Polisi Bisa Tangkap Dewi Tanjung dengan Pasal Hoax Kasus Novel Baswedan

Terkini.id, Makassar – Pengamat menilai, Pelapor Novel Baswedan yakni Dewi Tanjung, bisa dijerat pasal pidana oleh polisi.

Dewi Tanjung bisa ditangkap dengan dijerat pasal hoax.

Seperti diketahui, Dewi sebelumnya tiba-tiba melaporkan Novel Baswedan ke Polda Metro Jaya.

Baca Juga: Eksklusif, Novel Baswedan Korek Mata Kirinya: Jaringan Mata Diganti dengan...

Dalam laporannya, Dewi menuding Novel Baswedang sudah merekayasa kasus penyiraman air keras.

Wanita bernama asli Dewi Ambarwati tersebut mengungkakpan analisanya tentang rekayasa tersebut.

Baca Juga: Laporkan Novel Baswedan ke Polisi, Dewi Tanjung Juga Pernah Adukan...

Menurut Dewi, seharusnya wajah Novel juga ikut terluka jika melihat oleh TKP kasus penyiraman air keras tersebut. Bukan cuma mata.

Dewi juga mencurigai mata novel baik-baik saja. Bahkan dia menduga Novel cuma memakai soft lens. Bukti yang dia ajukan berupa rekaman video Novel saat di Rumah Sakit di Singapura, yang terlihat matanya baik-baik saja.

Bisa Dijerat Pidana

Ketua Advokasi YLBHI Muhammad Isnur menilai, tindakan Dewi itu bisa membuatnya dijerat pidana atas kasus penyebaran hoax atau berita bohong.

Baca Juga: Laporkan Novel Baswedan ke Polisi, Dewi Tanjung Juga Pernah Adukan...

Menurut dia, Dewi telah memberikan “laporan palsu” kepada pihak kepolisian sehingga dapat dijerat Pasal 220 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Dalam pasal tersebut berbunyi “Barang siapa memberitahukan atau mengadukan bahwa telah dilakukan suatu perbuatan pidana, padahal mengetahui bahwa itu tidak dilakukan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan”.

“Sebenernya, kan, laporannnya itu melecehkan kerja-kerja penyidikan kepolisian yang selama ini dilakukan juga,” kata Isnur seperti dilansir dari Tirtoid.

Alasan Dewi bisa dijerat pidana adalah berbagai fakta dan bantahan sudah disampaikan langsung oleh Novel termasuk pimpinan KPK.
Bahkan, selama ini pemerintah secara resmi memberikan bantuan untuk pengobatannya.

Tito Karnavian yang saat itu menjabat sebagai Kapolri juga telah menyaksikan langsung kondisi Novel tak lama setelah kejadian.

“Secara tidak langsung pelapor [Dewi] sebenarnya telah menuduh bahwa kepolisian, Komnas HAM termasuk Presiden tidak bekerja berdasarkan fakta hukum benar,” kata dia.

Menurut Isnur, seharusnya pihak kepolisian bisa membuat laporan model A terkait hoaks Dewi, tanpa menunggu laporan dari masyarakat.

Laporan model A adalah laporan polisi yang dibuat oleh anggota Polri yang mengalami, mengetahui, atau menemukan langsung peristiwa yang terjadi.

“Iya, pidana delik laporan, polisi bisa membuat laporan model A dan polisi seharusnya tidak memproses laporan Dewi,” kata Isnur.

Hal senada diungkapkan pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti Jakarta, Abdul Ficar Hadjar. Ia mengatakan Dewi Tanjung bisa dikenakan Pasal 220 KUHP tentang laporan palsu.

Selain itu, kata Ficar, Dewi juga bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik. Alasannya, Dewi telah menuduh Novel melakukan rekayasa penyiraman air keras terhadap penyidik KPK itu.

“Apa yang dilakukan Dewi Tanjung tidak ada dasar pembenarannya, terlebih secara hukum,” kata Ficar saat dihubungi reporter Tirto, Senin 11 November 2019.

Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISeSS) Bambang Rukminto juga mengungkapkan, Dewi Tanjung sangat bisa dijerat pasal penyebaran hoaks.

Apalagi, kata dia, laporan Dewi itu telah mencoreng dan menghina profesionalisme Polri yang sudah berusaha mengungkap kasus Novel selama dua tahun lebih.

“Bisa dijerat laporan palsu,” kata Bambang.

Bagikan