Terkini.id, Jakarta – Ahli Hukum Tata Negara, Refly Harun turut menanggapi perihal hasil survei yang dirilis oleh lembaga survei Indikator Politik Indonesia.
Sebagai informasi, survei yang dimaksud ialah Survei Nasional Suara Anak Muda tentang Isu-Isu Sosial Politik Bangsa.
Refly pun menanggapi Anies Baswedan yang berada di urutan pertama dalam bursa calon presiden di Pilpres 2024 mendatang versi survei tersebut.
Dalam video berjudul ‘Anies Masa Depan, Prabowo Masa Lalu’ di Channel YouTube Refly Harun, ia menilai Anies ‘ngeri-ngeri’ sedap.
“Anies Baswedan ini ngeri-ngeri sedap ya,” ujar Refly Harun, dikutip dari Sindo, Senin, 22 Maret 2021.
- Ahok Tanggapi PDIP Usung Anies di Pilgub DKI Jakarta
- Rocky Gerung Saran ke Anies Untuk Tak Maju Dalam Pilgub Jakarta
- KPU Resmi Umumkan Pemenang Pilpres 2024, Anies Baswedan: Kita Dukung Langkah Tim Hukum!
- Anies Baswedan Sebut Kabar Dirinya Maju di Pilgub Hanya Pengalihan Isu
- Cek Fakta: Benarkah Relawan Anies Baswedan Temukan Kotak Suara Tak Tersegel di Kota Makassar?
Refly Harun pun kemudian mengutarakan alasan mengapa ia menilai Anies seperti itu.
“Kenapa? Karena bagi kelompok arus kiri, dia adalah the common enemy, musuh bersama yang barangkali di antara calon-calon yang saya sebutkan enam itu, inilah calon yang paling dimusuhi sebagai orang yang dianggap akan menggerakkan arus kanan dalam politik Indonesia,” jelas Refly.
Berbeda dengan calon yang masuk dalam bursa tersebut, Refly berpendapat tidak ada yang dicurigai akan menggerakkan arus kanan dalam politik Indonesia.
Di sisi lain, calon seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bisa melejit karena faktor SBY yang di mana mempunyai sejarah dengan PDIP.
Refly kemudian menilai Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil juga tak punya pendukung fanatis dibandingkan Anies.
“Ridwan Kamil, menurut saya tidak cukup menendang kalau Ridwan Kamil maju tanpa pendukung yang kuat. Karena dibandingkan Anies Baswedan justru Ridwan Kamil lemah dari sisi fanatisme pendukung-pendukungnya. Saya tidak bicara soal Jawa Barat saja, tapi saya bicara tentang sebuah spektrum luas dalam politik Indonesia, antara kanan dan kiri, tengah, atau nasionalisme dengan islamisme,” jelasnya.
Begitupula, kata Refly, melihat Sandiaga Salahuddin Uno yang tidak mewakili kelompok apa pun.
Terlebih, usai Sandi naik ke Kabinet Indonesia Maju dan menjadi seorang Menteri.
Hal itu dinilai Refly, Sandi tidak lagi mengingatnya sebagai santri muda.
“Barangkali nanti jubah politiknya akan berubah,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
