Terkini.id, Kiribati – Foto yang menunjukkan aksi Duta Besar China untuk Kiribati salah satu negara Oseania, sedang berjalan di atas punggung warga menjadi viral di media sosial.
Foto itu menjadi sorotan berbagai pihak lantaran cara menyambut pejabat dengan cara membuatnya berjalan di punggung warga.
Melansir dari dari ABC Australia, Rabu 19 Agustus 2020, Kiribati diketahui menghentikan hubungan dengan Taiwan bulan September, sehingga Taiwan hanya akan memiliki hubungan dengan 15 negara.
Diketahui Budaya Masyarakat
Seorang wartawan, Rimon, yang pernah bekerja untuk mantan presiden Kiribati Anote Tong, mengungkapkan dia tidak pernah menyaksikan Dubes Taiwan disambut dengan cara seperti itu sebelumnya.
“Sudah ada beberapa Dubes Taiwan yang pernah mengunjungi pulau itu dan saya tidak tahu mereka pernah disambut dengan cara seperti itu,” katanya.
- Mayat Perempuan Ditemukan Di Pesisir Pantai Tanrusampe Timur Jeneponto
- Benz Cafe Makassar Padukan Kuliner dan Permainan Mahjong dalam Satu Destinasi di Jantung Kota
- Poltekpar Makassar dan Kemenpar Sukses Selenggarakan PARDAS Angkatan V Tahun 2026
- PT Vale Luncurkan Kelas Konservasi untuk Generasi Penggerak Keberlanjutan di Lutim
- Kebakaran di Jeneponto, Tiga Rumah Ludes Terbakar, 1 Orang Mengalami Luka Bakar
Australia pun turut berkomentar. Anggota parlemen dari Partai Liberal di Australia Dave Sharma yang pernah menjadi Dubes Australia untuk Israel dan juga pernah bertugas di Papua Nugini mengatakan terkejut dengan foto tersebut.
“Saya akan terkejut bila ada pejabat Australia ambil bagian dalam upacara seperti itu,” kata Dave Sharma kepada ABC.
Constantine Panayiotou, atase pertahanan Amerika Serikat untuk lima negara di Pasifik, termasuk Kiribati menyampaikan kekesalannya di Twitter.
Sebagai wartawan, Rimon mengatakan foto tersebut banyak dibicarakan di Kiribati dari sisi politik.
“Bagi pihak luar di kawasan, mereka melihat ini dalam konteks keadaan politik China di kawasan dan persaingan dengan Barat, dan ada Dubes China yang menginjak punggung warga. Itulah dilihat sebagai sebuah pernyataan,” katanya.
Namun Rae mengatakan pandangan warga di Pulau Marakei yang akhirnya paling menentukan.
“Dunia global punya pandangan yang ada hubungannya dengan politik, berkenaan dengan soal Taiwan dan China, namun kalau ada berpandangan netral dan melihat dari sisi budaya anda akan mengerti apa yang terjadi,” katanya.
“Saya merasa itu dilakukan atas dasar kasih dan hormat sehingga mereka mengatakan ‘anda kami terima kedatangannya di pulau ini’.”
ABC telah menghubungi para tetua adat di pulau Marakei, pemerintah Kiribati dan kedutaan China di Kiribati untuk mendapatkan komentar, namun sejauh ini belum mendapatkan tanggapan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
