SUDAH terlanjur akrab di telinga kita, bahwa menjadi akademisi itu tak bisa kaya, dan sebaliknya, kalau mau jadi pengusaha, tak bisa jadi profesor. Begitu juga dengan akademisi yang dianggap hanya kaya teori, tapi miskin eksekusi saat mendapat tugas di birokrasi.
Itulah mitos yang ternyata berhasil dipatahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Putra kelahiran Bugis-Makassar ini juga dianggap berhasil menggugurkan sejumlah mitos sosial, intelektual, dan birokratik yang selama ini telanjur dianggap sebagai kebenaran umum.
Mitos pertama, pengusaha sulit menjadi akademisi. Dalam banyak pandangan konvensional, pengusaha kerap dibayangkan sebagai manusia praktis, berorientasi laba, bergerak dalam kalkulasi pasar, dan jauh dari tradisi keilmuan yang sabar, metodologis, dan reflektif.
Tetapi, Amran membantah stereotip itu. Ia berhasil lulus jalur akademik secara lengkap di Universitas Hasanuddin, mulai sarjana pertanian, magister pertanian, hingga doktor ilmu pertanian. Bahkan, ia tercatat sebagai dosen ilmu pertanian di Universitas Hasanuddin.
Saat ini, Amran bukan sekadar pengusaha yang kemudian memperoleh gelar akademik. Ia adalah contoh bahwa dunia usaha dan dunia ilmu tidak harus dipertentangkan. Justru, dalam dirinya, keduanya bertemu.
- PDAM Makassar Kerahkan Tangki Air Gratis hingga 24.00 Wita, Ini Nomor Layanannya
- Jelang Munas VIII PSMTI, Dukungan Wilianto Tanta Mengalir dari Sejumlah Daerah
- Di Tengah Musim Kemarau, Pendapatan PDAM Makassar Justru Meningkat
- MLS 2026 Dorong Makassar sebagai Episentrum Kepemimpinan, Bangun Dialog dengan Pemerintah Kota
- 9.9 Special All You Can Eat di Hana Resto, Nikmati Sajian Favorit Sepuasnya Hanya Rp99.026 NET/Pax
Itulah sebabnya, rekam jejaknya dalam bidang pertanian tidak berhenti pada teori, tetapi masuk ke ranah aplikasi: teknologi, pestisida, pengendalian hama, paten, merek, izin produk, dan industrialisasi sektor pertanian.
Prestasi akademik lainnya, selain punya 6 paten/HAKI, Amran juga berhasil menulis 33 judul buku dan 23 jurnal. Termasuk, Amran mempunyai Indeks Scopus; 5
Mitos kedua, akademisi sulit menjadi kaya raya. Dalam kultur kita, akademisi sering diletakkan dalam citra asketik, yaitu, pintar, sederhana, tetapi jauh dari kemampuan membangun kekayaan. Seolah-olah ilmu dan kemakmuran adalah dua jalan yang saling berseberangan.
Amran mematahkan mitos itu dengan cara yang elegan. ia menunjukkan bahwa ilmu, bila dipadukan dengan keberanian mengambil risiko, ketekunan, inovasi, dan etos kewirausahaan, justru dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.
Jejak bisnis Amran memperlihatkan hal itu. Sebelum kembali menjadi pejabat negara, ia pernah berkarier di PTPN XIV, lalu mendirikan Tiran Group yang bergerak di berbagai sektor, termasuk perkebunan, pertambangan, perdagangan, serta pengembangan solusi pertanian.
Kesuksesan bisnis Amran juga diperlihatkan dengan memiliki 88 perusahaan yang meliputi pertambangan, perkebunan dan peternakan, perdagangan, SPBU, kawasan industri, transportasi dan distributor.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
