Terkini.id, Jakarta – Kejadian penembakan pos polisi di wilayah Aceh Barat membuat warga sekitar ketakutan lantaran trauma dengan konflik yang sempat disebabkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Peristiwa penembakan pos polisi terjadi pada Kamis 28 Oktober 2021 waktu dini hari pukul 03.15 WIB di Wilayah Aceh Barat. Penyerangan diduga dilakukan dengan menggunakan senjata api AK-47 dan M-16 atau SS1.
Beruntungnya tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, akan tetapi mobil milik seorang warga yang terparkir dekat dengan pos polisi menjadi sasaran penembakan.
“Saat letusan senjata, saya dan keluarga terbangun karena besarnya suara tembakan,” ujar Arsyad sang pemilik mobil dikutip dari serambinews.com pada Jumat 28 Oktober 2021.
Ia pun mengaku merasa trauma karena takut konflik akan terjadi lagi di tanah aceh sebagaimana kejadian beberapa tahun silam oleh Gerakan Aceh Merdeka. Terlebih belakangan ini seringkali ada pihak yang melakukan penyerangan menggunakan senjata api.
“Sebab masih ada pihak yang melakukan penyerangan dengan menggunakan senjata api,” tuturnya.
Di hari yang sama pasca penyerangan pos polisi tersebut, terjadi penembakan Komandan Tim Badan Intelijen Strategis (BAIS) Kapten Abdul Majid pada sore hari sekitar pukul 17.05 WIB.
Penembakan itu sendiri terjadi di kawasan Jalan Lhok Krincong, Gampong Lhok Panah, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie.
Sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Sigli, nyatanya nyawa korban tidak dapat tertolong lagi.
Diketahui, konflik yang sempat terjadi di wilayah Aceh beberapa tahun lalu telah menelan hampir 15.000 orang dalam jangka waktu 29 tahun sejak tahun 1976 hingga 2005. Konflik disebabkan karena terjadinya gesekan antar pendapat mengenai hukum islam, ketidakpuasan distribusi sumber daya alam Aceh hingga peningkatan jumlah suku Jawa di Aceh.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
