Atas dukungan program pemberdayaan sebuah perusahaan tambang, Desa Tabarano sukses menjawab tantangan ekologis melalui Gerakan Budidaya Nanas. Ini sekaligus menumbuhkan kembali identitas budaya bertanam ‘nanas’ masyarakat setempat, yang sudah lama tertimbun.
Terkini, Wasuponda – Di sebuah hamparan tanah yang luas di Wasuponda, Luwu Timur, tumbuh puluhan ribu batang nanas, menyembul dengan subuh di atas tanah yang berbatu. Siapa sangka, lahan itu dahulunya adalah padang ilalang yang sering terbakar, dan membuat repot warga Desa Tabarano.
Kini, atas upaya dan tekad yang kuat, Kepala Desa, Warga Tabarano bersama berbagai kalangan yang membantu, bisa mengubah kawasan itu menjadi destinasi agrowisata baru yang berakar kuat pada kearifan lokal.
Kawasan ini mulai digarap pada 2022 silam. Lalu, belakangan, perusahaan tambang yang beroperasi tidak jauh dari desa itu, PT Vale Indonesia ikut mendukung dengan menggelontorkan program-program pemberdayaan dan pengembangan.

Lalu beberapa tahun kemudian, bibit-bibit nenas mulai tumbuh, dari 10 pohon menjadi puluhan ribu pohon. Masyarakat pun ‘memetik’ cuan dari orang-orang yang datang mencicipi dan membeli olahan nenas Tabarano.
- BAST Renovasi Ditandatangani, DPRD Makassar Segera Tempati Gedung di Kantor Lama
- Baru Pimpin BGN, Sudaryono Langsung Gasak 261 Pegawai, 883 SPPG Ditutup Permanen
- DPD PDI Perjuangan Sulsel Gelar Diskusi Refleksi 30 Tahun Peristiwa 27 Juli 1996, Teguhkan Komitmen Merawat Demokrasi
- Tip Penting Sebelum Membeli Mobil Listrik: Paling Penting Perlindungannya
- Unhas Tetapkan Tim Penasihat Bisnis PT Haldin Metavisi Akademika, Berikut Nama-namanya
Rupanya, ada hal lain yang membuat Kepala Desa Tabarano, Rimal Manuk Allo, bersama PT Vale, tergerak untuk mengubah lahan ilalang tersebut menjadi kebun nanas.
“Kita dulu kadang malu ketika orang datang ke Wasuponda dan bertanya, ‘Bu Desa, pasti banyak nanas di sini ya untuk oleh-oleh?’ Padahal kenyataannya tidak ada. Itu yang mengetuk kesadaran kami,” cerita Rimal Manuk Allo.
Ia mengisahkan, nama Wasuponda berasal dari dua kata dalam bahasa lokal: wosu berarti batu, dan ponda berarti nanas—artinya, nanas yang tumbuh di atas batu. Nama ini bukan metafora, melainkan cerminan dari sejarah panjang alam daerah tersebut. “Kalau di atas batu saja bisa tumbuh nanas, masa di tanah tidak?” lanjutnya.
Dari Tanah Terbakar Menjadi Tanah Harapan

Gagasan untuk menanam nanas bukan sekadar ambisi pertanian. Lahan yang mereka garap sejak 2022 sejatinya adalah tanah kritis—kering, mengandung silika tinggi dan memiliki pH rendah. Hampir mustahil menanam sayuran palawija atau tanaman keras di sana. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, wilayah itu menjadi langganan kebakaran lahan.
Menurut Rimal, lahan itu sebelumnya bukan “lahan tidur”, tapi lahan yang dipaksa tertidur. “Karena setiap kali masyarakat mencoba menanam pohon, akar tanaman akan mati ketika menyentuh lapisan silika di dalam tanah.”
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
