27 Desember, Sang Bintang Kehidupan Lahir! Ini yang Bikin Nike Ardilla ‘Hidup Abadi’

Terkini.id, Jakarta – 27 Desember, sang Bintang Kehidupan lahir! Ini yang bikin Nike Ardilla ‘hidup abadi’. Setelah sukses menjadi salah satu penyanyi papan atas Indonesia pada 1987, tidak berapa lama Nike yang melambung namanya lewat lagu ‘Seberkas Sinar’ dan ‘Bintang Kehidupan’ itu mengurus sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB).

Seperti dirangkum Terkini.id dari berbagai sumber, Senin 27 Desember 2021, awalnya SLB tersebut bernama SLB Wawasan Nusantara yang berlokasi di Jalan Pagarsih, Bandung.

Namun, pada 1987 sekolah tersebut terancam ditutup. Guna menyelamatkan sekolah ini, Nike dan pamannya membeli sekolah itu.

Baca Juga: Serupa Akidi Tio, Semasa Hidupnya Nike Ardilla Juga Dikenal Dermawan...

Saat ini, SLB BC Nike Ardilla itu beralamat Jalan Cipamokolan Kolot No 19 B, Cipamokolan, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat.

“Sebenarnya, yang mendirikan sekolah ini namanya Pak Juhaeri pas masih di Pagarsih. Pas mau bangkrut (kolaps) sama Pak Sutarjo (paman Nike Ardilla) diselamatkan, akhirnya sama Neng Nike dibeli yayasan sama operasionalnya,” beber salah satu pengajar di SLB Nike Ardilla, Tina Rostina saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu.

Tina menambahkan, saat masih hidup Nike Ardilla yang lahir 27 Desember 1975 itu beberapa kali datang ke sekolah tersebut.

“Dulu Neng Nike suka datang ke sini bawa makanan dan permen buat anak-anak. Dia juga suka ngasih peralatan sekolah. Lemari, buku, dia beli semua. Memang orangnya baik,” ungkapnya.

Sekolah berlantai dua ini tidak terlalu besar, lahan tempatnya berdiri memiliki luas 348 meter persegi. Di lantai dasar ada empat ruangan, di antaranya musala, kantin, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan ruang tata usaha.

Sementara itu, di lantai atas terdapat delapan ruang kelas. Tina menjelaskan, guru di sekolah itu berjumlah 15 orang, delapan orang PNS dan tujuh orang sisanya non PNS.

“SLB ini membina siswa penyandang tunarungu, tunagrahita, dan autisme. Saat ini, jumlahnya ada 40 siswa dengan jumlah terbanyak ada di siswa SD,” urainya.

Ketika mangkat atau meninggal pada 1995, banyak penggemarnya terutama kaum filantropi atau yang tersentuh atas kemurahan hati sang bintang itu, juga menjadi donatur SLB itu. Mereka pun langsung menyumbang ke SLB yang sebelumnya didirikan Nike guna menghidupi anak-anak asuh tunagrahita di sana.

Salah satunya mendiang musisi Deddy Dores. Dalam salah satu pemberitaan di majalah Anita Cemerlang pada 1995 yang ditulis wartawan Noerdin Es.Er, pencipta lagu-lagu bagi Nike Ardilla itu menyumbangkan hasil penjualan kasetnya untuk SLB itu.

Tidak hanya itu, masih dalam berita tulisan Noerdin, serupa yang dilakukan Deddy Dores, seorang penulis tetap majalah remaja itu juga menyumbangkan honor cerpen yang ditulisnya untuk SLB yang didirikan Nike Ardilla itu selama tiga tahun (yang tadinya ditulis tiga bulan).

Kepada Emmy TH, juga wartawan Anita Cemerlang, si penulis yang tidak ingin diungkapkan identitasnya itu mengaku tersentuh atas jiwa sosial Nike Ardilla, selain mengaguminya sebagai penggemar.

“Sangat low profile sebagai artis terkenal, terharu saja tahu Nike dirikan SLB. Makanya, saya menyumbang honor cerpen saya otomatis ke SLB-nya,” demikian ungkapnya kepada Emmy pada 1995 silam.

Si penulis bahkan sempat ke Bandung menyambangi SLB Nike Ardilla itu. Ia mengaku bertemu paman mendiang Nike, Sutarjo pada 1995 lalu.

Sejatinya, tidak dapat dipungkiri jika mendiang Nike Ardilla tetap ‘hidup abadi’ di hati penggemarnya. Nike juga diklaim merupakan artis dan musisi yang paling melegenda di Indonesia kendati ia telah meninggal sekitar 26 tahun silam.

Hal itu dapat dilihat sampai saat ini makam Nike Ardilla selalu ramai dikunjungi para peziarah. Seperti diketahui, Nike wafat pada 19 Maret 1995. Kepergiannya itu sendiri tentu menyisakan duka di hati orang-orang terdekat dan para penggemarnya.

Pasalnya, semasa hidupnya Nike bukan hanya sosok artis yang bertalenta dan populer di era 1990-an, ia juga memiliki kebaikan hati dan dikenal berjiwa sosial yang tinggi.

Akan tetapi, di balik itu semua ternyata Nike memiliki amalan-amalan yang diyakini sebagai penyebab makamnya memiliki karamah atau karomah (keramat) selalu ramai diziarahi, terutama pada setiap 19 Maret yang merupakan tanggal kepergiannya ke keabadian.

Berdasarkan postingan akun instagram @berkat_gurusekumpul, almarhumah Nike Ardilla merupakan murid Abah Guru Sekumpul. Bahkan, ia dijadikan sebagai anak angkatnya.

Terlepas dari profesinya yang jauh dari kata religius, hingga kontroversi yang pernah terjadi di hidupnya, tidak banyak yang tahu Nike telah membuka ruang di hatinya untuk mencintai Abah Guru Sekumpul yang ia yakini adalah Waliullah.

Dalam Islam, mencintai para Wali memiliki keutamaan, seperti yang pernah disampaikan Imam Al-Ghazali.

“Jika engkau menginginkan selamat di dunia dan akhirat, jadikan dirimu berada di dalam hati para Wali Allah,” demikian ungkapnya. 

Cinta dan kasih sayang Nike Ardilla kepada Wali dibuktikan dengan senantiasa mengamalkan apa yang menjadi pesan Abah Guru kepadanya. 

Salah seorang yang penasaran akan karamah makam Nike Ardilla, yaitu Alfaqir Zain memutuskan untuk ziarah dan bertemu dengan keluarga Nike pada 2009 lalu.

Alfaqir menanyakan amalan-amalan Nike selama hidup hingga banyak orang menyebut kematiannya menimbulkan karamah kepada keluarga mendiang Nike Ardilla.

“Nike tidak punya apa-apa, salat sering bolong. Tetapi dia nggak bisa mengejek orang sekalipun dan nggak bisa menggaduh masalah orang lain. Serta dia punya ayah angkat yang ada di Banjar, di Sekumpul yang disebut orang Abah Guru Sekumpul,” terang Nining Ningsihrat, ibunda mendiang Nike kala itu.

“Nah, ayah angkatnya itu yang mengajarkan Nike untuk salat dan wirid. Wirid yang dibaca cuma salawat 100 kali sehari dan istighfar 100 kali sehari. Itu saja amalan yang Abah Guru Sekumpul berikan kepada Nike,” imbuhnya.

“Satu lagi, Nike bilang ke saya bahwa ayah angkatnya itu seorang wali. Karena orang Banjar menyebutkan ayah angkatnya itu wali dan Nike percaya ayah angkatnya itu wali,” ungkap Nining Ningsihrat kala itu.

Bagikan