Mengenang Muhammad Jaury Thaufiek Jusuf Putra, Putra Jenderal M Jusuf dan Elly Saelan

Mengenang Muhammad Jaury Thaufiek Jusuf Putra, Putra Jenderal M Jusuf dan Elly Saelan

FD
Ismi Hehamahua
Fachri Djaman

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – ‘Panglima Para Prajurit’ sebuah buku yang ditulis oleh Atmadji Sumarkidjo, seorang sosok wartawan senior dalam catatan biografi Jenderal Jusuf, penerbit Kata Hasta Pustaka, tahun 2006.

Penulis mencoba menggoreskan tulisan, untuk mengenang dan mengingat kembali putra tercinta Jenderal M.Jusuf dan Elly Saelan.

Genap sudah 59 tahun yang lalu (31 Oktober 1960 – 31 Oktober 2019) Wafatnya putra semata wayang, Anak dari Panglima ABRI Jenderal M Jusuf, sosok yang dekat dengan Prajurit dan Media serta Rakyat Indonesia. Dari kanak kanak hingga orang tua pasti mengenal namanya.

Sebagaimana sejarah Perjalanan Hidup Jenderal M.Jusuf ini tidak dapat dipisahkan dengan Sejarah berdirinya RS.Jaury Akademis, berikut kisahnya dilansir dari laman Blog Rumah Sakit Jaury Jusuf Akademis.

Oleh ibunda tercinta Elly Jusuf Saelan, yang juga merupakan saudara Kandung dari Pahlawan Emmy Saelan yang gugur sewaktu bertempur melawan Belanda di Kassi Kassi, Monumen perjuangannya bersama para pejuang yang gugur, sekarang berada di Jalan Hertasning depan kantor Diknas Kota Makassar.

Baca Juga

Ada juga saudara laki-laki satunya dari Elly Saelan , Maulwi Saelan, salah satu Pejuang Perang Kemerdekaan, berkarir di Militer, Ajudan Presiden Bung Karno juga Pemain sepak bola Timnas.

Jaury, demikian terpatri pada nama sosok bocah lelaki, adalah dari kata AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia), Sewaktu lahir, Sang ayah, masa itu masih berpangkato Kolonel,

M.Jusuf dahulu sering berada berdinas di AURI (sekarang TNI-AU ) di pangkalan udara Mandai. maka kata AURI ditambah J didepannya (dari J nama Jusuf), dan huruf I dibelakang diganti dengan Y (diambil dari hurufY huruf terakhir dari nama ibu Elly) menjadi namanya.

Nama lengkapnya adalah Muhammad Jaury Thaufiek Jusuf Putra ,dengan panggilan kesayangan, Jaury.

Jaury kecil tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan tentu saja khas kelincahan anak kecil.Dan idolanya tentu saja adalah Tentara seperti sang Ayah tercinta.

Karena pengaruh ayahnya yang berkarir di Dunia militer, dari Kepala Staf Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST) di Makassar, Februari 1959, Panglima KDMSST, Oktober 1959, Meraih Pangkat Kolonel, Juli 1960, Panglima Kodam XIV/Hasanuddin di Makassar (1960 – 1964 ) Panglima ABRI/ Mengancam dalam Kabinet Pembangunan III (29 Maret 1978–19 Maret 1983, juga pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan.

Menjadi anak satu-satunya, tentu saja berarti pula menjadi perhatian satu- satunya keluarga yang tinggal di rumah pojok jalan Sungai Tangka, Makassar. Tetapi sosok Jaury tidak menjadi manja walaupun boleh dikata Jenderal Jusuf sebagai Pangdam dan sekaligus Panglima Pelaksana Perang Daerah, praktis adalah orang yang paling berkuasa di wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Sang ayah, dengan singkat melukiskan mengenai anaknya, Jaury sejak lahir hingga usia cukup besar tidak pernah sakit. Sering kali, pagi hari setelah sembahyang subuh ia berdiri didepan jendela berangin-angin lama sambil menikmatinya.

Apabila ada tamu atau orang yang hendak bertemu dengan pemilik rumah , maka yang menemui atau menyambutnya adalah terkadang, Jaury sendiri.

Anak yang menggemaskan itu tanpa disuruh seolah-olah bertindak sebagai ‘ajudan’ dan terkadang mengatakan bahwa ayahnya sedang ‘tidur’ , atau juga sedikit ‘menjawab seadanya’ dengan mengatakan ayahnya sedang pergi keluar apabila tamu itu tidak begitu dikenal.

Keaktifannya yang luar biasa dalam usianya yang relatif muda, mengkhawatirkan sang Ibundanya juga. Karena itu dalam usia yang lebih muda dari yang diharuskan, Jaury sudah dimasukkan sekolah taman kanak- kanak di kota Makassar juga.

Disuatu hari, Elly Jusuf menceritakan, betapa dirinya mempunyai firasat dan tanda tanda melihat anak kandungnya yang aktivitas dan kecerdasannya seperti jauh melampaui usia fisiknya.

Maka dengan disekolahkan, maka diharapkan Jaury kecil, mempunyai tempat penyaluran keaktifannya dan mendapat teman- teman yang lebih luas lagi lingkungannya. Setelah TK, ia masih sempat masuk untuk beberapa bulan di SR (Sekolah Rakyat) yang sekarang menjadi lokasi SD Nusantara.

Seperti biasa, setiap hari Jaury diantar atau dijemput dengan kendaraan sepeda.

Pagi hari, ia di antar dan siang, selesai jam sekolah, sang penjemput utusan dari rumah yang setia sudah menunggu dihalaman sekolah. Itu sudah menjadi bagian dari rutinitas Jaury .

“ Kalau jam pulang sudah hampir sampai, dia harus lihat yang menjemputnya barulah tenang.” ujar salah seorang temannya dahulu.

Suatu hari, Jaury pulang seperti biasa, dan duduk di boncengan. Entah mengapa, salah satu kakinya masuk kejari-jari sepeda yang menyebabkan ia berdarah. Sampainya dirumah, Jaury dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Karena obat-obatan di Makassar ( dan juga seperti banyak tempat lain ) amat langka pada masa tahun 1960, pengobatan terhadap luka kakinya tidak bisa sempurna betul.

Apalagi sifat kanak kanak dari Jaury kecil yang tidak bisa tinggal diam, memperbesar resiko luka itu menjadi lebih terbuka.

Hingga luka Jaury kecil, kemudian menjadi infeksi yang parah. Suhu badannya kemudian meninggi dan ia akhirnya meninggal. pada tanggal 31 Oktober 1960 Jaury kecil wafat.

Sosok yang tampan, dengan rambut rapi menyamping, mempunyai senyuman yang membuat semua melihat gemas, tingkah lakunya terkadang lucu, pandai dan enerjik telah berpulang kehadirat yang Maha Kuasa, meninggalkan kenangan yang mendalam kepada keluarga tercinta.

Takdir berkata lain, Yang maha kuasa, berkehendak lain, memanggil Jaury kecil lebih cepat.

Jaury dimakamkan di TPU Paropo/Panaikang disamping pusara sang Ayah, Jenderal M.Jusuf ( 23 Juni 1928 – 08 September 2004) dan Ibu tercinta, Elly Saelan ( 10 Mei 1929 – 11 Oktober 2014).

Anak semata wayang ini, namanya di abadikan sebagai nama rumah sakit swasta, yang didirikan oleh Jenderal M.Jusuf bersama Elly Saelan, dibangun khusus untuk mengenang putra tunggalnya, berawal dari rasa keprihatinan Jenderal M.Jusuf dan Elly Saelan akan kondisi susahnya mengakses pengobatan di era 1960-an.

Terletak di Jalan Jenderal.M.Jusuf, berdirilah sebuah rumah sakit karya monumental, dimana peletakan batu pertama pembangunan di Tahun 1962.

Tanpa terasa kehadiran Rumah Sakit ini, yang menyematkan nama RS.Jaury Akademis. Hasil pemikiran Jenderal Jusuf, melalui perjalanan yang cukup panjang, kini ditahun 2019, Rumah Sakit ini telah memasuki usia ke 57-Tahun. lebih setengah abad berkiprah di dunia Medis, berkarya buat Indonesia bersama buah pemikiran pendirinya.

Di jalan Jenderal M Jusuf ini juga berdiri Masjid kebanggaan warga kota Makassar, Sulawesi Selatan dan Indonesia.

Terpatri nama Jenderal M.Jusuf, pembaca bisa melihatnya pada bingkai Penandatanganan prasasti dimana penggunaan Nama Mesjid Al-Markaz Al-islami Jenderal M.Jusuf, ditanda tangani langsung oleh M.Jusuf Kalla, selaku Wakil Presiden RI, Tanggal 13 November 2005 / 11 Syawal 1426 H serta ada juga guratan tulisan, Diresmikan tanggal 21 Syaban 1416 H / 12 Januari 1996 , Pemrakarsa/ Pendiri/ Ketua Umum Jenderal M.Jusuf.

Bergeser ke Jalan Jenderal Sudirman, sebuah bangunan megah, bernama Balai Prajurit Jenderal M.Jusuf.

‘Pejuang adalah Pejuang yang gagah berani, orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran’ Maulwi Saelan (08 Agustus 1926-10 Oktober 2016)

Terakhir, teringat pesan pidato dari Bung Karno, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961 “Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghormati jasa Pahlawannya

Sudah seyogyanya kita mengingat, menghargai dan mencerminkan sikap seperti dari para Tokoh Bangsa dan Pahlawan demi membangun para generasi muda, penerus cita cita perjuangan menuju Indonesia yang maju dan unggul.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.