Opini: Tulisan Abstrak Tentang Literasi Dalam Era Disrupsi

https://www.qureta.com/uploads/post/99477_50541.jpg

Zaman telah berubah. Menghadapi era disrupsi ini dengan segala kemajuan dan problematika yang harus dilalui. Ragam masalah yang lahir di zaman ini menimbulkan sesuatu yang mengkhawatirkan dan menimbulkan banyak pertanyaan di benak kita. Apakah kita akan digantikan oleh mesin atau robot? Atau lebih tepatnya Artificial Intelligence yang mulai menggantikan peranan manusia dalam dunia kerja karena terbukti efektif dan efisien dalam melakukan sesuatu.

Begitupun pentingnya eksistensi peranan manusia dalam hal revitalisasi nilai-nilai moral dan kemanusiaan perlu dibangkitkan kembali. Sama halnya tentang daya saing menyikapi era disrupsi ini yang mengakibatkan sulitnya lapangan pekerjaan bagi beberapa individu yang tidak mampu untuk menghadapinya. Masalah mengenai peningkatan kapasitas SDM juga menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.

Teknologi dalam era disrupsi tentunya bukan hanya sekadar objek hiburan bagi kita. Masih banyak pula ragam manfaat yang dapat diambil dan menjadi support system kita untuk meningkatkan kualitas diri. Salah satunya yaitu memanfaatkan Literasi Baru melalui teknologi. Literasi lama (membaca, menulis, dan matematika) dulunya adalah modal dasar untuk berkiprah di masyarakat.

Di era disrupsi ini, penerapan literasi baru seperti keterampilan kepemimpinan, bekerja dalam tim, kelincahan dan kematangan budaya (Cultural Agility), dan Entrepreneurship sangatlah penting dalam ruang lingkup persaingan yang semain ketat ini.

Literasi baru ini bertujuan agar manusia lebih berfungsi dengan baik di lingkungan manusia; Humanities, Komunikasi, dan Design. Literasi Baru juga dapat memberikan kontribusi terbaik bagi pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Contohnya saja yaitu penerapan Lifelong Learning sebagai usaha dalam menanamkan mindset bagi setiap individu untuk bisa belajar sepanjang hayat tanpa adanya batasan usia.

Literasi baru di era disrupsi ini, memberikan dorongan yang begitu dahsyat bagi setiap individu dalam meningkatkan kualitas diri untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (Lifelong Learner) dengan ekspektasi untuk bisa beradaptasi dan berkembang dengan baik dalam menghadapi beragam tantangan global di kemudian hari. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Natsir saat menjadi Keynote Speaker pada Diskusi Pendidikan dan Pembelajaran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada tahun 2018 silam pernah mengatakan bahwa perguruan tinggi semakin dituntut untuk mempersiapkan mahasiswanya menghadapi pekerjaan yang belum ada (future jobs).

Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya pembelajaran inovatif seperti ini, menjadi sebuah gebrakan baru bagi setiap individu dalam meningkatkan kapasitas intelegensinya sepanjang hayat untuk bisa memberikan inovasi dan kontribusi terhadap bangsa dan negara. Hingga dari hal terkecil pun, Lifelong Learning memberikan kontribusi yang baik pula jika telah diimplementasikan secara intensif kepada ibu-ibu ataupun orang dewasa yang tidak sempat mendapatkan pendidikan di jenjang SMA ataupun kuliah.

Contoh konkrit penerepan Lifelong Learning yang ada saat ini seperi Komunitas Lifelong Learning Mamas yang merupakan komunitas ibu-ibu di Yogyakarta yang berusaha menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang edukatif di sela-sela menunggu putra-putrinya bersekolah

Ada pula yang disebut Blended Learning, merupakan tipe pembelajaran yang menggabungkan sistem pembelajaran digital dan konvensional. Solusi pembelajaran ini juga difasilitasi oleh SPADA (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia). Dengan kutipan, “One professor, thousand students.” menginterpretasikan bahwa Blended Learning merupakan solusi terhadap masalah pembelajaran seperti jumlah dosen yang terbatas dan jumlah mahasiswa yang terus bertambah.

Dengan meningkatnya kecanggihan teknologi, Blended Learning memanfaatkan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi untuk peningkatan produktivitas dengan tetap memperhatikan harmonisasi peraturan kurikulum yang berlaku. Contohnya saja seperti: Video Conference, Online Learning, dan Resource Sharing.

“Dengan ilmu, semua menjadi mudah, tapi dengan agama menjadi terarah. Orang pintar tanpa Tuhan itu berbahaya. Sekarang juga tidak bisa lagi Single Fighter, perlu kolaborasi. Nantinya hubungan itu akan timbul konflik, konsensus, dan sinergi. Tergantung bagaimana kita memanfaatkan.” Ujar Abdul Wahid Maktub, Staff Khusus Kemenristekdikti saat mengisi seminar dari Laboratorium Diplomasi HI UPN, Selasa (03/04/2018).

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa peranan kita sebagai manusia untuk bisa menyadari akan pentingnya kolaborasi dalam memanfaatkan teknologi dengan bijak dan tetap memperhatikan aspek kemanusiaan kita sebagai manusia yang menjunjung tinggi nilai religiositas dan kemanusiaan yang sekaligus menjadi peranan kita dalam menghadapi era disrupsi ini.

Akhir kata, mari kita bergerak bersama dalam menghadapinya. Tenang, manusia tidak akan bisa digantikan oleh robot yang tidak berperasaan. Kecanggihan teknologi hanyalah sesuatu yang suportif, kita memanfaatkannya.

Berita Terkait