Terkini.id, Jakarta – Partai Gerindra menanggapi sindiran yang dilontarkan budayawan kondang, Butet Kartaredjasa perihal calon pemimpin dimana menurutnya hati seluruh rakyat Indonesia pasti akan sedih jika kelak ada presiden hobinya menculik.
Kendati demikian, Butet Kartaredjasa tak menyebutkan secara detail siapa calon pemimpin yang dimaksudnya itu.
Terkait hal tersebut, Gerindra pun menegaskan kembali tentang pesan Ketua Umum mereka yakni Prabowo Subianto.
Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria menegaskan, Prabowo berpesan agar para kader tidak melakukan sindiran apalagi menjelekan dan memfitnah pihak lain.
“Seperti yang disampaikan oleh Bapak Prabowo siapapun yang menyindir termasuk yang membuli, menjelekkan, memfitnah Pak Prabowo mengajak kami semua kader untuk membalas dengan kebaikan,” kata Riza di Jakarta Utara, Minggu 25 Juni 2023.
Riza menegaskan kembali bahwa Gerindra tidak ambil pusing kalau ke depan ada sindiran-sindiran yang ditujukan kepada mereka. Gerindra, sebagainana pesan Prabowo, memilih untuk tetap membalas dengan kebaikan.
“Jadi apapun yang mereka sampaikan menjelek-jelekkan, menghina ,menghujat, memfitnah dan lain-lain, Pak Prabowo dan kami semua jajaran kader simpatisan relawan akan membalas itu semua dengan kebaikan,” kata Riza, dikutip dari Suara.com jaringan terkini.id.
Sebelumnya, Butet Kartaredjasa menyampaikan pidato selama lima menit di hadapan sekitar 100 ribu kader PDIP.
Selain Butet, turut hadir dalam acara itu musisi asal Yogyakarta bernama Sri Krishna Encik dan Grup Bimbo yang membawakan lagu karya mereka berjudul Bung Karno.
Berdasarkan pantauan Suara.com di lokasi, awalnya Encik, sekitar pukul 12.20 WIB dipanggil oleh moderator untuk naik ke atas panggung.
Encik membawa dua buah lagu pada kesempatan itu. Ketika membawakan lagu pertama, Budayawan Butet Kartaredjasa membawakan pantun, terakhir Encik menyanyikan lagu ‘Njarji Njarbeh.’ Lagu pertama bertemakan tentang kebohongan. Setelah itu, Encik mempersilakan Butet membawakan pantun.
Butet Kartaredjasa mengatakan, pantun yang dibawanya ini bermuatan politis.
“Kolonial menjajah Nusantara karena rempah-rempah. Tetapi Kaum Marhaen tetap gagah tidak menyerah. Lihat lah hari ini, Gelora Bung Karno berwarna merah meski dilukai dan dikhianati, Keluarga Bung Karno tidak menyimpan dendam amarah,” tutur Butet disambut gemuruh tepuk tangan puluhan ribu kader PDIP.
“Bung Karno penyambung lidah rakyat, berjuang menjadikan Indonesia negara berdaulat. Jika ente cari pemimpin yang hebat, lihat dulu kerut-kerut yang menghiasi jidat,” kata Butet.
“Bung Karno menggali Pancasila dasar negara, eh yang di sono jangan coba-coba membelokkan fakta. Kalau kalian mencari presiden pilihlah yang bisa bekerja, bukan capres yang cuma tampil menyusun kata-kata,” sambungnya.
“Ayam, burung, dan bebek, satu koloni yang namanya unggas, biarkan terbang bebas jangan dirica-rica. Ganjar Pranowo diperintah partai untuk bertugas, tetapi saat yang sama dia petugas rakyat untuk menjadi Presiden Indonesia,” tambahnya.
Tak hanya itu, Butet dalam pantunnya juga turut menyindir adanya sejumlah pemimpin yang mengaku merasa mendapatkan penjegalan. Kemudian Butet juga menyinggung adanya sosok calon pemimpin yang memiliki hobi menculik.
“Pepes ikan dengan sambel terong, semakin nikmat tambah daging empal. Orangnya diteropong KPK karena nyolong, eh lah koar-koar kok mau dijegal,” tuturnya.
“Jagoan Pak Jokowi rambutnya warna putih, gigih bekerja sampai jungkir balik. Hati seluruh rakyat Indonesia pasti akan sedih, jika kelak ada presiden hobinya kok menculik,” lanjutnya.
Terakhir, Butet Kartaredjasa menyinggung dalam pantunnya soal adanya calon pemimpin yang cuma modal transaksional.
“Ini yang terakhir, cucu komodo mengkerek kadal. Tak lezat digulai walaupun pakai santan. Kalau pemimpin modalnya cuma transaksional, dijamin bukan tauladan,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
