Akhirnya, Masyarakat Adat Bali Sepakati Warga Kampung Bugis Tinggal di Serangan

Masyarakat Adat Bali bersalaman dengan warga Kampung Bugis Serangan di hadapan Kepala Kantor BPN Denpasar Bali, Kamis, 19 September 219

Terkini.id,BaliKomunitas Masyarakat Adat Serangan Bali akhirnya menyepakati dan menerima warga Kampung Bugis Serangan, Denpasar Bali untuk berdomisili di wilayah Serangan, Denpasar.

Hal tersebut mengemuka setelah Wakil dari Kampung Bugis dan Wakil Masyakarat Adat Bali berkomitmen bersama sebagai sesama warga bangsa di depan Kepala Kantor Pertanahan Denpasar Sudarman Harja Saputra di Denapsar, Bali, Kamis 19 September 2019 kemarin.

Salah seorang utusan utusan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menjadi penghubung warga Kampung Bugis dan Pemprov Bali adalah Muchlis Patahna. Menurutnya, warga Kampung Bugis yang terdiri dari 100 persen suku Bugis itu akan menempati rumah susun yang sedang dibangun di Serangan.

“Sekitar 300 warga Kampung Bugis akan mendapat sertifikat kepemilikan lahan yang akan diterbitkan bersamaan pada Hari Agaria Nasional pada 24 September 2019. Sertifikat lahan ini atas nama Yayasan Kampung Bugis,” kata Patahna kepada makassar.terkini.id, Jumat 20 September 2019.

Sebelumnya, Sabtu 14 September 2019 lalu di pantai Jimbaran Bali, Patahna yang juga Wakil Ketua Umum KKSS itu, mempertemukan utusan warga Kampung Bugis bersama Kepala Kanwil BPN Bali Rudi Rubijaya dan Kepala Kantor Pertanahan Denpasar Sudarman Harja Saputra.

Dalam pertemuan itu, Wakil Ketua Umum BPP KKSS itu mengaku disepakati warga Kampung Bugis akan tinggal di rumah susun meskipun sampai saat ini perkara di pengadilan belum putus. Status kepemilikan lahan ini menjadi silang sengketa antara warga Kampung Bugis dengan oknum di kampung Bugis.

“Selama dua tahun terakhir, warga yang rata-rata nelayan tersebut tinggal di tenda-tenda pengungsian di pesisir pantai Serangan, akibat tergusur oleh pihak yang memenangkan gugatan di pengadilan,” terangnya.

Warga di situ kemudian menggugat balik dengan alasan bahwa lahan seluas 94 are itu sendiri adalah pemberian Raja Pemecutan untuk pelaut-pelaut Bugis yang berimigrasi ke Bali sejak abad 17.

“Berkat bantuan Pak JK dan Menteri Negara Agraria Sofyan Jalil, akhirnya warga kita mendapatkan haknya kepemilikan lahan di Serangan Bali. Apalagi, warga Kampung Bugis sendiri sudah sering menghadap Pak JK mempertanyakan nasib mereka,” tutup Patahna yang dikenal sebagai notaris di Jakarta.

Berita Terkait
Komentar
Terkini