Momen Mengharukan, 16 Tahun Menanti, Syifa Akhirnya Dipeluk Sang Ibu

Momen Mengharukan, 16 Tahun Menanti, Syifa Akhirnya Dipeluk Sang Ibu

S
Syarief

Penulis

Terkini, Bulukumba – Penantian panjang yang memilukan hati itu akhirnya berakhir sudah. Di ruang perawatan Rumah Sakit Andi Sultan Daeng Radja, suasana haru mendalam menyelimuti siang hari, Sabtu, 16 Mei 2026. Di atas ranjang tempat ia terbaring lemah, Syifa (16 tahun) akhirnya mendapatkan apa yang selama ini menjadi satu-satunya doa dan harapan hidupnya, ” pelukan hangat dari ibunya kandung”.

Enam belas tahun lamanya, nama ibu menjadi kata yang paling sering ia ucapkan. Enam belas tahun pula, ia hidup memendam rasa rindu yang tak bertepi, dibesarkan penuh kasih sayang oleh sosok Lansia tangguh bernama Sajuang, yang menjaganya seperti darah daging sendiri sejak ia masih bayi mungil.

Kisah Syifa dimulai pada tahun 2010 silam. Ia lahir di atas kapal penumpang yang berlayar dari Pelabuhan Tuno, Nunukan, menuju Pelabuhan Pare-Pare. Saat itu, seorang wanita yang belum diketahui identitas lengkapnya melahirkan dengan bantuan seorang bidan bernama Ibu Rajakati warga Bulukumba. Namun, takdir berkata lain. Saat kapal bersandar dan penumpang turun, sang ibu pergi meninggalkan bayi mungil itu begitu saja.

Bidan Rajakati pun membawa Syifa pulang ke kampung halamannya di Bulukumba dan menyerahkannya kepada Kakek Sajuang dan istrinya yang berdomisili di wilayah Ela-Ela. Sejak saat itulah, Sajuang menjadi segalanya bagi Syifa. Ia membesarkan, merawat, dan menyayangi Syifa dengan sepenuh hati, mengisi kekosongan kasih sayang yang seharusnya didapatkan dari orang tua kandung. Meski begitu, di sudut hati terdalam Syifa, selalu ada ruang kosong yang tak terisi, rasa ingin tahu dan rindu yang mendalam pada sosok wanita yang melahirkannya.

“Setiap hari ia bertanya, ‘Nenek, di mana ibuku? Apakah ia masih ingat aku?’. Rasanya sakit hati mendengarnya, tapi kami hanya bisa menenangkannya dan berdoa agar suatu hari keajaiban itu datang,” kenang Nenek Sajuang dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga

Selama 16 tahun itu pula, Syifa sering berkata, ia tidak menuntut apa-apa. Ia rela meski ibunya tidak menginginkannya. Ia hanya ingin sekali melihat wajah itu, berbicara, dan merasakan satu kali saja pelukan ibu, yang sering ia dengar adalah hal terhangat di dunia.

Beberapa waktu terakhir, kondisi kesehatan Syifa menurun drastis. Tubuhnya yang kurus semakin lemah, hingga ia harus dirawat intensif di rumah sakit. Di tengah rasa sakit dan lemasnya, kata-kata yang selalu keluar dari bibirnya tetap sama: “Aku ingin bertemu Ibu… Aku ingin dipeluk Ibu.”

Berita tentang kisah hidup Syifa yang menyayat hati itu menyebar luas. Banyak orang terenyuh, berdoa, dan berusaha mencari keberadaan ibunya kandung. Pesan-pesan harapan disebar ke mana-mana, berharap angin membawa kabar itu sampai ke telinga wanita yang melahirkannya. “Datanglah, anakmu rindu, anakmu sedang sakit dan menunggumu,” begitu pesan yang tersebar. Dan doa itu akhirnya terkabul.

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, pintu ruangan terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah gontai namun tergesa, wajahnya penuh linangan air mata. Begitu melihat sosok itu, mata Syifa yang sempat sayu karena sakit, seketika berbinar. Ia berusaha mengangkat kepalanya yang berat, bibirnya bergetar menyebut satu kata: “Ibu…?”

Wanita itu menghampiri di samping ranjang, dan tanpa kata-kata langsung merengkuh tubuh kurus putrinya itu ke dalam pelukan erat, sangat erat, seolah takut akan kehilangan lagi. Tangis pecah di ruangan itu. Tangis haru, tangis rindu, dan tangis penyesalan yang melebur jadi satu.

“Ini Ibu, Nak… Maafkan Ibu… Ibu datang,” isak wanita itu sambil memeluk dan mencium kening, pipi, dan tangan Syifa tanpa henti.

Syifa yang semula terbaring lemah, berusaha sekuat tenaga membalas pelukan itu, menempelkan kepalanya di dada ibunya, mendengarkan detak jantung yang selama ini ia cari. Wajahnya terlihat damai, tersenyum bahagia di sela-sela air mata yang mengalir deras. Rasa sakit di tubuhnya seolah hilang seketika, tergantikan oleh rasa bahagia yang tak terlukiskan.

Momen itu berlangsung lama. Di ruangan itu, tidak ada lagi kisah tentang anak yang ditinggalkan. Yang ada hanyalah seorang ibu dan anak yang bersatu kembali setelah terpisah belasan tahun.

Kini, meski kondisi kesehatan Syifa masih memerlukan perawatan intensif, ada perubahan besar yang terlihat. Cahaya semangat kembali bersinar di matanya. Ia sudah mendapatkan apa yang ia cari seumur hidupnya: jati diri dan kasih sayang asal-usulnya.

Bagi Syifa, 16 tahun penantian yang panjang dan berat itu terbayar lunas dalam satu pelukan hangat itu. Di pelukan itulah ia menemukan ketenangan, dan di sanalah rindu yang membara itu akhirnya padam, berganti menjadi kebahagiaan yang sederhana namun paling berharga bagi seorang anak.

Kisah ini menjadi bukti bahwa kasih sayang seorang anak kepada ibunya tidak pernah pudar, meski terpisah waktu dan jarak. Dan keajaiban akan selalu ada, bagi mereka yang terus berdoa dan menanti dengan hati yang tulus.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.