Polri Pastikan Pelaku Bom Gereja Filipina Januari Lalu Suami-Istri asal Makassar

Kerusakan akibat bom di sebuah gereja di Filipina Januari lalu. Bom ini menewaskan 22 orang, dan dieketahui pelakunya adalah pasangan suami istri asal Filipina.(antarafoto)
Kerusakan akibat bom di sebuah gereja di Filipina Januari lalu. Bom ini menewaskan 22 orang, dan dieketahui pelakunya adalah pasangan suami istri asal Filipina.(antarafoto)

Terkini.id, Jakarta – Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di gereja Katolik Pulau Jolo, Filipina Selatan pada 27 Januari lalu, sempat ikut menghebohkan tanah air.

Hal itu karena pelaku bom bunuh diri tersebut disebut-sebut adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dari Makassar. Dia melakukan aksinya saat perayaan Misa sedang berlangsung.

Kini, polisi memastikan dua WNI pelaku bom tersebut adalah pasangan suami istri asal Makassar.

Hal itu setelah polisi berhasil mengungkap identitas dua WNI tersebut.

Polisi merilis, keduanya diketahui adalah RRZ dan UHS yang merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah ( JAD) Makassar. Mereka pasangan suami istri.

“Ternyata pelaku suicide bomber di Filipina adalah dua orang Indonesia atas nama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa 23 Juli 2019 kemarin.

Hal tersebut terungkap setelah polisi menangkap terduga teroris berinisial N (39) di Padang, Sumatera Barat, dan Y yang diamankan di Malaysia pada awal Juni 2019.

Seperti diketahui, kasus bom bunuh diri tersebut ditangani polisi Filipina. Sehingga Polri cukup kesulitan mengidentifikasi kedua pelaku teror tersebut.

Menurut Dedi, keduanya masuk ke Filipina bukan melalui jalur resmi, sehingga otoritas setempat tidak mendeteksi ketibaan keduanya.

“Kedua tersangka masuk lewat jalur ilegal Filipina sehingga identitas kedua pelaku tidak ter-record dengan baik di Filipina. Sehingga kita tidak bisa mengidentifikasi pelaku suicide bomber,” ungkapnya.

Dedi mengatakan, kedua terduga pelaku diberangkatkan ke Filipina oleh seseorang dengan identitas S alias Daniel alias Chaniago.

S diketahui adalah otak sejumlah aksi teror di Indonesia dan diduga berada di Khurasan Afghanistan.

S juga sudah masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polri sejak lama.

“Karena mengetahui rencana aksi tersebut dan (S) sudah memberikan dana untuk 2 tersangka ke Filipina dari Makasar,” kata dia lagi.

Nantinya, Polri beserta polisi Filipina akan mencocokkan DNA terduga pelaku dengan sampel DNA dari keluarga untuk memastikan identitas keduanya.

Ledakan pertama terjadi di dalam gereja di Jolo, sementara bom kedua meledak saat petugas keamanan bergerak ke lokasi ledakan untuk melakukan pertolongan terhadap para korban.

Tewaskan 22 Orang

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa 23 Juli 2019.(detikcom)
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa 23 Juli 2019.(detikcom)

Insiden tersebut seperti diketahui menewaskan 22 orang dan melukai 100 orang lainnya.

Beberapa hari usai kejadian, Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano mengatakan, dua pelaku serangan bom bunuh diri di gereja Katolik di Pulau Jolo, Filipina berasal dari Indonesia.

Kepala Kepolisian Provinsi Sulu, yang membawahi Jolo, Pablo Labra mengatakan beberapa saksi mata melihat pelaku adalah seorang perempuan dan lelaki.

Saat itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius menegaskan, masih terlalu dini untuk menyebutkan pelaku teror bom di Gereja Katolik Pulau Jolo, Filipina, adalah warga negara Indonesia.

Berita Terkait
Komentar
Terkini