Pemimpin yang tidak peduli pada budaya atau bahkan menghambat pelestariannya hanya akan merusak identitas masyarakat.
Tradisi yang diabaikan lama-kelamaan akan hilang, dan masyarakat akan kehilangan akar sejarah serta nilai-nilai yang mengajarkan kebersamaan dan kearifan hidup.
Ketika seorang pemimpin tidak memahami pentingnya budaya, mereka tidak hanya menolak tradisi, tetapi juga menutup ruang dialog antara masa lalu dan masa depan.
Pemimpin seperti ini tidak cocok untuk Sulawesi Selatan, yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban di Nusantara.
Membangun Sulawesi Selatan dengan Kearifan Lokal
- Momentum Hardiknas, Universitas Hasanuddin Dorong Transformasi Pendidikan Tinggi
- Hardiknas 2026, Munafri Dorong Pemerataan Pendidikan Berkualitas di Makassar
- Hardiknas 2026, Pemkot Perkuat Komitmen Pendidikan dan Tekan Angka Anak Tidak Sekolah di Makassar
- TMMD ke-128, RTLH di Arungkeke Capai 55 Persen, Rumah Tak Layak Berubah Jadi Hunian Layak
- Dirut Pelindo Dorong Layanan Pelabuhan Lebih Aman dan Efisien di Makassar
Pemimpin yang ideal adalah mereka yang menjadikan kearifan lokal sebagai panduan dalam mengambil kebijakan. Kebijakan yang berbasis budaya akan lebih dekat dengan masyarakat, mudah diterima, dan memiliki dampak jangka panjang yang positif.
Sulawesi Selatan butuh pemimpin yang:
1. Mendukung pelestarian budaya, seperti memberikan perhatian pada acara adat, ritual tradisional, dan kesenian lokal.
2. Mendorong pendidikan budaya, sehingga generasi muda tidak melupakan warisan leluhur.
3. Melibatkan masyarakat adat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tradisi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
