Aspal Buton sebagai Aspal Berongga

Buku hasil adaptasi dari disertasi penulis  yang diselesaikan pada program studi Teknik Sipil Universitas Hasanuddin pada tahun 2018 lalu.

Buku ini menganalisis pengaruh penambahan bahan peremaja yang menyebabkan Asbuton (Aspal Buton) campuran panas hampar dingin, sehingga dapat dipadatkan pada suhu dingin (500C). Selain akan menemukan kinerja Asbuton campuran panas hampar dingin sebagai aspal berongga.

Menurut dosen kelahiran tahun 1985 ini,  aspal merupakan bahan utama untuk pembuatan jalan yang diperoleh dari proses fraksinasi minyak bumi dimana aspal merupakan salah satu fraksi berat dari minyak bumi.

Kenaikan harga minyak dunia yang melambung pada dekade terakhir berdampak pada kenaikan harga aspal dipasaran. Sehingga perlu dicari bahan alternatif untuk menggantikan aspal minyak.

Saat ini sedang dikembangkan penelitian mengenai pengganti aspal minyak yaitu dengan menggunakan aspal alam.

Selanjutnya perempuan kelahiran Calo, Bone ini mengatakan bahwa, bahan baku pengganti aspal minyak salah satunya dari pemanfaatan aspal alam dari Pulau Buton, atau yang biasa disebut Asbuton.

Aspal Buton (Asbuton) adalah aspal alam yang terkandung dalam deposit batuan yang terdapat di Pulau Buton dan sekitarnya. Aspal alam yang berada di Pulau Buton (Asbuton) mempunyai cadangan yang sangat besar untuk digunakan sebagai bahan pengikat pada campuran beraspal.

Cadangan Asbuton sesuai pengkajian yang dilakukan oleh Alberta Research Council pada tahun 1980-an dan divalidasi oleh Pusjatan Kementerian Pekerjaan Umum pada Tahun 2010-2013 adalah sebesar 662,960 juta ton  .

Pada bagian kedua buku ini,   disebutkan bahwa Asbuton yang berada di pulau Buton merupakan cadangan aspal alam yang sangat besar. Asbuton terbentuk secara alami akibat proses geologi, yaitu berasal dari minyak bumi yang terdorong muncul ke permukaan menyusup di antara batuan yang porus.

Dari eksplorasi yang dilakukan Alberta Research Council di daerah Lawele (Dean, 1989; Departemen Pekerjaan Umum, 1990) pada 132 titik pengeboran diperoleh hasil bahwa ketebalan Asbuton berkisar antara 9 meter sampai 45 meter atau ketebalan rata-rata 29,88 meter dengan tebal tanah penutup 0 – 17 meter atau rata-rata tebal tanah penutup 3,47 meter pada luas daerah pengaruh Asbuton 1.527.343,5 m2.

Pada bagian lain, penulis  membandingkan dengan Aspal porus adalah campuran beraspal yang didesain mempunyai porositas lebih tinggi dibandingkan jenis perkerasan yang lain, sifat poros diperoleh karena campuran aspal porus menggunakan proporsi agregat halus lebih sedikit dibanding campuran jenis yang lain.

Kandungan rongga pori dalam jumlah yang besar diharapkan menghasilkan kondisi permukaan agak kasar, sehingga akan mempunyai tingkat kekesatan yang tinggi. Selain itu pori yang tinggi diharapkan dapat berfungsi sebagai saluran drainase di dalam campuran.

Campuran aspal porus menggunakan gradasi terbuka karena aspal porus diharapkan dapat berfungsi sebagai drainase, anti slip, anti aquaplaning dan peredam kebisingan yang hanya dapat diperoleh melalui penggunaan gradasi terbuka.

Dilakukan uji gradasi terhadap standar gradasi aspal porus sehingga dapat diyakini bahwa gradasi tersebut telah memenuhi standar perencanaan untuk aspal porus

Tulisan lain pada bagian kedua yang menarik disimak  yakni tentang   bahan peremaja adalah bahan yang digunakan untuk meremajakan/melunakkan bitumen Asbuton agar bitumen memiliki karakteristik yang sesuai sebagai bahan pengikat pada campuran beraspal (Departemen Pekerjaan Umum, 2006).

Bahan peremaja yang sering digunakan pada campuran Asbuton terdiri dari 2 jenis, yaitu peremaja panas dan peremaja dingin. Peremaja panas adalah bahan peremaja yang terlebih dahulu dipanaskan sebelum dicampurkan pada campuran Asbuton, sedangkan peremaja dingin adalah bahan peremaja yang langsung dicampurkan ke campuran Asbuton tanpa melalui proses pemanasan.

Prinsip kerja bahan peremaja pada campuran asbuton adalah menggantikan minyak ringan sebagai pelarut yang hilang (teroksidasi) selama proses pencampuran panas di Aggregate Mixing Plant. Bahan peremaja juga bekerja untuk mengaktifkan bitumen yang terperangkap dalam butiran mineral asbuton agar dapat menyelimuti agregat dengan mudah dan merata (workability) pada saat pencampuran.

