Mullah dan Motivated Reasoning

DALAM kisah berhikmah para sufi, diceritakan bahwa suatu ketika Mullah Nasruddin Hoja telah bertekad untuk tidak meminjamkan keledainya kepada siapa pun. Pada suatu sore, seorang kawan datang ke rumahnya untuk meminjam keledai. Mullah menjelaskan bahwa keledainya tidak ada di rumah. 

Tetapi saat itu pula, keledainya yang ia ikat di belakang rumah tiba-tiba bersuara.

“Mullah, katamu keledai itu tak ada di sini. Kalau begitu yang bunyi itu suara apa?” Tanya si kawan.

Baca Juga: Azan sebagai Praktik Komunikasi Islam

“Aku sungguh heran padamu,” kata Mullah. “Setelah 40 tahun kita bersahabat, kamu masih tidak percaya perkataanku, dan bahkan kamu lebih percaya pada suara keledai.”

***

Ada fenomena yang begitu memprihatinkan kehidupan kita saat ini. Hampir sepuluh tahun terakhir, kehidupan sosial kita terpolarisasi ke dalam perseteruan dua golongan, cebong dan kampret. Belakangan berubah menjadi cebong-kadrun. 

Sudah cukup lama masyarakat kita masih tersandera dalam situasi perseteruan cebong-kadrun.  Hingga kini masih banyak yang belum mampu move on. Bahkan situasi ini nampaknya masih akan terus berlanjut. 

Dalam ruang-ruang publik baik dunia nyata maupun dunia maya, apa yang kita lakukan, ucapkan, atau tuliskan, dapat saja diidentifikasi sebagai salah satu dari dua golongan itu. Kalau tidak cebong berarti kadrun, kalau tidak kadrun berarti cebong. Tulisan ini juga mungkin ada yang akan berupaya mengidentifikasi berpihak ke mana, cebong atau kadrun. 

Sekali lagi, hal ini sangat memprihatinkan. Tidak saja pada terganggunya kehidupan berdemokrasi dan ruang publik, tetapi lebih mendasar lagi pada terganggunya kualitas mental, akal dan intuisi. Selalu terdapat bias pada proses kognitif yang mendahului simpulan atau putusan seseorang. Kita sedang menuju pada situasi sosio-psikologis dimana sesuatu yang dianggap benar adalah apa yang sesuai dengan keinginan pribadi atau kelompok sendiri. 

Keadaan seperti di atas, disebut oleh seorang psikolog sosial di University of California, Peter Ditto, Ph.D., sebagai  “motivated reasoning (penalaran termotivasi). Demikian ditulis Kirsten Weir, dalam artikelnya; Why We Believe Alternative Facts. Istilah motivated reasoning dimaknai sebagai kecenderungan kognisi manusia yang meresapi motivasi, emosi atau intuisi, lalu memengaruhi penilaiannya pada sesuatu.
 
Mengutip Irvine, Weir menambahkan bahwa tidak sedikit orang terlihat mampu menjadi bijaksana dan rasional, tetapi keinginan, harapan, kekhawatiran, dan motivasinya sering kali membuatnya lebih mungkin untuk menerima sesuatu sebagai kebenaran jika itu mendukung apa yang ingin ia percayai.

Salah satu hasil penelitian Ditto menunjukkan, bahwa seseorang menafsirkan fakta secara berbeda jika fakta tersebut menantang keyakinan pribadi, identitas kelompok, atau nilai moralnya. Dalam istilah media modern, dapat ditemukan bahwa seseorang dengan cepat membagikan artikel politik di media sosial jika itu mendukung keyakinannya, tetapi sebaliknya lebih cenderung memeriksa fakta jika tidak mendukung keyakinan atau pikirannya.

Dalam dunia asmara, keadaan ini dikenal dengan ungkapan Gombloh; “bila cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat”. Atau kata Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora; “diam-diam cinta, dunia ini rasanya milik kita berdua”. Tidak ada hal lain yang rasional, kecuali  yang mendukung cintanya.

