Masuk

Bank Indonesia Umumkan Krisis, Dokter Tifa Sebut Presiden saat ini Betul-betul Meremehkan: Bisa Ditukar Tambah Kemana sih?

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Bank Indonesia melalui Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti mengumumkan saat ini dunia sedang mengalami krisis.

Menanggapi pengumunan Bank Indonesia, Dokter Tifauziah Tyasumma atau Dokter Tifa mengatakan bahwa krisis yang dialami saat ini karena presidennya betul-betul meremehkan.

Menurutnya, kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini berpotensi membuat keadaan Indonesia sama dengan krisis tahun 1998 atau bahkan lebih mengerikan dari tahun itu.

Baca Juga: Warga Minta Rumahnya Dikategorikan Rusak Berat Imbas Gempa Bumi di Cianjur, Presiden Jokowi: Ada Wasitnya!

Narasi Dokter Tifa ditulis melalui sebuah cuitan di media sosial Twitter, sebagaimana dilihat pada, Minggu 24 April 2022.

“Kondisi negara saat ini bahkan lebih mengerikan daripada krisis tahun 1998”, tulis Dokter Tifa, dikutip dari keterangan tertulisnya.

Dokter Tifa menilai keadaan saat ini diperparah karena kinerja presiden yang menurutnya tidak memikirkan solusi untuk rakyat secara maksimal.

Baca Juga: Ketidakpastian Ekonomi Global, BI Sulsel Optimalisasi Pemanfaatan Mata Uang Lokal

“Dan lebih ngeri lagi karena Presiden yang ada saat ini betul-betul underspect. Bisa tukar tambah kemana sih?”, tulisnya lagi.

Diwartakan sebelumnya, Destry Damayanti mengatakan bahwa kita saat ini sedang mengalami krisis dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti pandemic Covid-19 dan juga perang Rusia dan Ukraina.

“Saat ini kita sedang mengalami krisis yang sangat parah. Hal ini memperburuk gangguan pada rantai perdagangan dunia dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global”, kata Destry.

Dia menyampaikan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah berasal dari kebijakan normalisasi kebijakan moneter The Fed dan beberapa bank sentral lainnya menaikkan suku bunga acuan.

Baca Juga: Mengenal Rupiah Digital: Alat Pembayaran Pengganti Uang Kertas?

Sebagai respon dari tekanan inflasi yang berasal dari permintaan domestic yang terpendam, kenaikan harga komoditas, dan harga pangan akibat konflik Rusia dan Ukraina. Bahkan IMF juga mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang semula sebesar 4,4 persen menjadi 3,6 persen.

“Harga komoditas global, termasuk harga energi. Dan pangan diperkirakan akan lebih tinggi, dan hal ini juga dapat memicu tekanan inflasi secara global”, tambahnya.

Dia melanjutkan peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global akan mengakibatkan terbatasnya aliran modal ke negara-negara emerging market. Seiring dengan meningkatnya resiko capital reversal ke aset-aset safe haven, yang berpotensi memberikan tekanan lebih ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Namun kita sangat beruntung jika kita melihat dampak langsung Rusia dan Ukraina konflik ke Indonesia sebenarnya terbata. Bahkan dalam batas tertentu Indonesia mendapatkan keuntungan”, imbuhnya.

Keuntungan yang dimaksud adalah kinerja ekspor yang berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.