Ustaz yang Pernah Protes Masjid Bentuk Segitiga Kang Emil Ditangkap Polisi

Terkini.id, Jakarta – Kepolisian dikabarkan menangkap dan telah membawa Ustaz Rahmat Baequni ke Mapolda Jawa Barat, tadi malam Kamis 20 Juni 2019.

Ustaz Rahmat Baequni sebelumnya heboh karena memprotes masjid berbentuk segitiga yang dirancang Ridwan Kamil.

Menurut Rahmat Baequni, bentuk segitiga pada masjid Al Safar terkait dengan lambang Illuminati yang bisa membatalkan salat.

Baca Juga: Pendakwah Rahmat Baequni: Taliban Pasukan Akhir Zaman, Mereka Dibantu Malaikat

Kini Rahmat Baequni ditangkap polisi atas kasus video ceramahnya tentang anggota KPPS meninggal diracun. Polisi memintai keterangan Rahmat atas ceramahnya tersebut.

Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko tak secara langsung membenarkan.

Baca Juga: Tatonya Disebut Mirip Illuminati, Ivan Gunawan: Tato Sudah Puluhan Tahun...

Meski begitu, dia menyatakan saat ini Rahmat masih dimintai keterangan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar.

“Nanti ya, ntar. Masih di Krimsus. Nanti saja siangan,” ucap Truno seperti dilansir dari detikcom, Jumat 21 Juni 2019.

Sementara itu, salah seorang rekan terdekat Rahmat membenarkan bahwa Rahmat dibawa ke Polda Jabar. Rahmat dibawa sejak semalam.

Baca Juga: Tatonya Disebut Mirip Illuminati, Ivan Gunawan: Tato Sudah Puluhan Tahun...

“Iya benar untuk dimintai keterangan, dijemput dengan surat dan dipersilakan kuasa hukum dan bisa ditengok. 1×24 jam prosesnya. Saya yang menemani,” ucap orang terdekat Rahmat tersebut seperti dilansir detikcom.

Video penceramah Rahmat Baequni, yang menyebut ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia karena diracun, beredar di media sosial.

Polisi tengah menyelidiki video tersebut.

Dalam video yang beredar, Rahmat Baequni awalnya bertanya mengenai fenomena meninggalnya ratusan petugas KPPS dalam Pemilu 2019.
Rahmat Baequni menjelaskan, mereka meninggal karena diracun setelah ditemukannya zat racun dalam cairan jasad petugas KPPS yang meninggal.

Berikut kutipan videonya:

Bapak ibu, boleh saya cerita bapak ibu? Seumur-umur Pemilu dilaksanakan, jujur, boleh saya jujur? Nggak apa-apa ya? Bapak-bapak ada yang sudah senior, nggak sebut sepuh karena berjiwa muda. Seumur-umur kita melaksanakan Pemilu, pesta demokrasi, ada tidak petugas KPPS yang meninggal? Tidak ada ya? Tidak ada. Tapi kemarin, ada berapa petugas KPPS yang meninggal? 229 orang? Itu dari kalangan sipil, dari kepolisian berapa yang meninggal? Jadi total berapa? 390 orang meninggal. Sesuatu yang belum pernah terjadi dan ini tidak masuk di akal.

Bapak ibu sekalian, ada yang sudah mendapat informasi mengenai ini? Tapi ini nanti di-skip ya. Bapak ibu sekalian yang dirahmati Allah, ketika semua yang meninggal ini dites di lab, bukan diautopsi, dicek di lab forensiknya, ternyata apa yang terjadi? Semua yang meninggal ini, mengandung dalam cairan tubuhnya, mengandung zat yang sama, zat racun yang sama. Yang disebar dalam setiap rokok, disebar ke TPS. Tujuannya apa? Untuk membuat mereka meninggal setelah tidak dalam waktu yang lama. Setelah satu hari atau paling tidak dua hari.

Tujuannya apa? agar mereka tidak memberikan kesaksian tentang apa yang terjadi di TPS.

Bagikan