Setidaknya ada dua hal yang membuat pikiran dapat mengalami bias, yakni terlanjur cinta dan terlanjur benci. Dalam bentuk quote (19 Februari 2019), saya pernah menuliskan; “logika lebih sering bekerja lenceng karena didahului oleh rasa suka atau benci”. 

Seseorang dalam waktu yang sama mengalami dua kondisi jiwa yakni putih tapi juga hitam. Yakni menjadi pecinta atas apa yang ia senangi, sekaligus menjadi pembenci dari apa yang berlawanan atau berbeda dengannya. Kondisi mental black white inilah yang mendahului dan memotivasi bekerjanya nalar dalam proses kognisi. 

Dengan begitu, kedudukan akal atau nalar hanya bekerja sebagai “pembantu” yang bertugas merasionalkan rasa suka dan benci. Jika dalil rasional tertumbuk oleh fakta empirik yang berlawanan, ia memilih mendiamkan dan sebisanya mengalihkan pada dalil moral. Misalnya dengan pernyataan; “itu hal biasa, ambil hikmahnya saja”. Singkatnya, selalu ada argumen untuk apa yang ia cintai dan ia benci.

Layaknya Mullah, ketika fakta empirik yang diterima panca indera (suara keledainya) tidak mendukung argumennya, maka dengan cekatan ia mengalihkan perbincangan ke ranah moral. “Setelah 40 tahun kita bersahabat, kamu masih tidak percaya perkataanku, dan bahkan kamu lebih percaya pada suara keledai.”

Media sosial menjadi ruang publik bertaburan ekspresi individu atau kelompok pecinta sekaligus pembenci. Kelompok satu memuji-muji pujaannya sambil mencibir yang dibencinya. Kelompok yang satu juga melakukan hal yang sama. Sehingga kadang mereka menggunakan dalil moral yang sama dalam argumen satire. 

Misalnya dengan kata bijak berikut; “Tak perlu menasehati orang yang sedang jatuh cinta karena mereka tak akan pernah mendengar. Mata mereka buta, telinga mereka tuli, dan hati mereka sudah tetap pada pujaan. Biarkan saja sampai mereka merasakan sendiri sakitnya jatuh cinta yang terlalu dalam”.
Akibat dari keadaan mental ini adalah seorang mudah tersinggung, pada setiap tanggapan selalu merasa “diserang”, sulit menerima hal baik atau nasehat dari orang berbeda, merasa paling benar sendiri dan yang lain salah, sulit mengakui kesalahannya, tapi mudah mencari kesalahan pihak lain, dan cenderung memaksakan kehendak.

Sungguh kita sedang menghadapi ancaman terhadap masa depan ruang publik yang sehat. Namun demikian kita masih ada harapan untuk memperbaiki. Habermas mengajukan tiga kriteria ruang publik ideal yakni; (a) disregard of status, (b) domain of common concern, dan (c) inclusivity.

Disregard of status yaitu pengabaian terhadap problem status. Ruang publik tidak menghendaki persamaan status. Setiap orang, siapa pun dia dan dengan status apapun yang disandangnya, memiliki kesempatan yang sama memberikan gagasan atau opini secara kritis terhadap realitas terutama kebijakan yang dikeluarkan oleh kekuasaan.

Domain of common concern yaitu domain yang memiliki perhatian pada prinsip keumuman, tujuan-tujuan bersama, kepentingan-kepentingan umum. Dalam ruang publik ideal, tidak boleh ada domain yang hanya dapat ditafsir oleh kelompok dan kepentingan tertentu saja.

Inclusivity yaitu adanya kesiapan dan kemampuan untuk menjadi bagian dari publik. Setiap gagasan yang hendak dibawa masuk ke dalam ruang publik, tidak lagi menjadi gagasan tertutup, melainkan gagasan yang dapat diakses oleh publik, dieksplor secara kritis, didialogkan untuk melahirkan kesepakatan bersama.

Semoga puasa tahun ini dapat menyehatkan penalaran dan mental. Membuat kita move on dari polarisasi  yang sangat tidak berguna bahkan merugikan kehidupan berbangsa kita.

Banga, 15 April 2022

Penulis: Hamdan eSA (Dosen Universitas Al Asyariah Mandar)

Bagikan