Kuasai Afganistan, Kini Taliban Tuai Kecaman Usai Paksa Presenter Wanita Tutup Wajah: Ini Seperti Melucuti Identitas!

Kuasai Afganistan, Kini Taliban Tuai Kecaman Usai Paksa Presenter Wanita Tutup Wajah: Ini Seperti Melucuti Identitas!

FR
R
Fitrianna R
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Internasional – Seperti diketahui, usai berhasil menguasai Afganistan setahun silam, Taliban pun mulai menerapkan beberapa kebijakan.

Terbaru, mereka disebut memaksa presenter televisi wanita untuk menutupi wajah mereka, yang mana menuai kecaman sejumlah pihak.

Menurut salah satu presenter terkemuka dari TOLOnews, yakni Sonia Niazi, kebijakan tersebut seolah seperti melucuti identitas mereka.

Oleh karena itu, meski untuk saat ini mereka memilih menurut, tetapi ia sendiri berjanji untuk berjuang.

Ia mengungkapkan dirinya akan terus membela hak-hak mereka setelah dipaksa oleh otoritas Taliban untuk menutupi wajah saat siaran.

Ya, tak dimungkiri, sejak merebut kekuasaan, Taliban memang telah memberlakukan banyak pembatasan pada masyarakat sipil, terutama pada perempuan dan anak perempuan.

Bulan ini, misalnya, pemimpin tertinggi Afganistan, Hibatullah Akhundzada, mengeluarkan perintah bagi perempuan untuk menutupi diri sepenuhnya di depan umum, termasuk wajah mereka, idealnya dengan burqa tradisional.

Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Wakil juga memerintahkan presenter televisi wanita untuk mengikutinya.

Setelah menentang perintah sehari sebelumnya, para presenter wanita pada Ahad tampak sudah mengenakan jilbab dan kerudung lengkap yang hanya membuat mata mereka terlihat di saluran-saluran terkemuka, termasuk TOLOnews, Ariana Television, Shamshad TV, dan 1TV.

Presenter dan jurnalis laki-laki di saluran televisi Afghanistan juga memakai masker wajah sebagai solidaritas dengan rekan-rekan perempuan mereka.

“Hari ini mereka memaksa kami menutupi wajah, tapi kami akan melanjutkan perjuangan menggunakan suara kami,” tegas Sonia Niazi, dikutip terkini.id dari Tempo pada Senin, 23 Mei 2022.

“Saya tidak akan pernah menangis karena perintah ini, tapi saya akan menjadi suara untuk gadis Afghanistan lainnya.”

Niazi menuding perintah itu merupakan upaya untuk mendorong jurnalis perempuan keluar dari pekerjaan mereka.

“Ini seperti melucuti identitas Anda,” ungkapnya.

“Meskipun demikian, kami ingin mengangkat suara kami. Kami akan bekerja sampai Imarah Islam mengeluarkan kami dari ruang publik atau memaksa kami untuk duduk di rumah.”

Di sisi lain, Lima Spesaly, presenter jaringan berita 1TV, juga mengatakan bahwa sulit bekerja di bawah pemerintahan Taliban, tetapi ia mengaku siap untuk bertarung.

“Kami akan melanjutkan perjuangan kami sampai napas terakhir kami,” tutur Spesaly tegas beberapa menit sebelum mengudara.

Direktur TOLOnews, Khpolwak Sapai, mengatakan saluran tersebut telah dipaksa untuk membuat presenter wanita mengikuti perintah Taliban.

“Saya dipanggil, ditelepon kemarin dan diberitahu dengan kata-kata yang tegas untuk melakukannya. Jadi, bukan karena pilihan tapi dengan paksaan,” jelasnya.

Sebagai informasi, presenter wanita sebelumnya sebenarnya hanya diwajibkan mengenakan jilbab. Namun, kini aturan tersebut bertambah ketat.

Wartawan dan karyawan pria di TOLOnews pada Ahad mengenakan masker wajah di kantor saluran di Kabul sebagai solidaritas dengan pembawa acara wanita, sedangkan karyawan wanita lainnya memilih terus bekerja dengan wajah terlihat.

Juru bicara kementerian Afganistan, Mohammad Akif Sadeq Mohajir, mengatakan pihak berwenang menghargai bahwa para penyiar telah mematuhi aturan berpakaian.

“Kami senang dengan saluran media bahwa mereka menerapkan tanggung jawab ini dengan cara yang baik.”

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.