Bahan peremaja  mengkondisikan viscositas aspal tetap lunak pada suhu dingin. Pelunakan aspal hanya bersifat sementara, setelah dihampar dan dipadatkan bahan peremaja akan segera pecah (break) dan aspal akan kembali ke sifat-sifat semula sebagai bahan pengikat.

Bahan peremaja juga digunakan untuk meningkatkan sifat-sifat fisik asbuton didalam campuran, yaitu : meningkatkan kelengketan antara aspal dan agregat, meningkatkan elastisitas (kelenturan), meningkatkan daya tahan terhadap rutting dan stripping serta mencegah terjadinya penggumpalan pasca pencampuran.

Pada bagian ketiga buku ini penulis menguraikan parameter stabilitas yang terdiri dari stabilitas, flow dan Marshall quetiont) dan volumetrik yang terdiri dari VIM, VMA dan VFB, kadar aspal optimum yang dibutuhkan dalam campuran beraspal panas menggunakan Asbuton modifikasi adalah sebesar 6,00%.

Analisis penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran aspal porus menggunakan Asbuton campur panas hampar dingin yang mengacu pada Road Engineering Assciation of Malaysia (REAM), 2008 dan SNI 06-2489-1991 (Cara Uji Campuran Beraspal Panas dengan Metode Marshall).

Kadar aspal masing-masing parameter Marshall yang memenuhi persyaratan, dipotong secara pita sehingga diperoleh batas atas dan batas bahwa dari kadar aspal yang memenuhi seluruh persyaratan spesifikasi untuk mendapatkan kadar aspal optimum. Untuk memperoleh kadar aspal optimum yaitu berdasarkan nilai tengah dari batas kadar aspal tersebut.

Selanjutnya disebutkan alumni FT UMI ini, setelah didapatkan kadar aspal optimum (KAO) menggunakan Asbuton sebagai bahan pengikat dalam campuran Asbuton campur panas hampar dingin sebagai aspal porus yaitu sebesar 6,00% maka selanjutnya dilakukan pengujian karakteristik Marshall pada kadar aspal optimum yang diperlihatkan pada Tabel 13 dimana dilakukan dengan jumlah tumbukan 50 kali untuk setiap bidang.

Parameter yang didapatkan yaitu stabilitas dan kelenturan atau kelelehan (flow) yang menunjukkan ukuran ketahanan suatu benda uji dalam menerima beban diperoleh dari hasil analisis terhadap pengujian Marshall. Selain itu, nilai volumetrik yang terdiri rongga diantara agregat (VMA), rongga terisi aspal (VFB), dan rongga dalam campuran (VIM) juga merupakan karakteristik Marshall yang menjadi suatu parameter penting dalam campuran beraspal.

Tujuan dilakukannnya pengujian kuat tarik tidak langsung adalah untuk mengetahui kemampuan benda uji berupa Asbuton campur panas hampar dingin sebagai aspal porus dalam menerima gaya tarik setelah diberikan pembebanan terhadap arah diameteral sehingga gaya yang diberikan akan didistribusikan secara diameteral (ditarik) yang menyebabkan munculnya retak pada campuran beraspal.

Semakin besar nilai kuat tarik yang dihasilkan maka semakin tahan campuran tersebut terhadap retak pada saat menerima pembebanan. Hasil pengujian terhadap nilai kuat tarik tidak langsung asbuton campuran panas hampar dingin yang menggunakan bahan peremaja flux oil.

Pada bagian akhir buku ini, pengasuh mata kuliah “Dasar-Dasar Transportasi” dan “Rekayasa Lalulintas” ini  menyatakan bahwa ada dua hasil temuan penting yang telah didapatkan, yaitu : Pertama, Asbuton dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada Asbuton campuran panas hampar dingin sebagai aspal berongga dengan menggunakan bahan peremaja panas (flux oil).

Kedua, berdasarkan persentase capaian rata-rata kinerja Asbuton campur panas hampar dingin, maka Asbuton campuran panas hampar dingin sebagai aspal berongga dapat direkomendasikan untuk digunakan pada beban lalu lintas ringan.

Buku ini cocok dibaca bagi mahasiswa teknik sipil, kontraktor yang sering bekerjasama pemerintah serta pemerintah pusat (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat) dan pemerintah daerah (Dinas Pekerjaan Umum). Para pemerhati transportasi dan peneliti ilmu-ilmu  teknik   juga penting membaca buku langka ini karena mengulas tentang aspal berongga.

Resensi Buku Sri Gusty (Dosen FT UNIFA)

Judul : Campuran Panas Hampar Dingin Aspal Berongga

Penulis : Dr Sri Gusty, ST. MT. (Dosen Fakultas Teknik Universitas Fajar)

Penerbit : Leutika Books Yogya – CEPSIS Makassar

ISBN : 978-602-371-732-3

Tahun Terbit : 2019

Berita Terkait
Komentar
Terkini