‘Pandre Kayu’ Sosok yang Mulai Pudar di Pusaran Zaman Melenial

Terkini.id- Makassar. Bunyi serutan pisau dan kayu cenrana beradu disaat sebilah ruas kayu tersebut diolah. momen ini menghasilkan bunyi bunyian yang khas ditelinga salah satu Pandre kayu yang memecah kesunyian malam, di rumah salah satu pembuatnya di bilangan jalan sanranggang, Daya, Kota Makassar.

Suara ruas kayu yang terbentuk dari goresan pisau tajam tersebut, hingga pengukuran bilah besi badik kemudian berlanjut ke proses perendaman dan pembersihan bilah besi untuk memunculkan pamor.

Itulah sebahagian proses didalam pembuatan sebuah banoa badik. Kegiatan ini semata untuk melestarikan seni budaya di Sulawesi Selatan.

Rudi, demikian nama pria ini, mempunyai keahlian secara otodidak dalam pembuatan banoa, pangulu , kalasa hingga bila atau sumpa’ kale. Perangkat tersebut merupakan kesatuan dari sebilah badik.

Badik dahulu adalah merupakan salah satu senjata untuk mempertahankan harga diri/siri na pacce, dan ini masih dipercaya dipakai hingga saat ini.

Ada juga tujuan mengoleksi badik untuk melestarikan warisan budaya leluhur, disamping hobby yang terbilang langka dan unik serta menelan biaya yang tidak sedikit demi kepuasan batin dan nilai historisnya.

Namun semuanya terpuaskan apabila mendapatkan badik yang sesuai dihati bagi kolektor badik.

Kemampuan Pandre kayu Rudi ini, diperoleh dari belajar bersama teman teman sesama Komunitas penggiat budaya di Kabupaten Maros.

Dalam hobi kesehariannya, sosok lelaki ini dapat memperbaiki Banoa, hingga pangulu dan mengangkat kembali pamor badik yang mulai pudar karena termakan usia, tentunya dengan beberapa tehnik khusus.

Adapun bahan baku untuk banoa dan bahan pangulu, biasa diperoleh dari perburuan hingga barter untuk mendapatkan jenis kayu langka yang sudah mulai jarang didapatkan.

Diantaranya jenis kayu santigi, kayu cenrana hingga kayu kemuning.

Dalam perburuan ini bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan untuk mendapatkannya demikian walaupun hanya selembar kayu yang dibutuhkan

Untuk bahan bahan pembuatan kalasa bisa didapatkan dari unsur perak , kuningan hingga emas atau lainnya, tergantung pesanan para pencinta dan pelestari budaya di Sulawesi Selatan.

Beberapa istilah dalam unsur badik diantaranya adalah Banoa, Pangulu ,Bila, Kalasa, Sumpa’ Kale.

Banoa adalah sarung tempat badik.

Pangulu , gagang badik.

Kalasa, cincin pengikat pada gagang badik.

Bila / Sumpa’ Kale, bilah besi badik.

Pria yang juga pencinta alam tergabung dalam Bipala, Bianglala Indonesia Pencinta Alam aktif bersama kelompoknya dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup.

Tentunya dua hobi yang menyatu sangatlah unik dan keren. Apalagi para Mpu atau Pandre bassi dan Pandre kayu ( orang ahli dalam pembuatan badik dan pandai kayu) semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan ini, di era zaman milenial ini mulai berkurang, seiring dengan perkembangan zaman sekarang yang serba digital.

Semoga khasanah budaya Sulawesi dan Sulawesi Selatan pada Khususnya tetap dapat eksis dan bertahan bersama perkembangan zaman.

“Siapapun diri kita, jangan pernah melupakan adat dan budaya, karena adat dan budaya adalah identitas,” pesan Pandre Kayu Rudi, menutup perbincangan bersama penulis.

Komentar
Terkini