Peneliti Kelti Silvikultur Bahas Pengembangan Spesies Kayu Kuku yang Terancam Punah

Peneliti Kelti Silvikultur Bahas Pengembangan Spesies Kayu Kuku yang Terancam Punah

R
Subhan Riyadi
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar–Peneliti kelti silvikultur Litbang LHK Makassar. Didin Alfaizin, S.Hut.,M.Sc dan Ir. Suhartati M.P. akan berbagi wawasan membahas mengenai salah satu jenis pohon lokal Sulawesi.

Jenis pohon yang memiliki nama latin Pericopsis mooniana Thw ini memiliki keunggulan dari segi corak pada kayunya yang begitu cantik, tapi saat ini populasinya semakin berkurang di hutan alam dan berstatus terancam punah.

Dikatakan kedua peneliti ini bahwa furniture rumah kita menggunakan bahan baku dari pohon jenis ini.

“Yaitu Kayu kuku, jenis pohonyang memiliki nama latinPericopsis mooniana Thwini memiliki keunggulan dari segi corak pada kayunya yang begitu cantik tapi saat ini populasinya semakin berkurang dihutan alam dan berstatus terancam kepunahannya,” jelas Didin dan Suhartati melalui rilis tertulisnya kepada terkini.id. Senin, 2 Maret 2020.

Peneliti Balai Litbang LHK Makassar (Wallacea Research Center) berusaha untuk mempertahankan kelestarian kayu kuku dengan melakukan pengembangan secara eksitu (pelestarian di luar habitat asli). Dengan tujuan untuk pengembangan tanaman kayu kuku untuk kelestarian populasi danproduksi dengan aplikasi silvikultur berupa singling (penunggalan Batang) dan penyiangan sertatersedianya demplot pengembangan tanaman kayu kuku secara eksitu dari berbagai asal benih.

Kegiatan singling yang dilakukan kedua peneliti ini memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman karena adanya pengurangan bagian vegetatif dari tanaman, terutama tunas/cabang yang tidak produktif.

Lebih jauh diterangkan, hal ini yang menyebabkan energi atau distribusi unsur hara terfokus kepada pertumbuhan tinggi. tanaman kayu membutuhkan kelembaban pada awal pertumbuhannya.

“Dengan demikian, dalam pengelolaan kayu kukuperlu memperhatikan tentang intensitas kegiatan penyiangan yang dapat menghambat pertumbuhantanaman. Tindakan penyiangan yang disarankan dilakukan maksimal sebanyak 2 kali dalam setahun,” tambah kedua peneliti silvikultur.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Salah satunya adalah beberapa tanaman mengalami kekeringan, sehingga dimungkin menghambat perkembangannya.

Kekeringan dapatmemicu stres pada tanaman di seluruh tingkatan pertumbuhan. Stres berdampak pada penurunanaktivitas metabolisme tanaman sehingga terjadi ketidakstabilan pertumbuhan (Larcher, 1987).

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.