Terkini, Makassar — Pameran tunggal kaligrafi bertajuk “Kaligrafi Islam, Aksara Latin, dan Lontara” digelar di Benteng Somba Opu, Baruga Somba Opu, pada 22–26 September 2025, pukul 09.00–17.00 WITA. Pameran ini menampilkan 1.000 karya kaligrafi hasil goresan tangan Prof. Dr. Abd. Aziz Ahmad, M.Pd.
Acara berlangsung meriah dan ramai pengunjung. Tidak hanya masyarakat umum, mahasiswa dari berbagai universitas di Makassar hingga pelajar SMA turut hadir menyaksikan karya yang memadukan seni, budaya, dan spiritualitas.
Dari ribuan karya yang dipajang, salah satu pengunjung bernama Sabila mengaku terkesan dengan kaligrafi bertuliskan “Ilmu itu bukan dihafal tetapi memberi manfaat” karya Imam Asy Syafi’i.
“Dari 1000 karya Prof, saya paling suka bagian kata-katanya yaitu ‘Ilmu itu bukan dihafal tetapi memberi manfaat’. Maksudnya, menurut saya jika orang tahu atau paham sesuatu, kalau tidak bermanfaat atau tidak disalurkan ke orang lain itu hanya menjadi ilmu saja. Jadi sebaik-baiknya manusia itu yang memberi manfaat kepadanya,” ujar Sabila.
Dalam pameran ini, Prof. Dr. Abd. Aziz Ahmad menjelaskan filosofi di balik perpaduan aksara Islam, Latin, dan Lontara dalam karya kaligrafinya.
- Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Business Plan pada UMKM Wanita Mandiri 'Ogie' - BUMDesa Ana Ogie
- Deretan Da'i Nasional Siap Meriahkan Tabligh Akbar Nasional dan Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal Besok
- Meriahkan HUT ke-81 RI, Disdikbud Jeneponto Gelar Lomba Antar Bidang, Dari Joget Balon Hingga Lari Sarung
- Dinkes Sulsel Jadi Pemateri Orientasi Kader Posyandu Tentang Implementasi Pencatatan dan Pelaporan di Jeneponto
- Breaking News: Husniah Talenrang Kembali Diperiksa di Polda Sulsel
Jika aksara Islam melambangkan ketauhidan, Latin melambangkan komunikasi modern, dan Lontara melambangkan warisan leluhur, bagaimana ketiganya berdialog di dalam karya Prof. Aziz?
“Kalau dalam Islam, aksara Arab atau aksara Islam itu melambangkan ketauhidan. Lalu aksara Latin melambangkan komunikasi modern, karena merupakan aksara nasional yang digunakan di seluruh Indonesia. Sedangkan aksara Lontara melambangkan warisan budaya, khususnya bagi masyarakat Sulawesi Selatan,” jelasnya.
Prof. Aziz menambahkan, meski jarang ketiga aksara itu hadir bersama dalam satu kanvas, kombinasi dua aksara kerap ia gunakan.
“Sebenarnya, jarang sekali ketiga aksara itu digabung sekaligus. Biasanya hanya dua, misalnya aksara Lontara dipadukan dengan aksara Arab, atau aksara Arab dipadukan dengan Latin. Contoh: saya pernah membuat karya dengan tulisan ‘Katakanlah yang benar walaupun itu pahit’. Tulisan itu saya tampilkan dalam aksara Arab sekaligus Latin. Tujuannya, agar orang yang tidak mengerti aksara Arab tetap bisa memahami maknanya melalui aksara Latin sebagai tulisan nasional.
Kadang juga ada karya yang menggunakan aksara Latin saja, tetapi maknanya bersumber dari teks Arab. Misalnya ada ungkapan yang jika diterjemahkan ke dalam Latin berbunyi ‘pada Allah atau pada Ufa’. Artinya, kita sama-sama menuju ke sana (kepada Allah), tetapi mungkin dengan nasib atau jalan yang berbeda,” ujar Prof. Aziz.
Menurutnya, setiap aksara memiliki peran yang saling melengkapi. Aksara Arab membawa nilai religius, aksara Latin menjadi sarana komunikasi luas, dan aksara Lontara menghadirkan identitas budaya.
Pameran tunggal ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga ruang refleksi tentang makna aksara dalam kehidupan. Melalui perpaduan kaligrafi Islam, Latin, dan Lontara, Prof. Dr. Abd. Aziz Ahmad berhasil menghadirkan karya yang tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga sarat makna spiritual, budaya, dan kemanusiaan.
Laporan: Fitriyani Suhasti (Mahasiswa PPLN UIN Alauddin Makassar)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
