4 Langkah Percepat Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Menurut Prof Rachmat Witoelar

Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kuliah umum menghadirkan Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Prof. Rachmat Witoelar

Terkini.id, Makassar – Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kuliah umum menghadirkan Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Prof. Rachmat Witoelar, sebagai narasumber.

Dalam kuliahnya, Prof. Rachmat mengungkapkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pertama, mengembangkan data global dan sistem pemantauan yang kuat dan terintegrasi untuk memberikan informasi berbasis sains kepada para pembuat kebijakan.

Kedua, meningkatkan kolaborasi antarnegara dan pemangku kepentingan dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Ketiga, melibatkan semua pihak (non-state actors). Termasuk perguruan tinggi dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Keempat, menciptakan dan memperluas enabling environment untuk inovasi dan langkah terobosan.

“Perubahan iklim adalah urusan semua orang. Karena itu, setiap orang harus melakukan aksi. Perubahan iklim tidak dapat ditangani oleh pemerintah saja,” kata Prof Rachmat, Kamis 21 Februari 2019.

Menyikapi fenomena perubahan iklim, menurut alumnus Institut Teknologi Bandung tersebut, peran perguruan tinggi sangat penting. Peran itu diperlukan dalam penelitian, penyediaan data, dan penyebarluasan informasi pada pengambil kebijakan dan masyarakat.

Menurutnya, peran perguruan tinggi sudah bagus. Tetapi, lebih dituntut lagi karena tantangannya semakin besar. Prof Rachmat mengharapkan perguruan tinggi, citvitas akademika, para pengajar dan mahasiswa betul-betul menekuni masalah ini.

“Di satu pihak untuk ilmunya, di lain pihak untuk memasyarakatkan. Karena ini perlu partisipasi masyarakat,” ujar Prof. Rachmat.

Dampak buruk perubahan iklim di Indonesia

Kuliah umum Prof Rachmat mengambil tema “Peran Universitas Dalam Mempercepat Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim” berlangsung di Aula Prof Dr. Ir. Fachrudin, Gedung Sekolah Pascasarjana Unhas.

Kuliah diikuti puluhan dosen dan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Unhas. Acara tersebut dihadiri sekaligus dibuka oleh Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Ph.D. Kuliah umum dipandu oleh Rijal Idrul, M.Sc., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.

Prof Jamaluddin mengungkapkan masalah perubahan iklim sudah menjadi masalah besar. Beberapa waktu lalu, suhu di bagian daerah Utara mencapai minus 50 derajat celcius, kemudian di bagian Selatan mencapai 40 derajat, malah 45 derajat. Fenomena ini tentu masalah yang besar bagi kita semua.

Data Global Risk Assesmen 2019 dari World Economic Forum menyebutkan, upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim mengalami kegagalan. Hal itu ditandai dengan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem, krisis pangan dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, dan rusaknya ekosistem.

Di Indonesia, selama bertahun-tahun, peristiwa bencana yang terjadi dominan bersifat hidro-meteorologi, seperti banjir;  kekeringan; cuaca ekstrem; dan kebakaran lahan. Ini menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi, mengurangi kualitas hidup, dan merusak lingkungan,“ ujar Prof Rachmat.

Persoalan tersebut merupakan akibat dari berbagai kegiatan manusia sendiri yang menimbulkan emisi gas rumah kaca, seperti penggunaan lahan, alih fungsi lahan, eksploitasi hutan, penggunaan energi dan transportasi berbahan fosil, aktivitas industri, manajemen sampah yang buruk, dan lainnya.

Unhas diminta berperan dalam menghadapi perubahan iklim

Prof Rachmat berharap Unhas dapat memainkan peran yang strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Sebab, Unhas memiliki sumber daya manusia yang kuat, dan program studi yang terkait dengan perubahan iklim.

“Karena itu, saya berbicara dengan Pak Dekan agar Unhas dijadikan hub, pusat daripada intelektual dan pengkajian mitigasi perubahan iklim di Indonesia Timur,” ungkapnya.

Kuliah umum tersebut diisi dengan sesi tanya jawab untuk berdiskusi secara langsung dengan narasumber. Sesi tersebut semakin memberikan pemahaman dan tambahan pengetahuan bagi peserta kuliah umum.

Kegiatan ilmiah di Sekolah Pascasarjana Unhas  ini juga diharapkan bisa berkelanjutan dengan menghadirkan pembicara berbeda yang ahli dalam bidangnya.

*Penulis adalah Kepala Subdit Humas dan Informasi Publik Direktorat Komunikasi Universitas Hasanuddin

Komentar

Rekomendasi

Polbangtan Gowa Sinergikan Langkah dengan Gugus Tugas Covid-19 Kecamatan di Kampus II Bone

Mahasiswa Keperawatan Unhas yang Jadi Relawan Pandemi Virus Corona dapat SKS

Ditengah “Badai” COVID-19, LTT Kecamatan Mengkendek Terus Bertambah

Cegah COVID-19, Polbangtan Gowa Lakukan Desinfeksi Berkala

Aliansi Organisasi Unibos Tuntut Kebijakan Kampus Ihwal WTH

Polbangtan Gowa dan Tim Kamtibmas Desa Mappesangka Bone Lakukan Penyemprotan Desinfektan di Kampus II

Tim Satgas Unhas Bikin Pusat Informasi Covid-19

Pandemi Covid-19 Tidak Menyurutkan Semangat Petani Kecamatan Mengkendek Tana Toraja untuk Tanam Padi

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar