Terkini, Bulukumba — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bulukumba ke-66 tidak semestinya dimaknai sebatas agenda seremonial tahunan.
Lebih dari itu, momentum ini perlu dijadikan ruang refleksi dan evaluasi bersama terhadap arah pembangunan yang selama ini dijalankan, khususnya dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan ruang hidupnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (KKMB UINAM).
Sebagai organisasi mahasiswa kedaerahan, KKMB UINAM menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat Bulukumba yang memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawal pembangunan agar tetap berkeadilan, berpihak pada rakyat, dan berkelanjutan.
Ketua Umum KKMB UINAM, Supardi, menegaskan bahwa di usia ke-66, Bulukumba seharusnya telah berada pada fase pembangunan yang lebih matang dan jujur dalam membaca realitas sosial yang masih dihadapi masyarakat.
- Telkomsel Siap Optimalkan Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz Hasil Alokasi Kemkomdigi
- Pelindo Dorong Tarif Jasa Pemanduan dan Penundaan yang Transparan dan Berkelanjutan
- Andra 09 Juara Umum Kejurprov Mini4WD Sulsel 2025, Dukung Penuh Haji Najmuddin Sebagai Calon Ketua IMI Sulsel
- Didukung BI Sulsel, OSP Farm Ekspor 10,2 Ton Kemiri ke Arab Saudi
- Menteri Investasi Apresiasi Praktik ESG PT Vale di Morowali, Nilai Tambah Terdongkrak Melalui Praktik Berkelanjutan
“Hari Jadi Bulukumba ke-66 bukan sekadar soal bertambahnya usia daerah, tetapi tentang sejauh mana pembangunan benar-benar dirasakan oleh rakyat,”ujarnya.
“Kita melihat pembangunan terus berjalan, namun di sisi lain masih ada masyarakat yang kesulitan mengakses pelayanan publik, ruang hidup yang semakin tertekan, serta partisipasi yang belum sepenuhnya didengar,”sambung Supardi.
Bulukumba dikenal sebagai daerah pesisir dengan kekayaan alam, budaya, dan identitas maritim yang kuat.
Laut, pesisir, dan daratan bukan sekadar ruang geografis, tetapi ruang hidup yang membentuk cara pandang, tradisi, dan penghidupan masyarakat. Namun dalam realitasnya, nelayan kecil masih dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi, persoalan lingkungan pesisir, serta keterbatasan perlindungan terhadap ruang tangkap dan sumber penghidupan mereka.
Di wilayah daratan, persoalan pengelolaan lingkungan dan ruang hidup masyarakat juga masih menjadi tantangan serius.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
