” cerita Andi Wanua Tangke.

Ternyata pengalaman itu mengental dalam pikiran-pikiran Andi Wanua, sehingga karya-karya saya berupa esai, puisi, dan cerpen, sangat dalam kontrol sosialnya.

“Saya tidak bisa menulis prosa yang tidak berangkat dari sebuah peristiwa. Jadi semuanya berawal dari sebuah peristiwa, boleh peristiwa politik, korupsi, pengkhianatan, dendam, kriminal, kemunafikan pejabat, kaum agamawan yang berpura-pura alim, dan lain-lain,” katanya.

Untuk membuktikan itu semua, Wanua Tangke mempersilahkan membaca kumpulan cerpennya yang berjudul “Panra’ka”.

“Dan buku kumpulan cerpen saya yang akan terbit berjudul ‘Prajurit yang Nakal’. Saya bukan penganut paham imajinasi liar, seperti yang dimiliki sastrawan Danarto dan Budi Darma. Saya pengagum karya-karya sastrawan Mochtar Lubis, S Sinansari Ecip, dan Martin Aleida. Dan ternyata mereka itu juga lahir dari dunia kewartawanan,” katanya.

Tiga Unsur Keindahan

Akhir diskusi, Mahrus Andis menyampaikan bahwa hakikat suatu karya sastra ialah mengandung 3 unsur: keindahan (estetika), komunikatif (memiliki interaksi sisologis) dan misterius (ada sesuatu yang menarik untuk dijelajahi di baliknya).

“Ketiga unsur tersebut harus dipahami oleh para peminat sastra, terutama mereka yang baru pemula dalam proses tulis-menulis. Dan hal itu telah diperoleh melalui Forum Arisan Sastra (FAS) di pertemuan ketiga di Ramstudio,” kemarin.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Komunitas

Pengurus KONI Cabang Parepare Resmi Dilantik

Terkini.id,Parepare - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Cabang Kota Parepare melaksanakan pelantikan pengurus periode 2018-2022 dan rapat anggota, yang digelar di Barugae, rumah jabatan